
Sudah dari sejak jam 7 pagi tadi, suara TOA dari masjid dekat rumah saya terus berkoar-koar. Bukan lantunan suara orang yang sedang tilawah atau khatib yang sedang berkhutbah tapi ajakan dari Pak RT agar warga segera hadir ke TPS. Menurut Pak RT juga, warga yang merasa namanya tidak terdaftar di DPT diminta untuk segera melapor. Saya masuk dalam daftar DPT ga y a? Semoga tidak. Hahaha…
Soalnya kalau tidak terdaftar saya akan piknik saja bareng si Revo (emangnya kalau terdaftar mau datang ke TPS? Hahaha…). Mencari kesegaran dan keindahan Bandung yang sudah beberapa waktu terakhir ini saya rasakan begitu sumpek. Tentunya bukan mencari keindahan dari moleknya wadam-wadam Jl. Tera. Da itu mah bukan indah namanya tapi garila (ket; menjijikan). Akan tetapi keindahan karena ruang-ruang publik serta pohon-pohon di Bandung kembali lenglang (Bahasa Sunda dari bersih tidak carut marut).
Sudah hampir sekitar lebih kurang 6 bulanan kota Bandung yang saya cintai ini pabalatak (ket: berantakan) oleh poster-poster caleg dan bendera-bendera partai. Hampir tiap sudut jalan, gang hingga WC umum tak urung “terkotori” oleh hal-hal yang merusak pandangan mata saya ini.
Gondok sih rasanya. Tapi ya mau gimana lagi. Namanya juga pemilu. Kalau yang dipasangnya janur kuning dimana-mana nanti dikira sedang bulan Rayagung (ket: bulan musim nikah sekitar bulan Dzulhijah). Masih untung dikira musim kawin. Bagaimana kalau dikira sedang berkabung karena yang dipasang dimana-mana itu karangan bunga. Bisa-bisa Bandung dikira kota menyeramkan banyak kuntilanaknya. Hehehe…
Berbicara tentang pemilu, saya teringat dengan pesta democrazy yang pernah saya lewati beberapa waktu yang lalu. Jumlahnya saya sendiri lupa (kesannya saya tua banget ya) tapi yang jelas saya hanya pernah datang ke TPS itu 2 kali saja. Kalau tidak salah pemilu di era akhir pemerintahan Soeharto dan pemilu setelahnya. Sedangkan untuk pemilu-pemilu seterusnya saya tidak pernah datang ke diskotik satu hari itu (baca: TPS).
Sebenarnya seru juga datang ke diskotik yang sedang menyelenggarakan democrazy party. Apalagi buat pemilih pemula seperti saya ketika tahun 1997 (kalau tidak salah). Beruntung kala itu partai masih 3 biji; PPP, Golkar, PDI. Jadi tidak begitu memusingkan untuk yang memilih. Tinggal coblos salah satu beres deh. Dan itu juga yang saya lakukan. Saya coblos 3 lembar kertas suara itu. Setiap lambing partai saya coblos semua. Jadi total saya mencoblos 9 kali. Entah kenapa saya dulu melakukan hal yang seperti itu. Seingat saya, saya ingin agar adil saja. Tak perlu milih salah satu dari 3 partai itu. Hehehe…
Kejadian seru lagi ketika pemilu setelah reformasi bergulir (kalau tidak salah tahun 1999). Ketika itu Alhamdulillah saya sudah mengerti sedikit tentang pemilu, demokrasi dan hal-hal lain disekelilingnya. So, ketika saya datang ke TPS (kebetulan TPS di depan rumah), saya tidak langsung masuk bilik suara tapi belok ke kotak suara. Sontak bapak-bapak panitia yang juga tetangga saya itu pada protes. Saya disuruh masuk bilik suara oleh mereka. Namun saya ogah mengikuti kemauan para panitia itu dengan alasan merasa sudah cukup tanpa mencoblos juga. Akhirnya karena tidak mau berdebat & juga masih banyak antrean, panitia mengijinkan saya memasukan surat suara langsung ke kotaknya. Saking keheranannya panitia lupa menodai jari saya dengan tinta. Ketika saya tanya kenapa tidak dikotori tangan saya, mereka bingung. Yo wis, dengan senyum bahagia saya melangkah balik lagi ke rumah.
Sejak saat itu saya akhirnya mulai dikenal tetangga sebagai pemuda golput (golongan putih). Maklum di lingkungan saya tidak ada yang golput secara terang-terangan seperti ini. Tapi akhirnya mereka memaklumi. Mungkin karena status saya yang kala itu masih mahasiswa. Apalagi mahasiswa abadi biasanya dikenal orang-orang yang “nerd” (hahaha…). Cuma sebenarnya saya ogah dibilang golput. Wong saya kulitnya hitam kok dibilang putih. Itu kesannya mengejek warna kulit saya. Biasanya kan kalau berkulit hitam diejek si putih. Hahaha…
Sejak dikenal golput dan kerapkali mengedarkan tulisan-tulisan tentang tidak pentingnya pemilu dalam sistem democrazy seperti sekarang ini. Akhirnya orang-orang juga tidak banyak lagi berkomentar tentang pilihan saya. Sebagian malah meminta informasi tentang berbagai hal tentang apa itu democrazy. Syukurlah. Ini memang yang saya harapkan. Sayangnya nama saya masih saja tercatut dalam daftar DPT. Padahal kata saya itu hal yang mubazir. Toh saya tidak akan pernah dating ke sana. Kalau pun datang kesana (insyallah) dalam rangka menghancurkan & mengobrak-abrik TPS (dengan catatan kalau masih dalam sistem democrazy).
Hanya saja sampai saat ini saya belum pernah melakukan hal itu. Namanya juga insyallah. Ini kan insyallah orang Sunda (hahaha…). Bukan bermaksud mengecilkan arti kata insyallah tapi ini sekedar joke saja. Seperti sebuah joke yang pernah datang kepada saya ketika Pemilu tahun 2004 akan dilaksanakan. Saat itu datang tawaran dari para middle class genit yang katanya buruh, idealis temporer, dan elitis untuk membentuk partai yang berbasis mahasiswa. Katanya oposan abadi, kok malah main di politik formal sih? Nanti kalau mereka berhasil merebut kursi kekuasaan dan jadi status quo berarti yang bakalan jadi oposannya itu anak-anak SMA dan STM dong? Sekalian saja Pramuka pun dijadikan rival? Hahaha…
Saya pikir ketika mereka melakukan itu semua maka sejatinya mereka telah menggadaikan idealisme mereka sendiri. Sebab dunia politik formal dalam bingkai democrazy itu hanyalah sebuah panggung komedi yang mengorbankan harga diri orang banyak. Kalau tidak ingin dikatakan sesat dan menyesatkan. So, akhirnya dari sejak pemilu legislatif 2004, pemilu presiden 2004, pemilu pilkada walikota Bandung, pemilu gubernur Jawa Barat dan pemilu 2009 sekarang ini saya tidak akan pernah hadir.
Bukankah itu berarti menghambat pembangunan dan kemajuan negeri ini?
Ah pertanyaan yang sangat-sangat basi. Basi sebasi umur demokrasi itu sendiri. Bagaimana tidak basi kalau democrazy sendiri ditentang oleh tokoh-tokoh di jaman sistem itu diciptakan. Dalam buku karangan Dave Robinson dan Chris Garratt (Etika for Beginners), halaman 34 & 35, Plato (428-354 SM) murid Socrates, tidak pernah memaafkan kaum demokrat yang telah membunuh gurunya (Socrates), lantaran Socrates menentang democrazy. Democrazy menurut Plato berarti kericuhan dan berkuasanya sekelompok mafia ganas dan berdarah dingin yang mudah diperalat para poli-tikus. Hal ini bisa dimaklumi, karena hanya orang orang kaya saja yang bisa bermain dalam permainan pesta democrazy ini. Rakyat hanyalah tumbal dan pelengkap penderita. Kebutuhan terhadap uang yang besar saat kampanye justru membuat munculnya mafia politik. Tak heran yang men-support adalah bandar-bandar judi dan semacamnya (ini pengakuan mantan anggota DPR).
Tapi tenang, bagi saya partai-partai itu masih ada sisi positifnya. Positifnya yaitu bisa membuat orang seperti saya ini ketawa terbahahahak-bahahahak bangetsekalipisan sekaligus membenci setengah hidup. Dan yang juga jangan dilupakan, menurut saya, kebaikan adanya partai-partai tersebut kalau mereka berusaha berubah menjadi partai yang ‘baik dan benar’. Caranya yaitu dengan memisahkan tiga huruf pertama dengan spasi sebelum tiga huruf terakhir lalu menggantik huruf ketiga dari tiga huruf pertama dengan huruf “N” (hanya orang Sunda yang mengerti maksudnya) atau menghilangkan tiga huruf pertama yang ada dalam kata “partai” maka kita akan mendapatkan apa yang selama ini kita sudah punya tapi selalu dibuang begitu aja. Hahaha…
Terakhir… Hitler punya Third Reich, Trotsky punya Fourth Internationale, dan Bush punya New World Order. Sedangkan saya? Saya punya ini:
“ Barang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), maka mereka termasuk orang-orang kafir.” (QS al Mâ'idah [5]: 44 )
“Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah” (QS Yûsuf [12]: 40)
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an-Nisa [4]: 65)
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (TQS. Al Ahzab[33]:36)
Pesta Democrazy
Diposting oleh Begundal Militia di 16.40 0 komentar
Hijrah ke London (Goblog 20)

Di sebuah milis yang saya ikuti, tersebutlah beberapa anggota milis yang begitu bersimpati akan kehadiran SBY di London dalam pertemuan Group of Twenty (G20) tahun ini. Malahan ada orang yang sampai begitu menyanjungnya seakan dialah orang No. 1 dalam tim sukses kampanye SBY di Pemilu 2009 nanti. Kebanggaannya itu tak lebih karena SBY ditelpon secara privat oleh Barrack Obama & Gordon Brown untuk hadir ke London. Selain itu, beberapa orang yang lain, menyatakan kebanggaannya karena para menteri keuangan serta gubernur bank sentral negara-negara G20 mendukung dengan penuh usulan yang Indonesia sampaikan. Diluar semua itu, ada juga yang merasa bangga karena SBY masih sempat menghadiri forum yang telah dilaksanakan sejak tahun 1999 ini. Padahal ia tengah berkampanye ria. Namun yang paling lucu adalah alasan bangga kepada SBY karena SBY berani menyaingi Angela Merkel (Kanselir Jerman), Sarkozy (Presiden Perancis), dan beberapa pemimpin negara lain dalam penggunaan bahasa asal negaranya masing-masing.
Saya sendiri heran kenapa saya justru geli dengan hal seperti itu. Ataukah selera humor saya memang sedikit berbeda dengan orang lain? Perasaan, selama ini selera humor saya masih seperti kebanyakan orang dech. Menurut saya, Komeng itu lucu banget. Apalagi kalau sudah dipadupadankan dengan Sule, Adul, dan Olga. Dijamin bisa sakit perut ini seharian melihat tingkah ngocol sarkas mereka. Ya kalau pun saya beberapa kali terlihat tersenyum melihat para penderita schizophrenia itu kan lain ceritanya. Semua orang juga akan tersenyum kalau melihat tingkah sebagian orang tanpa beban tadi a.k.a schizophrenia yang selalu always nyengir everyday. Dan sialnya, bagi saya kepergian hijrah para pemimpin Negara G20 -yang tanpa beban & rasa bersalah- ke London merupakan manifesto dari kelucuan tingkat tinggi yang tiada tara. Hehehe…
By the way, mendengar kata “hijrah ke London” saya seakan diingatkan akan sesuatu yang begitu akrab di telinga saya Rasanya seperti baru kemarin saya mendengarnya namun sumpah saya lupa hal apa itu. Apa ya???
Oh yeah! Saya ingat sekarang. The Changcuters!!!
Ya! Hijrah ke London adalah salah satu single band bernama The Changcuters. Band asal Bandung yang sedang happening ini memang terkenal dengan liriknya yang sedikit bodor (baca: funny). Seperti halnya lirik Hijrah ke London ini. Isinya bercerita tentang sepasang kekasih yang melakukan hubungan jarak jauh. Keduanya terpisah oleh kondisi geografis (Si Cewek di London sedangkan si Cowok di Indonesia). Suatu saat ketika rasa rindu memuncak, si Cowo menginginkan pergi ke London untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Sekedar mendekapnya dan menghabiskan hari bersama yayang-nya. Khas steoreotype kisah kasih remaja “sakit” masa kini.
Akan tetapi saya tidak akan mengungkapkan itu semua. Sedikit pun saya tidak akan mengurai The Changcuters. Tidak pula tentang kisah kasih percintaan yang haram itu (bagi saya pacaran sebelum nikah itu haram hukumnya). Saya hanya mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan si Cowok dengan para pemimpin G20 adalah sesuatu yang ternyata tidak jauh berbeda pada esensinya. Kesamaan mereka adalah berharap bahwa dengan berada di London-lah rasa “sakit” itu akan sirna mereka dan diganti dengan surga dunia. Benar gitu?
Sebelum mengatakan benar atau salah, sebaiknya dipahami dulu makna dari kata hijrah itu sendiri. Menurut saya yang orowodol kampring bangetsekalipisan ini, hijrah bermakna perpindahan dari sesuatu keadaan yang buruk ke dalam keadaan yang lebih baik (From Dark To Light kalau R.A Kartini bilang). Secara kasar hijrah bisa disepertikan bak seorang yang dahulunya seorang pemabuk akhirnya menghentikan kebiasaanya itu. Atau bisa juga seperti seorang yang selalu gagal tes karena tidak pernah belajar kemudian rajin belajar karena berkeinginan lulus dalam tes yang diikutinya. Lebih dahsyat & hebat lagi hijrah itu seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat ketika pindah dari Mekkah ke Madinah untuk dapat merubah seluruh kehidupan mereka menjadi kehidupan yang lebih baik. Lebih menentramkan jiwa-jiwa mereka serta lebih manis & indah rasanya.
Pun ternyata harapan “hijrah” tersebut tidaklah jauh berbeda dengan apa yang diimpikan delegasi-delegasi yang hadir di The London Summit 1-2 April 2009 kemarin (USA, Argentina, Australia, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Inggris, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Uni Eropa, dan termasuk SBY dari Indonesia). Terlebih ketika carut marut perekonomian semakin memperosokan negeri-negeri mereka dalam lubang yang penuh kotoran. Bayangkan saja, efek krisis keuangan dunia saat ini menyebabkan tingkat pengangguran semakin meningkat drastis. Di USA pengangguran pada Januari 2009 telah mencapai 8,1%. Sedangkan angka pengangguran rata-rata di kawasan Uni Eropa mencapai 8,2%. Spanyol dan Irlandia bahkan mencatat angka pengangguran lebih tinggi lagi sebesar masing-masing 14,8% dan 10,4%. Belum lagi laju perekonomian dunia yang diperkirakan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam 60 tahun terakhir, sebesar minus 0,5% hingga minus 1% pada 2009.
Kalaulah fakta tersebut terjadi pada diri saya & negeri yang pimpin (ngayal dikit nih) tentunya saya pun akan segera “hijrah” agar saya tidak semakin melarat. Siapa sih yang ingin hidupnya melarat dan tidak jelas masa depan? Maka tak heran juga kemudian negara-negara yang tergabung dalam G20 itu pun berkeinginan untuk “hijrah”. Beberapa detail keinginan “hijrahnya” itu adalah; penegasan untuk menghindari proteksionisme, komitmen kebijakan stimulus fiskal, dan membentuk sebuah reformasi sistem keuangan global baru bahkan kalau perlu lembaga-lembaga keuangan warisan Bretton Woods. Bonusnya adalah menggantikan dominasi mata uang dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang perdagangan dunia yang faktanya hanya menguntungkan negara adidaya tersebut saja.
Namun menurut saya “hijrah” yang mereka lakukan tak lebih dari sekedar perubahan kosmetik saja. Dengan kata lain itu hanya perubahan dari sisi tampilan luar saja. Yang tadinya memakai foundation sekarang pakai shimmer powder. Yang tadinya menggunakan eye shadow sekarang beralih ke blush on. Yang tadinya menggariskan eye liner di bawah mata sekarang cukup hanya memodifikasikan maskara. Wedew… kok eike kayak wadam Be A Man aja nih. Pakai cerita tetek bengek merias segala. Ih rumpie dech eike……
Balik lagi ke perubahan kosmetik. Apa yang dilakukan negara-negara G20 memang tidaklah berbeda dengan mengganti gincu di muka lalu ditaburi bedak Sari Pohaci. Untuk masalah proteksionisme saja, agenda ini sebenarnya hanya perpanjangan tangan WTO untuk mengeruk kekayaan alam negara berkembang. Liberalisasi investasi, perdagangan dan keuangan (pasar bebas) yang dititikberatkan dalam masalah proteksionisme ini sejatinya malah akan menimbulkan; 1) Ketergantungan yang sangat besar terhadap pasar internasional, yang pada saat krisis ini menyebabkan pertanian di berbagai negara kolaps; 2) Eksploitasi secara besar-besaran sumber daya perikanan negara-negara berkembang 3) Subsidi domestik dan ekspor yang tidak adil dan merusak pasar domestik (terutama negara miskin dan berkembang); 4) Keuntungan sejumlah perusahaan transnasional besar pertanian, pemerintah negara sponsornya, serta spekulator di pasar internasional pangan dan pertanian.
Demikian pula dengan “celoteh” terciptanya kebijakan stimulus bersama. Agenda yang biasanya berbentuk “pemicu” seperti pemberian insentif bagi penanaman modal, pembebasan pajak dan keringanan tarif bea masuk justru pada kenyataannya malah merugikan perekonomian negara-negara berkembang. Konsep ini tidak berkontribusi langsung terhadap pekerja dan masyarakat miskin. Stimulus hanya berkontribusi terhadap para pelaku usaha, yang itu pun tidak akan bisa langsung diharapkan apalagi dalam krisis global seperti seakarang ini. Kebijakan “stimulus” hanya lagu lama yang diciptakan negara-negara donor kaya (baca: para kapitalis) yang ingin untung besar ats usahanya dengan cara mempraktekan trik-trik ilmu ekonomi orowodol; berusaha sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya (tentunya tanpa peduli akan nasib orang lain).
Sedangkan usaha untuk mereformasi IMF dan Bank Dunia sebenarnya bukanlah sebuah jalan keluar. Sebab dua lembaga tersebut sejak awal beroperasi memang disesuaikan dengan selera negara-negara kaya yang menjadi pemilik saham mayoritasnya. Institusi finansial ini merupakan pengejawantahan ideologi kapitalisme-neoliberal yang perannya mereduksi makna pembangunan hanya pada pertumbuhan ekonomi semata. Dengan agenda ini justru semakin meyakinkan bahwa Bank Dunia dan IMF akan kembali berperan sebagai drakula yang menghisap kekayaan negara-negara berkembang. Sudah lebih dari 60 tahun keberadaan lembaga-lembaga tersebut berdiri, namun jumlah penduduk miskin terus bertambah dan kesenjangan antara negara kaya dengan negara miskin semakin dalam, serta kerusakan lingkungan semakin meningkat. Bayangkan saja, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri Indonesia menunjukkan tren yang meningkat. Sejak awal masa pemerintahan SBY di tahun 2005 sampai dengan September 2008 total pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp 277 triliun. Sedangkan total penarikan pinjaman luar negeri baru dari tahun 2005 sampai dengan September 2008 sebesar Rp 101,9 triliun.
Walhasil, menurut saya The London Summit ini tidak lebih dari sebuah kesia-sian belaka. Ini hanya sebagai sebuah bentuk lain dari lukisan yang memperlihatkan betapa patuhnya negara-negara berkemabng kepada keinginan para kapitalis (negara-negara seperti Amerika Serikat & the gank) ketimbang pada rakyatnya. Usaha negara-negara G20 untuk “hijrah” sejatinya tidak akan pernah tercapai sampai kapan pun apabila paradigma penyelesaian krisisnya masih ortodok seperti itu. Meskipun berdalih bahwa pertemuan kemarin adalah usaha untuk menciptakan suatu tatanan sistem ekonomi baru namun apa yang dilakukan tidaklah seprogresif yang didengungkan.
Jujur sebenarnya saya ingin memberikan acungan jempol bagi keinginan negara-negara G20 untuk berubah menuju yang lebih baik. Akan tetapi selama usaha perubahan tersebut hanya sebatas perubahan artifisial saja, maka layakkah saya mengacungkan jempol saya?
Inilah yang menjadi tanda tanya besar. Seserius apakah mereka untuk melakukan “hijrah”? Apakah sama seperti halnya ketika seorang suami yang sedang dilanda rindu yang teramat sangat kepada istri & anaknya? Soalnya yang saya bayangkan ketika seorang suami begitu rindu pada anak & istrinya, tentu dengan segala upaya dia akan lakukan agar dapat bertemu dengan keluarganya itu. Sekalipun banyak halangan yang merintanginya. Sikap hanya mengatakan kangen atau rindu –padahal mampu & hal tersebut baik baginya- namun tidak berbuat untuk bertemu dengan anak istrinya tentu perlu diberikan tanda tanya besar. Jangan-jangan itu sekedar lip service karena dia telah mempunyai selingkuhan atau memang ingin pergi dari tanggung jawab. Inilah saatnya Tim Termehek-Mehek Trans TV datang. Hahaha...
So, sekali lagi keseriusan negara-negara G20 memang patut dipertanyakan. Bagi saya ketika mereka masih belum melakukan hal-hal ini; 1) Mengkoreksi total konsep mekanisme pasar, 2) Menggantikan pasar dengan ekonomi perencanaan yang menuntut peran langsung negara dalam melibatkan rakyatnya, 3) Produksi yang tidak lagi terkonsentrasi pada segelintir individu dan korporasi, 4) Pengelolaan sumber daya alam yang konsern terhadap aspek sosial-ekologi serta tidak berorientasi pada kepentingan Negara kapitalisme, 5) Penghentian utang baru, 7) Mengganti mata uang berlandaskan standar emas atau perak logam, 8) Menutup semua kasino finansial [bursa saham, investasi perbankan atau pintu-pintu lain yang menjual asset-asset beracun financial], 9) Ekonomi yang berdasarkan manufaktur yang real, 10) Melakukan investasi pada proyek-proyek nyata dan jangka panjang di dalam negeri bukan pada aset keuangan yang menganggur di luar negeri, 11) Memerangi kemiskinan sebagai prioritas, 12) Penerapan sistem ekonomi Islam secara total, maka jangan sekalipun berharap “HIJRAH” yang bermakna From Dark To Light tersebut akan terjadi. Salah-salah G-20 yang merupakan kependekan dari Group 20 bakal berubah kepanjangannya menjadi Goblog (pangkat) 20 alias goblog yang tidak tanggung-tanggung goblognya. Dengan kata lain saking begitu goblognya yang tidak goblog menjadi goblog, yang goblog menjadi makin goblog dan negara-negara goblog semakin tergoblog-goblog dalam kegoblogannya. GOBLOG!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 18.11 0 komentar
Penguat-Penguat Jihad Fii Sabilillah

Jihad islam bukanlah suatu gerakan sporadis yang kemudian diiringi dengan kevakuman yang panjang atau gejolak sesaat yang diikuti dengan kediaman yang lama ataupun sebuah revolusi berdarah yang selanjutnya disusul dengan kecondongan kepada hubbun dunya (cinta duniawi) ketika gerakan ini mengalami kegagalan dikarenakan pelakunya telah putus asa dan patah semangat. Tetapi jihad di jalan Allah adalah ibadah yang senantiasa akan ada keberlangsungannya sampai hari kiamat, yang memiliki faktor-faktor penguat yang menjaga keeksistensiannya.
Dan faktor utama yang menjadi landasan bagi tegaknya jihad adalah adanya lelaki-lelaki mukmin yang mampu menjaga keeksisitensian jihad dengan usahanya dan tentunya atas perlindungan Allah. Ini dikarenakan jihad bukankanlah perang sesaat yang tujuannya hanya menang semata, tapi lebih dari itu adalah membawa misi dakwah islam kepada seluruh manusia sehingga tegaklah hukum Allah di muka bumi ini.
Selain faktor utama tadi, ada faktor penguat lain untuk menjaga keeksistensian jihad; yaitu: I. Penguat jihad maknawi: 1. Kekuatan iman; yang meliputi: a. hati yang selalu dipenuhi oleh keimanan. Dengan memiliki hati yang dipenuhi oleh keimanan yang kuat dan keyakinan yang mantap kepada Allah Yang Maha Berkuasa atas dunia ini dan isinya beserta kajadian-kejadiannya, maka seorang mujahid akan mampu terjuan ke kancah jihad tanpa rasa bimbang dan takut. Dan dengan hati yang seperti inilah bantuan, pertolongan serta kemenangan dari Allah akan datang. Allah berfirman;
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath:18-19)
Rasulullah bersabda;
”Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (H.R. Ibnu majah)
b. Akal yang diisi oleh ilmu akal yang diisi oleh ilmu yang dalam dalam memahami karakter ibadah jihad akan menjadikan para mujahid menjadi matang dan mampu dalam menjalankan ibadah jihad tanpa mampu dikuasai hawa nafsu dan syahwat. Allah berfirman :
“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad:14)
c. jiwa yang selalu berhubungan dengan Allah.
Seorang mujahid akan selalu siap berkorban dalam melaksanakan ibadah jihadnya dengan tanpa sedikitpun memberatkan dirinya, ketika jiwanya senantiasa berhubungan dengan Allah, mengharap keridlaan-Nya, berjumpa dengan-Nya, dan selalu memandang jannah-Nya. Sebagaimana firman Allah :
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:23-24)
2. Kesatuan barisan; yang meliputi:
a. kekuatan rabithah (hubungan)
kekuatan rabithah adalah sebuah persaudaraaan yang dilandasi atas kekuatan keimanan dan keyakinan yang mantap terhadap dinul islam sesuai kitabullah dan sunnah rasul-Nya, serta mahabbah rabbaniyah yang melandaskan kecintaan dan kebencian karena Allah. Sebagaimana firman Allah :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran:103)
Dan sabda Rasulullah:
”orang mukmin satu dengan yang lain adalah seperti bangunan yang tersusun kokoh, yang mana sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (H.R. Bukhori dan Muslim)
b. saling mempercayai
saling mempercayai antara mujahidin, baik bawahan maupun pimpinannya, tanpa prasangka dan rasa curiga yang dicampakkan syetan ke dalam hati mereka agar saling mencela dan menghasut sehingga terjadi perpecahan. Ketika hal tersebut terwujud, maka akan menjadi benteng kokoh yang dapat merontokkan segala makar yang dilancarkan oleh musuh-musuh, sehingga jama’ah akan berjalan. Pasukan akan maju dengan langkah yang mantap di atas jalan yang keras dan terjal sekalipun. Ini sebagaimana kesanggupan Abu Bakar, Umar, dan para shahabat lainnya ketika dimintai pendapat oleh Rasulullah perihal kesiapan dalam perang badar. Tidak seperti perkataan Bani Israil kepada Musa, “Pergilah kamu bersama Rabmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”(al-maidah:24)
c. KetaatanAdalah sebuah keharusan untuk taat kepada Allah, rasul-Nya, dan para pemimpin islam dengan menjadikan syareat islam sebagai aturan hidup serta melaksanakan semua yang ditetapkan pimpinan dengan tuntas, ringan, dan sukses. Sebagaimana firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’:59)
Dan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam;
“Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan, maka dia akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki pembelaan. Dan barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada ikatan bai’at di lehernya, maka dia matinya seperti matinya orang jahiliyah.” (H.R. Muslim)
3. Ta’awun (tolong-menolong); yang meliputi:
a. pendapat,
b. perencanaan,
c. pelaksanaan.
Tatkala terjadi tukar pendapat, saling menasehati, diskusi dan musyawarah bersama pakarnya, akan memberikan bekal yang positif dalam hal informasi dan data sehingga menambah wawasan dan akhirnya tepat dalam menentukan program dan tujuan dalam sebuah misi. Allah berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah:71)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal:60)
sabda Rasulullah:
“Barangsiapa yang membantu (menyelesaikan) hajat saudaranya, maka Allah akan membantu (menyelesaikan) hajatnya.”(H.R Abi Dunya)
4. Sabar; yang meliputi:
a. sabar dalam menjalankan ketaatan.
b. sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.
c. sabar dalam menghadapi cobaan.
Rasulullah bersabda:“Sabar itu ada tiga macam; Pertama sabar dalam menghadapi musibah, dua; sabar dalam menghadapi ketaatan, tiga; sabar dalam menghadapi maksiat. Barang siapa yang bersabar menghadapi musibah dan menjalankan ketabahan, maka Allah akan menetapkan baginya 300 derajat, jarak antara dua derajat sejauh jarak antara langit dan bumi. Dan barang siapa yang bersabar dalam menjalankan ketaatan, mska Allah akan menetapkan baginya 600 derajat, jarak antara dua derajat tersebut sejauh jarak antara permukaan bumi sampai ke batas akhirnya. Dan barang siapa sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, maka Allah akan menetapkan baginya 900 derajat, jarak antara dua derajat sejauh antara permukaan bumi sampai ke ujung arsy dua kalinya." (H.R. Ibnu abi Dunya)
Sabar dengan ketiga macamnya merupakan satu kekuatan dalam iman yang dapat mendatangkan kemenangan dan kesuksesan. ini dikarenakan pelaku kesabaran selalu hidup dalam ketaatan, menjauhkan dari kemaksiatan, dan selalu berusaha bersabar dalam menghadapi musibah serta cobaan hidup, terutama dalam melaksanakan ibadah jihad.
II. Penguat jihad madi (materi).
1. Fisik yang layak (kesamaptaan jasmani). Meliputi:
a. kekuatan otot.
b. cekatan dan gesit.
c. sigap dan selalu semangat.
2. Ketrampilan perang. Meliputi:
a. taktik perang.
b. macam-macam perang.
c. macam-macam senjata.
3. Strategi perang. Meliputi;
a. spesifikasi target.
b. taktik yang matang.
c. pelaksanaan yang tuntas.
4. persenjataan perang.
Meliputi:
a. persenjataan darat.
b. persenjataan laut.
c. persenjataan udara.
Demikian pembahasan penguat-penguat jihad fie sabilillah, semoga kita diberi kemampuan dan kekuatan oleh Allah untuk hal ini. Amien.
Diposting oleh Begundal Militia di 11.04 0 komentar
Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin

Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.
Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.
Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.
Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.
Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.
Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".
Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :
“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).
Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).
Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.”
Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap dari keberatan mereka.
Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.
Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.
Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah didapat.
Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini memang indah kedengaran.
Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.
Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.
Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.
Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.
Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu membersihkan, justru ikut terkena kotoran.
Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak tersingkir, dimusuhi atau makan hati.
Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal politik.
Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli besi.
Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul ‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.
Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat yang mempunyai kualitas lokal.
Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak sekapasitas dengannya.
Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.
Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.
Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, moral dan perasaan.
Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan Tuhan-tuhan lainnya. (Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil Ibaad).
[Tulisan DR. Daud Rasyid]
Diposting oleh Begundal Militia di 11.01 0 komentar
Pasar Baroeweg

Sudah beberapa minggu saya selalu keluar masuk Pasar Baru Bandung. Meskipun sebenarnya saya paling enggan kalau sudah diajak kesana. Soalnya sejak dulu -hingga sekarang- saya memang tidak pernah suka dengan suasana yang crowded. Semakin lama saya berada disana pandangan mata saya seperti terjadi sebuah gempa. Kepala rasanya pusing seperti mau pingsan. Namun karena kebutuhan agar dapur tetap ngebul saya paksakan diri saya untuk masuk dalam “neraka” dunia ini. Fuihh….
Saya kira kalau bulan-bulan seperti sekarang Pasar Baru tidaklah sepenuh ketika bulan Ramadhan tiba. Ternyata dugaan saya meleset. Pasar yang didirikan Belanda sejak tahun 1906 ini tetap penuh oleh pengunjung. Walaupun memang tidak sedahsyat ketika bulan shaum namun kepadatannya sukses membuat kepala saya pusing.
Hanya ada sesuatu yang menggelitik otak saya. Ternyata Pasar Baru sekarang memiliki aroma yang berbeda. Biasanya yang saya tahu kalau masuk sebuah pasar khususnya di Bandung kita akan familiar dengan kosakata berdialek Sunda namun saat ini Nampak berbeda. Ada aroma khas Melayu disana. Sekaligus pula perwujudan orang-orang Melayu yang berseliweran dari mulai Lantai Dasar hingga lantai 7. Tak ayal istilah Mak Cik, Pak Cik begitu sering dilafazkan oleh beberapa pedagang disana. Sebagian pedagang lain begitu fasih dengan logat Malaysia-nya. Bahkan beberapa kios dengan lugas menempelkan kertas besar bertulisan “Menerima Ringgit Malaysia”.
Ow, ternyata Pasar Baru sudah menjelma sebagai sebuah pasar internasional. Menurut data yang saya dapat, tak kurang dari 8.000 orang Malaysia setiap bulannya datang mengunjungi Pasar Baru. Ini baru orang Malaysia saja. Belum orang Singapura & Thailand yang disinyalir kerap berkunjung ke Pasar Baru. Bahkan di akhir tahun, bulan Desember, pengunjung pasar ini dapat meningkat sebanyak 2 kali lipat. Dengan asumsi setiap kali berbelanja 1 keluarga menghabiskan 10 juta rupiah/hari. Maka tak kurang dari 80.000.000.000 rupiah bergulir hanya dari pengunjung yang notabene orang Malaysia. Ditambah wisatawan asing lainnya anggap lah menjadi 100.000.000.000 rupiah.
Sayangnya potensi pasar yang menguatkan perekonomian kerakyatan ini dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Jangankan diberikan subsidi, diberikan promosi agar banyak pengunjung yang dapatang pun tidak pernah dilakukan pemerintah. Para pengunjung yang berasal dari Malaysia umumnya mengetahui wisata belanja ini dari mulut ke mulut atau dari beberapa situs internet yang menawarkan paket wisata PP Bandung Kuala Lumpur sebesar 5 juta dalam 3 hari.
Yang ada pemerintah malah memberikan subsidi kepada para konglomerat sebesar 72 trilyun. Sebelumnya melalui BLBI sejumlah sekitar 400 trilyun. Belum lagi potongan hutang dan bunganya, subsidi kurs murah untuk melunasi hutang dalam mata uang asing, dan penyuntikan dana segar murah berupa rekapitalisasi bank. Semua begitu mudah diberikan pada para konglomerat itu. Sedangkan bagi kebanyakan rakyat yang berusaha di sektor perdagangan menengah ke bawah ini tidak dapat menikmati bantuan itu. Padahal semua sudah mahfum bagaimana sepak terjang para konglomerat serta dampaknya terhadap negeri ini. Yang ada mereka malah mangkir dari kewajiban serta semakin memperosokan negeri ini dalam kungkungan hutang yang tak terhenti.
Ironisnya, masih saja ada sebagian pakar ekonomi serta pejabat-pejabat negeri ini yang mempercayai bahwa melindungi kepentingan konglomerat adalah sama dengan melindungi aset negara karena berkaitan dengan lapangan kerja dan pemulihan ekonomi. Bagi mereka pemberian subsidi bagi golongan menengah ke bawah dengan menggunakan APBN merupakan hal yang tidak sehat atau lebih kasarnya penyakit yang kalau dibiarkan menggerogoti kesehatan perekonomian Indonesia. Demikian yang selalu mereka klaim sesuai dengan teori ekonomi konvensional liberal yang selama ini mereka pelajari di Berkeley.
Akan tetapi ketika dilakukan kritik dengan mengatakan mereka sekelompok antek liberal dengan serta merta hal itu mereka tentang. Padahal kenyataanya, hanya di Indonesia-lah negeri yang benar-benar menerapkan ekonomi liberal sekaligus membuka seluruh pasarnya bagi pihak asing. Sehingga akhirnya kapitali terkonsentrasi di tangan segelintir orang dan kesenjangan yang terus melebar antara pengusaha besar (konglomerat) dengan pengusaha kecil (pedagang-pedagang seperti di Pasar Baru).
Kalau akumulasi kapital yang sedemikian besar itu diperoleh dengan cara kompetisi yang fair antara sesama pelaku bisnis tentu tidak menjadi persoalan. Artinya, konglomerat yang mampu menjadi besar dengan berbekal daya saing yang tangguh dan didukung dengan cara kerja yang efisien tentu menjadi aset yang sangat berharga bagi perekonomian nasional. Masalahnya, konglomerat yang seperti ini hanya ada dalam mimpi oleh karena dalam perjalanannya menjadi sebuah usaha raksasa, konglomerat telah mendapat dukungan dari pemerintah baik berupa produk undang-undang maupun proteksi terselubung seperti tata niaga, akses kredit yang murah maupun subsidi.
Menurut saya keberpihakan penguasa negeri ini terhadap konglomerat harus segera dihentikan. Mengingat dampak dan sepak terjang mereka selama ini. Sudah seharusnya keberpihakan tersebut dialihkan pada kelompok pengusaha menengah dan kecil seperti halnya para pedagang di Pasar Baru. Soalnya pengaruhnya justru lebih positif daripada mendewakan pengaruh dari para konglomerat. Ketangguhan para pedagang Pasar Baru telah teruji meskipun krisis datang menghujam berbagai negeri di dataran bumi. Mereka tetap eksis dan mampu untuk bertahan hidup bahakan menyumbang devisa yang lumayan pada pemerintahnya. Lain halnya dengan banyaknya usaha yang dioperasikan konglomerat yang kebanyakan kolaps ketika krisis mendera.
Selain itu, keberadaan pedagang menengah kecil ini sejatinya menciptakan budaya entrepenuer seperti yang pernah Rasulullah saw ajarkan. Sehingga setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Berbeda kalau usaha konglomerat yang hanya dikuasai oleh sebagian kecil orang saja. Justru budaya menjadi pekerja atau buruhlah yang lebih menyeruak. Sialnya lagi mereka menjadi buruh atas hegemoni kapitalisme yang sudah fitrahnya tidak akan pernah berpihak kepada para pekerja.
Kembali lagi ke Pasar Baru. Sebagai suatu perbandingan kecil saja saya coba menghitung berapa besar dana yang bergulir disana. Kalaulah tadi didapat angka sebesar 100.000.000.000 rupiah (wisatawan asing) maka saya coba menghitung berdasarkan jumlah total dari pengunjung yang berbelanja disana. Saya asumsikan orang lokal yang berbelanja di Pasar Baru sekitar 5.400/hari (berdasarkan pengamatan dari jumlah orang Malaysia yang ada sekitar 10% dari semua pengunjung lokal). Lalu diasumsikan pula rata-rata uang yang dikeluarkan oleh tiap orang sebesar 500.000 (kemarin saya menghabiskan sekitar 1 juta untuk dijual kembali) maka uang yang bergulir selama sebulan mencapai 81.000.000.000 rupiah. Total dalam 1 bulan menjadi 189.000.000.000 rupiah. Dalam 1 tahun menjadi 2.268.000.000.000 dan dalam satu masa APBN menjadi 11.340.000.000.000 rupiah.
Angka 11 trilyun ini riil berputar ditengah masyarakat. Bandingkan dengan subsidi yang diberikan pemerintah pada para konglomerat sebesar 72 trilyun yang hanya terfokus pada segelintir orang dan ketika krisis ikut-ikutan terjerumus dalam kubangan krisis. Belum lagi para konglomerat dan aparat yang nakal. Tentu angka 11 trilyun jauh lebih menyehatkan negeri ini ketimbang 72 trilyun yang tak jelas juntrungannya.
Angka sebesar 11 trilyun ini berputar hanya di Pasar Baru Bandung saja. Belum kalau digabungkan dengan di Mangga Besar Jakarta. Belum lagi dengan pusat-pusat grosir seluruh Indonesia. Tentunya angka ini akan jauh lebih besar lagi. Dan perlu diingat bahwa pencapaian angka tersebut (khususnya Pasar Baru Bandung) tanpa bantuan subsidi pemerintah. Bagaimana kalau seandainya pemerintah membantu subsidi mereka? Taruhlah subsidi promosi saja kalau memang pemerintah ini masih enggan melepaskan status Mafia Berkeley. Bayangkan apa jadinya rakyat negeri ini? Saya kira kalau semua itu dilakukan –dari satu sisi ini saja- sudah barang tentu rakyat negeri ini akan mengalami peningkatan kesejahteraan sekaligus menjadikan diri sebagai bangsa yang berjiwa entrepeuneur bukan peminta-minta lagi. Apalagi kalau sistem perekonomiannya beralih dalam sistem perekonomian Islam secara total. Kalau itu sampai terjadi, siap-siap saja suatu saat Pasar Baroeweg berhasil menginvasi Wall Street di New York!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 13.21 0 komentar
Gunting Situ

Masyallah. Innalilahi wa inna illaihi rajiun...
Begitu yang saya ucapkan sore itu. Kegembiraan saya sejak pagi hingga siang seakan hilang oleh hantaman bencana yang terjadi di daerah Cireundeu, Ciputat.
Lebih kurang seratus manusia tewas dalam sekejap. Tanggul Situ Gintung yang dibangun oleh penjajah Belanda pada tahun 1933 itu jebol dan menumpahkan jutaan meter kubik air serta lumpur ke permukiman di bawahnya.
