Siapa Boediono? (KAlian Tidak Perlu Tahu)

Senin, 18 Mei 2009


Kemarin lusa saya lihat banyak orang-orang yang kebakaran. Iya kebakaran jenggotnya. Herannya yang tidak punya jenggot pun ikut-ikutan kebakaran jenggot. Ga tau jenggot ada disebelah mana. Apa bulu ketek bisa disamakan dengan jenggot? Tapi kan jenggot tidak sebau bulu ketek. Ah ngapain sih tidak penting untuk dibahas. Saya yakin yang keteknya bau pun ogah membahas.

Semuanya merasa kalau Boediono (Itu tuh yang dicalonkan jadi cawapres ma SBY, saingannya Budi Anduk) tidak cukup pantas memegang kursi RI 2. Lagian ngapain dipegang ya Boed? Kursi mah buat didudukin. Bukan untuk dipegangin. Kalau mau dilapin biar bersih. Dasar makin hari orang-orang kian bertambah aneh. Saya sih mengira mereka ini memang sudah sentiment sejak awal pada Boediono. Apakah saya harus bilang kepada kalian semua, bangsa Indonesia kecuali SBY dan jajaran partai Demokrat, kalau Boediono itu sekolahnya di luar Nagrek (di Singaparna & Pensilmania) sampai tingkat S3? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang pada kalian semua kalau Boediono itu orangnya sabar sekali? Hingga saking sabarnya, angka kemiskinan menaik pun dia dengan santai menaikan suku bunga saat semua bank sentral menurunkan suku bunga. Padahal sumpah suku itu tidak mempengaruhi bagi tingkat kemiskinan. Kan negeri ini bilang berbeda-beda suku tapi jangan suku jebrag (artinya tanya orang Sunda). Begitu juga dengan bunga. Bunga sama sekali tidak penting bagi rakyat Indonesia. Soalnya rakyat masih setia makan dengan nasi. Bukan dengan bunga. Kecuali rakyat Indonesia disihir menjadi lebah madu semua. Sekali lagi, apakah saya harus bilang Bodieono itu orang yang sabar sekali? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus juga bilang kepada kalian, tanpa melihat suku kalian ada yang jebrag atau tidak, kalau Boediono pernah menjabat sebagai staf ahli konsultan di Pertamina ketika SBY menjabat Menteri Pertambangan dan Energi? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono pernah menjadi Direktur Operasi dan Pengendalian Moneter di Bank Indonesia? Saya kira tak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau kemarin lusa saya lihat spanduk Say No To Boediono & Say Yes To Budi Anduk di perempatan Buahbatu? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian semua, kalau Boediono ketika baru menjabat Menkeu, langkah pertamanya adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono sebenarnya tidak salah mengambil kebijakan karena ia hanya meneruskan jalur yang benar sesuai dengan Neoliberalis? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono itu saingannya Mama Lauren & Ki Joko Bodo karena banyak orang bilang dia itu orang pintar? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono dapat mengawal tata kelola ekonomi negeri ini -meski dia tidak pernah meronda & Polisi Patwal yang doyan ngawal mobil-mobil Just married- seperti selama ini dia sukses ideologo kapitalis tetap bercokol di kampus–kampus negeri ini? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono ketika menjadi Menkeu program utamanya melakukan konsolidasi fiskal dalam arti menyelamatkan fiskal supaya kuat? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, dengan bahasa indah dan mendayu-dayu syahdu kalau Boediono-lah yang mengakhiri kerjasama yang manis-manis manja dengan IMF meskipun dulu menyepakati dan anak buahnya banyak yang eks IMF? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, dengan bahasa bahsa yang sangat kasar dan membentak-bentak kalau Boediono tidak mau dijajah & ingin lepas dari penjajahan sementara perusahaan-perusahaan mintak & pertambangan asing hanya dianggap sedang berkunjung bertamu? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono didukung Gunawan Muhammad yang belum tentu Gunawan Muhammad akan mendukung kalau cawapresnya Ust. Habib Riziq atau Ustad Abu Bakar Baasyir? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Boediono bukan penjahat sebab yang menjadi penjahat adalah pelaku sistem ribawi yang dilaknat Allah -sebagai orang yang telah dijerumuskan setan dan kekal di neraka-? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau tadi saya pergi (tidak maaf) beol ke WC sambil baca koran yang ada berita Boediono-nya? Saya kira tidak perlu.

Apakah saya harus bilang kepada kalian, kalau Indonesia menjadi Neoliberalis bukan karena Boediono? Sejak dulu Indonesia sudah liberalis. Liat ajah banyak kelompok-kelompok liberal tumbuh subur di negeri ini. Dari mulai Jaringan Islam Liberal, Liberation Youth hingga Hizbut Tahrir (terj. Liberation Party). Kalau Indonesia menghambakan diri menjadi budak debt trap & kapitalis, saya kira tidak perlu.

Apalagi yang harus saya bilang kepada kalian tentang Boediono? Saya kira saya tidak perlu lagi memberi tahu. Kalian pasti sudah tahu.

2 komentar:

Lahandi mengatakan...

Drunken Monster?

Begundal Militia mengatakan...

terinspirasi:)