Pesta Democrazy

Rabu, 08 April 2009



Sudah dari sejak jam 7 pagi tadi, suara TOA dari masjid dekat rumah saya terus berkoar-koar. Bukan lantunan suara orang yang sedang tilawah atau khatib yang sedang berkhutbah tapi ajakan dari Pak RT agar warga segera hadir ke TPS. Menurut Pak RT juga, warga yang merasa namanya tidak terdaftar di DPT diminta untuk segera melapor. Saya masuk dalam daftar DPT ga y a? Semoga tidak. Hahaha…

Soalnya kalau tidak terdaftar saya akan piknik saja bareng si Revo (emangnya kalau terdaftar mau datang ke TPS? Hahaha…). Mencari kesegaran dan keindahan Bandung yang sudah beberapa waktu terakhir ini saya rasakan begitu sumpek. Tentunya bukan mencari keindahan dari moleknya wadam-wadam Jl. Tera. Da itu mah bukan indah namanya tapi garila (ket; menjijikan). Akan tetapi keindahan karena ruang-ruang publik serta pohon-pohon di Bandung kembali lenglang (Bahasa Sunda dari bersih tidak carut marut).

Sudah hampir sekitar lebih kurang 6 bulanan kota Bandung yang saya cintai ini pabalatak (ket: berantakan) oleh poster-poster caleg dan bendera-bendera partai. Hampir tiap sudut jalan, gang hingga WC umum tak urung “terkotori” oleh hal-hal yang merusak pandangan mata saya ini.

Gondok sih rasanya. Tapi ya mau gimana lagi. Namanya juga pemilu. Kalau yang dipasangnya janur kuning dimana-mana nanti dikira sedang bulan Rayagung (ket: bulan musim nikah sekitar bulan Dzulhijah). Masih untung dikira musim kawin. Bagaimana kalau dikira sedang berkabung karena yang dipasang dimana-mana itu karangan bunga. Bisa-bisa Bandung dikira kota menyeramkan banyak kuntilanaknya. Hehehe…

Berbicara tentang pemilu, saya teringat dengan pesta democrazy yang pernah saya lewati beberapa waktu yang lalu. Jumlahnya saya sendiri lupa (kesannya saya tua banget ya) tapi yang jelas saya hanya pernah datang ke TPS itu 2 kali saja. Kalau tidak salah pemilu di era akhir pemerintahan Soeharto dan pemilu setelahnya. Sedangkan untuk pemilu-pemilu seterusnya saya tidak pernah datang ke diskotik satu hari itu (baca: TPS).

Sebenarnya seru juga datang ke diskotik yang sedang menyelenggarakan democrazy party. Apalagi buat pemilih pemula seperti saya ketika tahun 1997 (kalau tidak salah). Beruntung kala itu partai masih 3 biji; PPP, Golkar, PDI. Jadi tidak begitu memusingkan untuk yang memilih. Tinggal coblos salah satu beres deh. Dan itu juga yang saya lakukan. Saya coblos 3 lembar kertas suara itu. Setiap lambing partai saya coblos semua. Jadi total saya mencoblos 9 kali. Entah kenapa saya dulu melakukan hal yang seperti itu. Seingat saya, saya ingin agar adil saja. Tak perlu milih salah satu dari 3 partai itu. Hehehe…

Kejadian seru lagi ketika pemilu setelah reformasi bergulir (kalau tidak salah tahun 1999). Ketika itu Alhamdulillah saya sudah mengerti sedikit tentang pemilu, demokrasi dan hal-hal lain disekelilingnya. So, ketika saya datang ke TPS (kebetulan TPS di depan rumah), saya tidak langsung masuk bilik suara tapi belok ke kotak suara. Sontak bapak-bapak panitia yang juga tetangga saya itu pada protes. Saya disuruh masuk bilik suara oleh mereka. Namun saya ogah mengikuti kemauan para panitia itu dengan alasan merasa sudah cukup tanpa mencoblos juga. Akhirnya karena tidak mau berdebat & juga masih banyak antrean, panitia mengijinkan saya memasukan surat suara langsung ke kotaknya. Saking keheranannya panitia lupa menodai jari saya dengan tinta. Ketika saya tanya kenapa tidak dikotori tangan saya, mereka bingung. Yo wis, dengan senyum bahagia saya melangkah balik lagi ke rumah.