Sontak saya teringat orang-orang yang saya kenal yang tinggal di daerah sana. Bukan apa-apa, soalnya beberapa tahun terakhir ini saya memang sering ke daerah sekitaran Ciputat. Bahkan kadang bermotor-motor ria bareng si Tio Kampring (sahabat saya) masuk keluar gang kost-kostan mahasiswa UMJ hingga kontrak dia di Cireundeu. Bahkan beberapa kali saking asyiknya bermotor ria, tak terasa sudah sampai ke Bogor. Hahaha…
Jebolnya tanggul yang terjadi tanggal 27 Maret 2009 kemarin ini pun membuat saya teringat seorang kawan dari Aceh. Dia salah satu korban selamat yang mengalami langsung bagaimana air bah menerjang dirinya. Ketika saya tanya seberapa besar kekuatan air bah Situ Gitung kemarin, dengan santai dia jawab, “Kekuatan air bah Situ Gintung hanya 1 per satu trilyunnya tsunami Aceh”. Gubrakkss…
Gila! Satu per satu trilyun saja sedahsyat itu. Apalagi kalau satu trilyun.
Beruntung hingga saat ini tidak ada seorang yang saya kenal yang menjadi korban disana (semoga tidak ada). Kalaulah yang satu trilyun itu terjadi kemarin di Gintung, saya yakin ceritanya tidak akan seperti sekarang. Orang-orang yang saya kenal bisa jadi –jangan- menjadi korban disana. Bahkan sangat mungkin pula istana yang begitu pongah di Merdeka Barat menjadi salah satu korbannya.
Jujur, mendengar dan melihat beritanya saja lutut ini gemetaran rasanya. Muringkak bulu kuduk saya. Melebihi muringkak pas liat kuntilanak (Memang ada kuntilanak? Yang ada kan anak kutilan. Hehehe…)
Dibalik muringkak-nya bulu kuduk saya, di satu sisi terselip rasa heran saya atas berita yang saya lihat selanjutnya. Bukan saja rasa heran namun sekaligus rasa gemas menyelinap rongga dada ini. Bagaimana tidak gemas kalau melihat penguasa seakan-akan menganggap ratusan nyawa itu tidaklah berarti apa-apa.
Menurut saya, penguasa negeri ini memang tidak menganggap kematian saudara-saudara saya di Situ Gintung itu sebagai sesuatu yang berarti. Buktinya, usai “menengok” kejadian tersebut, mereka dengan tanpa rasa bersalah & sedih sedikit pun masih bisa duduk-duduk dan tertawa di sebuah perhelatan (yang gak penting menurut saya) malam harinya. Perhelatannya disiarkan secara live. Dan saya melihat senyum mengulum dari bibir mereka.
Padahal ini masalah nyawa. Nyawa anak-anak mereka.
Sebab bagi saya seorang pemimpin itu ibarat seorang ibu dan rakyat adalah anaknya. Ketika anaknya sakit tentu si ibu akan merawat, menemaninya tidur bahkan dia sendiri pun tertidur disamping anaknya. Tidak pernah ada ibu yang tidak melakukan hal seperti itu kecuali kalau si ibu adalah ibu jadi-jadian. Ya mirip-mirip siluman gitu. Sabangsaning bagong ngepet dan teman-temannya. Hehehe…
Saya tidak tahu harus mengatakan apa bagi pemimpin negeri ini saat ini. Kalau dibilang ibarat ibu mereka jelas sangat tidak mirip seorang ibu. Kalau dibilang sejenis makhluk jadi-jadian jelas tidak juga lha wong fisik mereka manusia beneran. Cuman kalau misal seperti ini: Ketika ada anak yang tertabrak kereta api siang hari. Kondisi si anak sedang sekarat. Tak lama berselang si ibu datang menjenguknya di sore hari. Setelah itu, malamnya, si ibu menghadiri hajatan sunatan seorang kaya raya sambil memperlihatkan mimik serasa tidak terjadi apa-apa dengan anaknya. Kira-kira pantasnya disebut ibu seperti apa ya?
Saya tahu seorang pemimpin tidak harus selalu ada 24 jam di tengah sebagian rakyatnya. Yang namanya memimpin sekelompok orang dalam suatu wilayah tentu harus dapat membagi-bagi waktu dan keberadaannya kepada semua rakyatnya. Namun untuk kasus force majeure seperti hal diatas, rasanya tidak pantas kalau seorang pemimpin (baca ibu) memilih hal seperti itu. Kalau saja mereka urung menghadiri perhelatan sia-sia di malam hari itu, “anak-anaknya” yang lain itu tentu akan sangat-sangat mengerti dengan pilihan “ibunya’ tersebut. Saya berani jamin mereka tidak akan marah dengan pilihan “ibunya” itu. Dengan catatan, si “ibu” benar-benar mengurusi “anaknya” yang mengalami bencana. Bukan malah memangfaatkan bencana “anaknya” sebagai ajang popularitas untuk 9 April nanti.
Sialnya, sudahlah mereka berkelakuan demikian, mereka malah saling tuduh menuduh siapa yang harus bertanggung jawab atas bencana ini. Pemerintah pusat menuduh pemerintah propinsi yang bersalah. Sebaliknya pemerintah daerah juga menuduh sebliknya. Sebagian menuduh pengelola yang bersalah. Sebagian lagi menuduh masyarakat salah samapi menuduh yang salah si tanggul sendiri. Tanggul kok disalahin? Memangnya tanggul itu mankhluk hidup yang bisa diajak ngomong? Namanya benda mati ya tidak bisa komentar apa-apa. Justru orang-orang hidup yang punya kewajiban atas tanggullah yang harus diajak bicara.
Kasus Situ Gintung jelas tidak sama dengan bencana tsunami di Aceh. Danau kecil itu dibuat oleh manusia untuk kepentingan pengairan. Ia dibuat dengan menggunakan perhitungan. Dan seperti semua hal yang dibuat oleh manusia, Situ Gintung itu pun punya keterbatasan. Ia tak abadi. Untuk menangani keterbatasan tersebut tentulah butuh sistem, yang di dalamnya mengatur siapa yang mengelola, bagaimana cara mengelola, dan sebagainya. Gamblang sudah. Ketika Belanda membuat dam itu mereka juga sudah mempunyai sistem untuk mengurusinya. Setelah zaman kolonial berganti republik, dan kini republik ini sudah berumur 63 tahun, jelas absurd jika sistem itu tidak ada.
So, inilah yang saya sayangkan. Disaat mereka acuh tak acuh terhadap rakyatnya, mereka malah saling tuduh menuduh seakan hal itu sudah menjadi tradisi bangsa ini ketika terjadi bencana. Padahal kalau memang salah ya salah saja. Tak perlu kemudian menyembunyikan diri atu melempar handuk kotor ke muka orang lain. Sebab suatu saat nanti kesalahan itu akan ditampakkan. Bentuknya dapat bermacam-macam. Tentunya bukan penampakan gaya Nyi Mas Melati, si penghuni Situ Gintung, seminggu sebelum bencana ini terjadi. Bukan pula penampakan ala buaya putih & ular raksasa yang kabarnya suka menampakan diri di tengah Situ Gintung. Akan tetapi penampakan yang dapat membalikkan 180 derajat kenyataan dan kesadaran rakyat. Seperti halnya Situ Gunting menjadi Gunting Situ. Wallahu’allam
Sebuah informasi tambahan:
1. Sejak 2 tahun terakhir, masyarakat sekitar tanggul sudah khawatir akan jebolnya tanggul ini. Namun kekhawatiran mereka kurang mendapat respon dari Pemerintah. Padahal pada November 2008 lalu tanggul Situ Gintung pernah jebol walau belum parah. Anehnya, Pemerintah belum berbuat secukupnya untuk mengatasinya. Bahkan early warning system (sistem peringatan dini) pun belum dibuat.
2. Situ Gintung bukanlah bendungan seperti lazimnya sebuah bendungan (DAM). Situ Gintung hanyalah sebuah tubuh air yang terperangkap dalam sebuah cekungan pada punggungan besar diantara lembah-lembah lainnya. Ia pun terletak pada batuan endapan vulkanik. Dimana disebelah kiri kanannya berupa endapan sungai yang berupa tanah urugan, atau tanah biasa longsoran kiri kanannya secara alami. Karena berupa tanah urugan alami ia suatu saat akan membahayakan.
3. Situ Gintung pun bukanlah sebuah danau pengumpul air dari sungai. Ia tidak mengalirkan airnya melalui drainase melalui hal seperti umumnya bendungan. Seandainya air membludak, Situ Gintung ibarat ember yang penuh oleh air. Semakin dangkal maka semakin mudah air tumpah keluar
4. Peristiwa Situ Gintung menjadi komoditi politik. Ini terlihat dari rekaman seorang kawan yang meliput di sekitar area bencana. Seorang caleg parpol berkata demikian: “Bagaimana, apa sudah ada wartawan di lokasi? Kalau sudah, sembako kita bagikan saja,” ujar seorang caleg parpol berbicara di telepon seluler. Setelah menutup telepon, caleg itu kemudian bergegas ke lokasi bencana banjir Situ Gintung dengan dibantu beberapa kader partainya.
Diposting oleh Begundal Militia di 13.12 1 komentar
4 Months, 3 Weeks, 2 Days
Sumpah dech! Lebih baik saya liat si Revo lagi ee di depan mata daripada lihat orang melahirkan. Kalau nggak saya lebih baik melihat orang digorok atau ditembak kepalanya daripada melihat orok keluar dari rahim ibunya.
Begitu yang saya rasakan beberapa waktu lalu ketika melihat video persalinan seorang wanita bule di sebuah rumah sakit di Amrik sana.
Tak kurang dari 5 menit, rasa eneg itu langsung muncul. Kepala langsung yang balikan ke belakang. Namun percuma juga begitu sebab suara perempuan mengerang membuat rasa penasaran kembali menderu. Ketika membalikan kembali kepala ternyata gambar telah close up pada kepala bayi yang penuh darah keluar dari sarangnya. Sontak kuduk saya berdiri & perut terasa mual. Hoeokkkkk……
Rasa seperti itu pun muncul ketika saya melihat 4 Months 3 Weeks 2 Days. Meskipun dalam fim Romania peraih Palme D’or ini tidak secara langsung memperlihatkan janin keluar dari selangkangan, namun adegan aborsi atas orok tak berdosa itu mebuat perut saya begitu eneg. Terlebih ketika sebuah selang kecil dimasukan ke dalam perut si perempuan. Beugh!!!
Kurang ajarnya, si dokter dadakan tersebut meninggalkan si perempuan di ranjang dengan posisi terlentang dan selang panjang terurai dari dalam perutnya. Sambil kemudian berpesan untuk tetap tinggal disana paling lama 1-2 hari sebelum aborsi rampung.
Gila! Apa yang ada dipikiran mereka kata saya. Apakah mereka tidak sadar dengan pilihan perbuatannya? Atau memang mereka sadar namun karena schizophrenia lantas aborsi yang mereka pilih? Ataukah ini memang karena kesalahan sistem (seperti yang selalu digembar-gemborkan oleh sebuah ormas) yang akhirnya mendesak mereka untuk melakukan itu? Saya tidak bisa menjawabnya. Yang tahu hanya sutradara film tersebut. Hehehe…
Namun yang jelas, kalaulah itu dikatakan sebagai kesalahan sebuah sistem maka hal itu jelas tertolak. Sebab latar belakang film tersebut mengambil plot di era akhir runtuhnya komunisme di Romania. Pemerintah Komunis Romania begitu keras menindak pelaku aborsi ini. Bahkan saking keras, tak seorang pun warga diberikan ruang untuk melakukan praktek ini.
Berbeda dengan di negeri ini. Meskipun aborsi diharamkan namun sudah menjadi rahasia umum praktek ini hidup di beberapa tempat. Tak kurang segelintir aparat disinyalir menjadi backing tempat haram tersebut. Maka tak heran kalau kemudian ada sejumlah tempat praktek yang sampai memiliki ruangan dengan fasilitas beragam layaknya sebuah rumah sakit besar.
Beruntung beberapa bulan lalu di Tangerang masih ada aparat yang begitu peduli dengan masalah ini. Saya acungi 2 jempol untuk ibu polwan (saya lupa namanya) yang berhasil membongkar sindikat tempat praktek terlarang tersebut. Kalaulah jempol kaki bisa saya angkat dan dianggap sopan, saya acungi juga ibu polwan tersebut dengan kedua jempol kaki saya.
Itu saya berikan semata-mata karena usahanya membendung kriminal yang lebih parah dari kriminal yang terjadi di jaman jahiliyah. Di jaman ketika Rasulullah saw masih hidup, yang menjadi korban hanya anak perempuan saja. Anak laki-laki selamat dari dikubur hidup-hidup seperti yang dilakukan Umar bin Khattab ra. sebelum masuk Islam. Namun sekarang, jangankan anak perempuan, anak laki-laki pun tak luput dari pembunuhan orang tuanya.
Padahal apa salah mereka (anak-anak)??? Mereka itu makhluk terindah yang diciptakan Allah. Lagian bukankah mereka awalnya di “buat” dengan penuh kesenangan. Kalaulah memang diawali dengan kesenangan harusnya kan diakhir dengan kesengangan juga.
Sumpah sampai sekarang saya masih belum habis pikir kenapa masih ada yang melakukan hal demikian. Disaat sepupu saya memohon-mohon meminta anak hingga harus menderaikan air mata karena anak yang dikandungnya selalu meninggal, ternyata masih saja ada sebagian orang yang tega melakukan hal keji seperti. Saking kejinya, saya yang mempunyai hobi melihat adegan-adegan sadis pun tidak tega untuk melihatnya. Lebih baik saya menghabiskan waktu senggang saya dengan menonton Caligula, Salo, Cannibal Holocaust, Baoise Moi, dan film-film bergenre Snuff lainnya daripada harus memicingkan mata untuk melihat adegan aborsi. Yaks!!! Sungguh teganya…teganyaaa….
Diposting oleh Begundal Militia di 21.18 2 komentar