Sejak saat itu saya akhirnya mulai dikenal tetangga sebagai pemuda golput (golongan putih). Maklum di lingkungan saya tidak ada yang golput secara terang-terangan seperti ini. Tapi akhirnya mereka memaklumi. Mungkin karena status saya yang kala itu masih mahasiswa. Apalagi mahasiswa abadi biasanya dikenal orang-orang yang “nerd” (hahaha…). Cuma sebenarnya saya ogah dibilang golput. Wong saya kulitnya hitam kok dibilang putih. Itu kesannya mengejek warna kulit saya. Biasanya kan kalau berkulit hitam diejek si putih. Hahaha…

Sejak dikenal golput dan kerapkali mengedarkan tulisan-tulisan tentang tidak pentingnya pemilu dalam sistem democrazy seperti sekarang ini. Akhirnya orang-orang juga tidak banyak lagi berkomentar tentang pilihan saya. Sebagian malah meminta informasi tentang berbagai hal tentang apa itu democrazy. Syukurlah. Ini memang yang saya harapkan. Sayangnya nama saya masih saja tercatut dalam daftar DPT. Padahal kata saya itu hal yang mubazir. Toh saya tidak akan pernah dating ke sana. Kalau pun datang kesana (insyallah) dalam rangka menghancurkan & mengobrak-abrik TPS (dengan catatan kalau masih dalam sistem democrazy).

Hanya saja sampai saat ini saya belum pernah melakukan hal itu. Namanya juga insyallah. Ini kan insyallah orang Sunda (hahaha…). Bukan bermaksud mengecilkan arti kata insyallah tapi ini sekedar joke saja. Seperti sebuah joke yang pernah datang kepada saya ketika Pemilu tahun 2004 akan dilaksanakan. Saat itu datang tawaran dari para middle class genit yang katanya buruh, idealis temporer, dan elitis untuk membentuk partai yang berbasis mahasiswa. Katanya oposan abadi, kok malah main di politik formal sih? Nanti kalau mereka berhasil merebut kursi kekuasaan dan jadi status quo berarti yang bakalan jadi oposannya itu anak-anak SMA dan STM dong? Sekalian saja Pramuka pun dijadikan rival? Hahaha…

Saya pikir ketika mereka melakukan itu semua maka sejatinya mereka telah menggadaikan idealisme mereka sendiri. Sebab dunia politik formal dalam bingkai democrazy itu hanyalah sebuah panggung komedi yang mengorbankan harga diri orang banyak. Kalau tidak ingin dikatakan sesat dan menyesatkan. So, akhirnya dari sejak pemilu legislatif 2004, pemilu presiden 2004, pemilu pilkada walikota Bandung, pemilu gubernur Jawa Barat dan pemilu 2009 sekarang ini saya tidak akan pernah hadir.

Bukankah itu berarti menghambat pembangunan dan kemajuan negeri ini?

Ah pertanyaan yang sangat-sangat basi. Basi sebasi umur demokrasi itu sendiri. Bagaimana tidak basi kalau democrazy sendiri ditentang oleh tokoh-tokoh di jaman sistem itu diciptakan. Dalam buku karangan Dave Robinson dan Chris Garratt (Etika for Beginners), halaman 34 & 35, Plato (428-354 SM) murid Socrates, tidak pernah memaafkan kaum demokrat yang telah membunuh gurunya (Socrates), lantaran Socrates menentang democrazy. Democrazy menurut Plato berarti kericuhan dan berkuasanya sekelompok mafia ganas dan berdarah dingin yang mudah diperalat para poli-tikus. Hal ini bisa dimaklumi, karena hanya orang orang kaya saja yang bisa bermain dalam permainan pesta democrazy ini. Rakyat hanyalah tumbal dan pelengkap penderita. Kebutuhan terhadap uang yang besar saat kampanye justru membuat munculnya mafia politik. Tak heran yang men-support adalah bandar-bandar judi dan semacamnya (ini pengakuan mantan anggota DPR).

Tapi tenang, bagi saya partai-partai itu masih ada sisi positifnya. Positifnya yaitu bisa membuat orang seperti saya ini ketawa terbahahahak-bahahahak bangetsekalipisan sekaligus membenci setengah hidup. Dan yang juga jangan dilupakan, menurut saya, kebaikan adanya partai-partai tersebut kalau mereka berusaha berubah menjadi partai yang ‘baik dan benar’. Caranya yaitu dengan memisahkan tiga huruf pertama dengan spasi sebelum tiga huruf terakhir lalu menggantik huruf ketiga dari tiga huruf pertama dengan huruf “N” (hanya orang Sunda yang mengerti maksudnya) atau menghilangkan tiga huruf pertama yang ada dalam kata “partai” maka kita akan mendapatkan apa yang selama ini kita sudah punya tapi selalu dibuang begitu aja. Hahaha…

Terakhir… Hitler punya Third Reich, Trotsky punya Fourth Internationale, dan Bush punya New World Order. Sedangkan saya? Saya punya ini:

“ Barang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), maka mereka termasuk orang-orang kafir.” (QS al Mâ'idah [5]: 44 )


“Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah”
(QS Yûsuf [12]: 40)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an-Nisa [4]: 65)

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (TQS. Al Ahzab[33]:36)

0 komentar: