
Beberapa keanehan dibalik peristiwa pemboman hotel marriot.
1. Pelaku bisa menginap dan masuk ke hotel JW. Marriot dan lolos sensor logam di pintu masuk di hotel dengan penjagaan ekstra ketat tersebut.
2. Untuk merakit bom tersebut, paling tidak pelaku menginap lebih dari sehari di hotel berbintang lima bertarif mahal tersebut. Berapa biaya yang harus dikeluarkan pelaku untuk mempersiapkan hal tersebut, 30juta - 50juta???. Katakanlah satu koper dorong yang terlihat di CCTV memuat 10kg blackpowder (+-$3/kg) cuman $30/Rp.315.000 ??? fuc***ng joke
3. LE (Low Explosive) dengan bahan dasar blackpowder menggunakan unsur Sulfur sebesar 10-15% dan asap yang berwarna hitam. Sedangkan rekaman CCTV tersebut dan pengakuan dari saksi menyatakan ledakan tersebut berasap putih dan tidak menimbulkan bau apapun. Ciri ini justru melekat kepada jenis HE (high explosive) sekelas semtex, RADX, PETN, dll. Sebuah peledak yang bahkan tidak dimiliki oleh TNI. Polri seharusnya melakukan uji balistik, uji material, asap ledakan, dll untuk mengetahui secara detail bahan peledak yang digunakan, dan tidak terpancing kepada bom yang ditemukan di lantai 18 (kamar 1808) saja. Bisa jadi bom tersebut sengaja 'ditinggalkan' oleh pelaku agar digunakan sebagai alat bukti palsu yang akan mengarahkan kepihak pihak tertentu.
4. Adanya dugaan pelaku dari orang asing seperti yang terlihat di rekaman CCTV detik detik menjelang ledakan tersebut.
5. Adanya rapat internasional beberapa perusahaan asing dan kegiatan internasional. Dugaan lain muncul terkait pihak pihak yang tidak menyetujui rapat tersebut (Komisaris Freeport, Adrianto Machribi menggunakan jasa pengawalan / ajudan yang pada saat itu berhasil menyelamatkan beliau.) dan tewasnya PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) Tim Mackay.
Semoga aparat keamanan benar benar bisa menguak pelaku, dan tidak sekedar menghukumi opini. (http://revolusidamai.multiply.com)
Keanehan Pemboman Marriot-Carlton
Diposting oleh Begundal Militia di 02.04 0 komentar
Diskusi Forum Jembatan Harakah

Sabtu, 25 Juli 2009
Pukul 12.30 wib - 15.00 wib
Lantai 2 Masjid UI Depok
Tema: Taaruf Lagi Dengan Islam
Pembicara :
1. Muhammad Ridho : Ad Dienul Islam
2. Kamal Kontra Teroris : Islam VS Demokrasi
3. Thufail Al Ghifari : Mungkinkah Islam bisa tegak tanpa demokrasi?.
Moderator :
PengkhianatYangTelahMusnah - Kolektif Berandalan Tuhan
Di harapkan kepada para peserta untuk datang lebih awal dan sholat dzuhur berjamaah di masjid UI agar bisa mulai dari awal tepat waktu...sebarkan!
TAKLIMAT UMUM:
1. WAJIB DAFTAR dan KONFIRMASI SEBELUM HADIR
2. WAJIB DATANG TEPAT WAKTU
3. No Pendaftaran 0857 1033 5757 (SMS ONLY)
Caranya : (Ketik)IKUT(spasi)NAMA/ID(spasi)INSYA ALLAH.
KIRIM KE NO PENDAFTARAN
Siapa yang melanggar akan kena Iqob! :D (Iqobnya silahkan hafalkan surah Al-Kahfi 1-10) :p
Catatan tambahan:
Alternatif 1: FREE
1. Panitia tidak menyediakan makanan dan minuman
2. Tidak dapat makalah, tapi nanti di upload disini.
Alternatif 2: Administration FEE
1. Bayar Administrasi minimal Rp.3.000 - Rp.5.000
2. Dapat Majalah AtTafakur terbaru terbitan Komunitas Nuun UI (tema: Simpang Jalan Pollitik)
3. Dapat 1 Air Mineral (cup/ gelas)
4. Dapat Makalah
Diposting oleh Begundal Militia di 05.59 0 komentar
LANJUTKAN!

Hari itu saya pulang ke Bandung. Kalau tidak lupa hari sudah menjadi Sabtu. Sengaja saya pulang ke Bandung. Biasalah namanya juga orang urban. Tidak usah kau tahu, kenapa saya pulang. Ini rahasia keluarga. Bagaimana kalau saya kasih bocor? Lagi, kalau saya kasih tahu pun, nanti kau bilang pula sama tetangga. Tetanggamu, nanti bilang ke tetangganya. Terus begitu sampai jauh, sampai berkilo-kilo meter panjangnya, sampai jadi berbeda dari pokok asalnya. Sampai bisa-bisa saya digosipkan operasi kelamin. Siapa tahu kan?
Tapi ya sudahlah. Daripada saya digosipkan yang tidak-tidak, mending saya kasih tahu kau. Saya sengaja pulang utnuk mengurus SIM. Inginnya saya itu menggemuk SIM. Namun entah kenapa banyak orang ingin SIM itu kurus daripada gemuk.
Sebenarnya SIM saya habis tanggal 8 Juli 2009. Bukan habis karena saya makan. Meskipun merantau, saya tidak semelarat itu lah. Saya masih mikir-mikir kalau harus memakan SIM. Apalagi harus makan 2 SIM saya yang sudah bulukan sejak 5 tahun lalu. Hanya saja, khawatir sewaktu-waktu saya kepepet, itu SIM saya ganti saja. Biar kalau sewaktu-waktu dimakan rasanya masih baru dan belum kotor.
Pagi itu, sudah tidak lagi sepi. Di depannya sudah lumayan banyak laki-laki berbagai umur duduk bagai patung. Duduk mereka begitu rupa diatas diatas bangku kayu. Menonton orang-orang lalu lalang sambil tak lupa beberapa membakar mulut mereka dengan rokok. Beruntung mulut mereka tidak kebakaran. Kalau pun sampai kebakaran itu hak mereka. Sebab mereka memang ingin mulutnya dibakar.
Dua jam berlalu tanpa ada seseorang pun yang berinisiatif untuk meramaikan suasana pagi yang menjadi dingin di Bandung. Tak asoy saya bilang.
“Mau perpanjang SIM, Pak?!” itu saya berlagak SKSD
“Iya,” kata seorang Bapak yang ada di depan itu saya. Tadinya dia sedang asyik menikmati 3 orang gadis bule yang ikutan duduk di area taman Giant.
“Berapa ya Pak biaya kalau perpanjangan SIM?”
“Biayanya sih 60 ribu. Tapi itu belum termasuk kesehatan dan asuransi”
“Kalau syaratnya?”
“Itu ajah fotocopy KTP. Terus SIM”
“Oh gitu ya!” jawab saya singkat. Berarti tidak salah saya datang kesini. Padahal sebelumnya saya ragu kalau di ini tempat bakalan ada mobil SIM keliling. Soalnya waktu di Jakarta saya lihat itu di internet belum ada jadwalnya di sini.
“Kalau SIM tank sama juga biaya ya Pak?”
“SIM tank?” Seperti tidak percaya itu si Bapak. Si Bapak satunya lagi ikutan terkaget-kaget.
“Tank baja maksudnya?”
“Iya tank baja Pak. Saya mau memperpanjang,” jawab saya. “Sekalian perpanjang SIM traktor juga nih”
“Memangnya ada ya SIM tank baja ma SIM traktor?” tanya si Bapak yang baru nimbrung.
“Buktinya ini saya mau perpanjang. Kata teman saya, kalau mau perpanjang ke sini saja. Bapak-bapak masih terkejut.
“Bapak teh tentara?”
“Bukan!” jawab saya.
“Atuh kalau perpanjang yang gitu mah ga bisa disini. Da disini mah perpanjang SIM A, B dan C ajah” salah satu Bapak mencoba menjelaskan kepada saya.
“Kirain disini biasa juga Pak”
“Di Kodam mungkin bisa kalau perpanjang yang begitu mah”
“Kodam dimana Pak?”
“Jalan Sumatera”
“Wah, ya sudah atuh kalau begitu saya kesana saja. Sudah siang. Capek saya menunggu dari tadi. Kirain disini bisa” sambil menggerutu saya ambil HP. Pura-pura me-massage-nya, “Ah, maneh mah teu bener cuy. Didieu teu bisa perpanjang SIM tank nyaho! Urang dititah ka pulau Sumatera geura. Jauh nyaho. Enya Sumatera. Sumpah. Tah ceuk si Bapak-bapak didieu.. Kumaha ateuh? Ekoy. Ekoy. Ekoy. Heueuh. Jadi uing kudu numpakan angkot ST Hall – Gunung Batu. Engke eureun di Poliwiltabes, nya? Ekoy. Ekoy. Warna bulao kan? Langsung ka Polwiltabes Sumatera kan? Ekoy. Nuhun nya!” Klik.
“Bukan pulau Sumatera, Pak!”
“Jalan Sumatera, kan?”
“Tadi Bapak bilang pulau Sumatera”
“Ah masa sih?”
“Trus kalau ke Kodim bukan naik ST Hall –Gunung Batu. Tapi naik yang itu tuh. Yang hijau!”
“Teman saya tadi kasih tahunya begitu”
“Kalau mau ke Polwiltabes emang pake yang itu. Tapi kalau ke Kodim pake yang hijau”
“Bener Pak. Pakai yang hijau aja” sahut si Bapak yang satunya lagi.
“Ah biarin lah. Teman saya bilang begitu. Nanti saya tanya-tanya saja kalau ada polisi. Pergi dulu ya Pak”. Saya tinggalkan bapak-bapak itu. Mereka saling bertanya-tanya. Siapakah saya gerangan. Ah tak penting jawab saya. Lupakan saja. Saya hanya bosan menunggu mobil keliling tidak datang-datang. Mending saya langsung perpanjang SIM di Polwiltabes saja kalau begitu.
Lanjutkan!
Saya baca tulisan itu di banyak tembok yang menjadi kotor karenanya. Kenapa mereka bisa tahu kalau saya akan melanjutkan perjalanan ke Polwiltabes ya? Ah biarlah. Barangkali yang ada di foto bertulisan itu memang mau menjadi paranormal sehingga bisa meramalkan kepergian saya.
Itu saya masuk ke dalam bangunan yang di depannya ada harimau hitam. Si harimau seolah-olah mau memakan saya. Tapi saya tidak takut. Seperti tidak takutnya orang-orang yang malah menyenderkan tubuhnya di harimau itu. Malah ada seorang anak kecil yang memasukan tanganya ke dalam mulut harimau itu. Kasihan kata saya. Harimau bertulisan polwiltabes dibawahnya itu sangat suka disuap oleh anak kecil. Pantas saja harimaunya tidak berani menegur orang yang menyender di badannya.
Setelah saya masuk ke dalam bangunan tersebut ternyata orang-orang sudah membuat dirinya seperti semut disana. Penuh sesak. Seperti ikan asin bandeng yang ditumpuk sedemikian rupa oleh penjual di pasar.
Beruntung di sela-sela menjalani proses perpanjangan SIM, saya bertemu dengan seorang yang nampaknya seorang polisi. Itu saya lihat dari bajunya yang seperti pegawai pabrik coklat di Banjaran. Bedanya hanya ini banyak gambar-gambar aneh di kiri kanan bajunya.
“Pak, jujur nih. Dulu saya paling malas kalau disuruh kesini?” ungkap saya ditengah-tengah obrolan yang sengaja tidak saya ceritakan semuanya dari awal.
“Memangnya kenapa?” tanya polisi yang memang punya senyum imut ini. Sumpah bukan saya penyuka sesama jenis. Tapi kalau imut tentunya saya harus jujur. Sebab dengan mengatakan yang sejujurnya akan keimutan dia maka secara otomatis saya sudah menyakini bahwa Allah itu Maha Pencipta Segala yang imut-imut. Itu kata saya.
“Dulu saya sempat berantem dengan seorang polisi yang dinas disini. Kami disuruh berkelahi secara jantan di lapangan Mapolwiltabes”
“Terus jadi tidak berkelahinya?”
“Ya tidaklah Pak! Saya tolak pilihan seperti itu. Secara saya kan dulu mahasiswa. Saya ungkapkan saja kalau dengan berkelahi justru akan merusak citra polisi itu sendiri”
“Terus?”
“Akhirnya tidak jadi berkelahi. Urusan beres”
“Memangnya kenapa kok bisa sampai begitu?”
“Biasalah Pak sesama anak muda. Hehehe”
Jari saya biarkan colek lengan kanan si bapak polisi yang berbulu itu. Biar terkesan genit. Biasanya kalau orang sudah digenit-genitkan oleh orang lain mereka tidak akan marah. Bisa jadi karena tergoda. Atau bisa juga karena jijik digoda oleh sesama jenis. Lain ceritanya kalau lawan jenisnya. Tapi memang itu maksud saya. Agar si bapak polisi merasakan keduanya. Syukur-syukur kalau penasaran. Soalnya selama ini pun saya selalu penasaran dengan polisi. Kenapa dari dulu hingga sekarang mereka berseragam coklat. Apakah tidak takut dituduh sebagai pramuka. Padahal kan agar kesannya bersih, netral, elegan, lebih baik seragam mereka diganti menjadi warna putih. Pasti kesannya lebih elok. Eh, tapi tidak juga. Kalau tengah malam, polisi sedang melakukan operasi salah-salah dikira pocong. Saya batalkan pernyataan saya tentang seragam tadi.
“Sedang buat SIM atau perpanjang?” tanya Pak polisi.
“Perpanjang SIM A & C Pak”
“Oh”
“Sayang ya Pak, bikin SIM tidak online seluruh Indonesia. Kayak bank begitu” sesal saya “Coba kalau seperti di luar negeri yang semua surat-surat administratif ini diselesaikan satu atap. Pasti saya tidak perlu jauh-jauh pulang ke Bandung”
“Memangnya dari mana?”
“Saya kerja di Jakarta Pak. Tapi kata polisi disana saya tidak bias memperpanjang SIM disana. Harus di Bandung. Atau bawa surat mutasi”
“Iya sih kalau semua kayak di luar negeri seperti itu enak”
“Coba saja capres-capres yang sedang pemilu seperti itu ya Pak!”
“Hehehe…” Si Bapak terkekeh.
“Pak, kalau SBY ikutan tes SIM dan perpanjangan juga tidak?” tanya saya.
“Ya nggak atuh! Dia mah special. Lagian buat apa? Kan sudah ada sopir”
“Kalau James Bond?”
“James Bond?”
“Iya James Bond agen 007!”
“Gak tahu. Tanya saja ke bosnya!”
“Kalau misalnya gaji polisi diturunkan oleh SBY bagimana Pak?”
“Memangnya SBY yang bakal jadi presiden lagi?”
“Kan ini mah misalnya Pak. Kalau SBY jadi presiden lagi ceritanya”
“Ya kita sebagai aparat sih bagaimana atasan saja. Kita ini kan mengabdi”
“Iya saya tahu Pak.” kata saya, “Ini mah dari lubuk hati yang terdalam, bagiamana perasaan Bapak?”
“Ya kalau kayak begitu sih saya tidak suka”
“Berarti bapak tidak akan mencontreng SBY dong?”
“Polisi kan tidak ikutan pemilu. Kita malahan jaga di TPS”
“Oh iya ya”
“Memangnya Bapak nanti mau pilih siapa?” sekarang bagian polisi yang bertanya kepada saya.
Saya jawab saja, “Pilih Pak Haji Deden!”
“Kok Deden sih?”
“Ya iya lah Pak. Secara Pak Haji Deden lah yang visi misinya sesuai dengan apa yang saya mau. Kalau Pak Bambang, Pak Yusuf terus Ibu Wati mah menurut saya itu bukan pilihan”
“Bentar…bentar… pemilu mana dulu nih?
“Iya pemilu kades di desa saya!” tegas saya, “Bayangkan saja. Hanya Pak Deden yang punya prinsip memajukan desa dengan menanam padi dan umbi-umbian di desa saya. Sedangkan yang lain, mereka inginnnya membudidayakan perikanan laut. Padahal seharusnya bapak tahu sendiri. Desa saya itu adanya di atas gunung. Perut warganya diciptakan untuk makan makanan sejenis padi-padian. Kalau dikasih seafood sedikit saja biasanya mereka langsung gatal-gatal. Malah sebagian muntah. Sok menurut Bapak mendingan mana?”
“Maksud saya bukan yang itu”
“Jadi yang mana?”
“Pemilu presiden nanti tanggal 8 Juli”
“Oh yang itu. Bilang atuh dari tadi!”
“Kan tadi kita sedang membicarakan pemilu”
“Saya kira pemilu di desa saya”
“Si Bapak mah otaknya kemana saja”
“Yeeee… Bukan kemana saja. Ada disini nih” telunjuk saya arahkan ke kepala saya. “Tapi kalau pemilu sekarang sih. Ya tetep saya pilih Pak Haji Deden saja!”
“Ceritanya golput nih Pak?”
“Bukan maksud saya untuk menjadi golput. Tapi berhubung cita-cita saya begitu tinggi. Saya khawatir tidak ada capres yang dapat memenuhi apa yang saya cita-citakan. Kan kasihan nanti kalau mereka tidak amanah maka dosanya ditanggung mereka. Bayangkan saja kalau 200 juta rakyat Indonesia tidak merasa mimpi mereka terakomodasi. Apa tidak berbahaya tuh buat pemimpinnya di akhirat kelak. Saya tidak mau menjadikan mereka berdosa karena saya”
“Tapi kan kita ini harus peduli dengan negara ini”
“Bukan saya tidak peduli dengan negeri ini Pak. Justru karena saya pedulilah maka saya memilih begitu. Lagian kalau tidak peduli, buat apa saya capek-capek memperpanjang SIM. Toh, kalau tidak peduli mah kumaha aing we rek make SIM atawa heunteu oge. Memperpanjang SIM itu salah satu bukti kecil kalau saya ini ingin keadaan negeri ini teratur, tertib dan sesuai dengan aturan hukum”
“Kalau tidak salah saya pernah baca kalau kita harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Bener tidak Pak?” ujar Pak polisi
“Kok tanya ke saya? Tanya ke yang menulisnya saja Pak! Hehehe…”
“Iya tapi ada kan hukumnya seperti itu”
“Kalau saya sih begini saja Pak. Kalau misalnya Bos kita menyuruh kita sholat tapi tanpa sujud dan takbiratul ikhram. Kira-kira Bapak mau sholat tidak? Atau mau menuruti apa kata Bos?”
“Ya nggak lah. Masa sholat begitu!”
“Yakin ni Pak?”
“Iya”
“Kalau Kapolwiltabes bilang seperti itu?”
“Masa beliau bilang begitu sih!”
“Segalanya bisa mungkin saja terjadi Pak. Apalagi dunia ini bulat” ujar saya, “Bagi saya, kalaulah hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang telah dijadikan aturan meskipun niatnya benar maka tetap saja hal itu salah. Jadi kalau sholat tanpa sujud & takbir itu berarti sama saja tidak sholat. Tidak ada nilai ibadahnya sedikit pun. Sebab ketakutan kita hanya kepada Bos bukan kepada Allah”
“Berarti kalau begitu sholat tidak perlu. Sama berdosa dong?!”
“Saya tidak mengatakan sholat tidak perlu. Sholat itu wajib. Usaha kita agar sholat itu terlaksana pun menjadi wajib hukumnya kalau sholat itu terhalangi prakteknya. Jadi bukan berarti saya tidak akan sholat justru saya akan paksa Bos saya sholat sesuai dengan aturan yang benar”
“Memangnya capres-capres yang ada sekarang ada yang menghalangi sholat?”
Gubrags! Ini saya yang bego atau capres yang bego ya? Tapi kayaknya saya yang salah menjelaskan. Maklumlah. Saya sudah kecapekan menunggu proses perpanjangan SIM ini. Sejak dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore masih saja nama belum dirayu-rayu oleh pengeras suara.
“Bapak Begundal Milita!”
Yeah! Akhirnya nama saya dipanggil juga. Penantian seharian tuntas sudah. Saya angkat bokong saya menjauhi bangku.
“Pak, saya pamit dulu. Nama saya sudah dipanggil” dengan sopan saya meminta pengertian polisi yang sejak tadi menemani saya membuat waktu seolah-olah habis.
“Oh iya. Silakan lanjutkan!” jawab polisi.
“Pak, Bapak tidak sedang beriklan kan?”
“Maksudnya?”
“Iya itu tadi yang Bapak bilang; Lanjutkan!”
“Hahaha….. Tidak. Tidak. Bisa saja si Bapak mah”
Iya Pak saya juga tahu maksud Bapak. Mana mungkin Bapak polisi yang budiman menjadi agen capres tertentu. Saya paham bahwa yang bapak maksud agar saya melanjutkan proses perpanjangan SIM-nya. Dan saya tahu yang Bapak maksudkan juga agar saya melanjutkan pilihan golput saya. Benar tidak Pak?
Kalaulah memang benar apa adanya. Maka saya pun akan; LANJUTKAN!
Diposting oleh Begundal Militia di 22.44 0 komentar
Spying In Solo

Sengaja saya sekarang tidak banyak cerita. Soalnya saya bosan bercerita dengan mengetikkan jari-jari saya ke keyboard komputer. Bukan bosan tapi memang tidak mau. Biar sesekali ada sesuatu yang baru.
Sengaja juga saya sekarang tidak banyak bercerita tentang Bandung & Jakarta. Soalnya saya bosan tinggal disana. Bukan bosan tapi memang disuruh bos intelejen untuk pergi ke luar kota. Ceritanya melakukan aksi mata-mata di Solo. Biar itu intel-intel yang hobinya menginteli mujahidin & ummat Islam pada bosen jadi intel.
Memang ngaruh ya kalau saya kesana?
Setidaknya dengan apa yang saya dapatkan dari operasi intelejen ini akan membukakan mereka (para intel). Membukakan apa saja. Mau mata, baju sampai celana kolor juga terserah mereka. Saya hanya memberikan sebuah alternatif pilihan bagi mereka dalam bertugas. Ya daripada menginteli mujahidin & ummat Islam mending menginteli apa yang telah saya hasilkan ini (hasil bisa dilihat gambarnya). Lagian Kan sesama muslim tidak boleh berburuk sangka juga ber-tajasus. Betul kan?
Sedikit petunjuk buat membaca gambar. Keterangan dibawah ini sesuai dengan apa yang ada di gambar. Dibacanya sesuai dengan arah kencleng Jumatan. Yang tidak pernah jumatan tanya sama yang suka jumatan.
Silakan dinikmati! Silakan diinteli!
Keterangan gambar;
1. Bandeng Mbak Mar
2. Revolt.Net
3. Galabo
4. Gerbang Alun-Alun Selatan
5. Alun-Alun Selatan
6. Alun-Alun Utara
7. Keraton Surakarta
8. Kyai Slamet
9. Gerbang Masjid Keraton
10. Masjid Kesunanan
11. Menara Mesjid Keraton
12. Monumen Perjuangan
13. Taman Balekambang
14. Selat Solo
15. Beras Kencur Mix
16. Pecel Ndeso
17. Galeri Seni Solo
18. Sate Banjir
19. Wedang Dongo
20. Tengkleng Gapura Klewer
21. Bestik Hardjo
22. Kampung Batik Kauman
23. Serabi Notosuman
24. Es Sarang Gurung
25. Memanah Soloan
26. Gudeg Ceker
27. Pasar Klewer
28. Sate Buntel Timin
29. Sate Kere Yu Rebi
30. Kolam Renang Lor In
31. Gempol Plered
32. Stasiun Solo Balapan
Diposting oleh Begundal Militia di 08.47 0 komentar
Sehari Dengan Intel Solo
Itu saya orang yang sedang ngorok di sofa. Yang kakinya ngangkang. Beruntung pakai celana. Biasanya saya pakai sarung. Soalnya kalau pakai sarung di warnet bisa-bisa sesuatu milik saya menjadi tontonan gratis pengunjung warnet. Termasuk seorang berkacamata yang senyum-senyum dari tadi. Dia adalah kawan saya. Itu yang sedang duduk di meja operator. Namanya Bahrun. Usianya satu tahun lebih muda dari saya. Namun meski lebih muda pengalamannya di dunia intelejen sudah begitu lama.
Saya dan dirinya memang sudah lama tidak jumpa. Sudah lama tidak rindu. Ketemu pun baru satu kali. Di Depok dulu waktu saya kerja dengan si Divan Semesta & Ali OM. Itu pun sebentar saja. Soalnya si Bahrun ini mau melanjutkan misi intelejen ke Padang. Selebihnya saya dengan dirinya banyak bertemu di dunia tak kasat mata. Dunia maya. Tapi bukan Maya Rumantir. Bukan juga Luna Maya.
Mau apa dia ada di Solo? Kenapa dia ada di meja operator warnet? Jangan-jangan dia sedang melakukan pencurian data-data penting atau hacking. Tidak jawab dia. Dia sedang melayani konsumen. Biasalah namanya juga pemilik warnet Revolt.Net. Itu memang aktivitas dia sehari-hari. Konsumen adalah ratu menurut dia. Kenapa bukan raja kata saya. Kalau raja nanti tidak bisa dinikah. Tapi kalau ratu suatu saat bisa dinikah kalau cocok di hati. Begitu kata dia; Amir LY Nusantara. (ket: Di LY Nusantara, siapa yang telah berpoligami maka dia menjadi pemimpinnya. Bertambahnya istri menjadikan seseorang otomatis menjadi pemimpin)
Biar tidak terus menerus ngobrol Zorayah, Bahrun saya ingatkan akan kesepakatan tadi malam ketika kencan. Oh yah, Zorayah itu salah satu targetan misi intelejen kami. Dia tidak ikut kencan bareng kami tadi malam. Soalnya dia tidak ada di Solo. Kalau saja dia ikut kencan. Sudah pasti dia hari ini akan kami ajak untuk menjalankan beberapa sunnah Rasul dalam hal melatih fisik. Tak lain dan tak bukan adalah memanah, berenang dan berkuda. Tapi karena kudanya tidak ada terpaksa pakai kuda besi milik Bahrun.
“Sekarang kita kemana dulu, cuy?” kata saya sambil mengacak-ngacak rambut. Biar terlihat belum mandi. Ini namanya salah satu trik dalam dunia intelejen supaya bisa klandestein ke targetan.
“Kita memanah dulu aja!” jawab Bahrun tepat ketika angka jam menunjukan pukul 6 pagi.
“Ekoylah kalau begitu mah. Cabut cuy!”
Akhirnya kami, maksud saya, saya dan Bahrun, menaiki kuda besi. Semoga saja kudanya jantan. Soalnya kami berdua juga jantan semua. Khawatir kalau betina dinaiki akan berakibat fatal. Tapi nampaknya tidak sefatal yang dilihat orang-orang di pinggir jalan. Mereka sedikit terheran melihat kami. Mungkin mereka kaget. Sejak kapan Arjuna dan Srikandi bangkit dari kubur. Soalnya saya yang duduk di belakang memang mengalungi ( ket: yang bener pakai akhiran –i atau –kan ya? Kalau pakai akhiran –kan artinya kan melempar) busur sebesar saya. Plus menggenggam satu kotak anak panah.
Tapi itu semua tatapan mereka tidak saya pedulikan. Hanya saja di dalam hati saya berpikir. Apa benar kami dianggap Arjuna & Srikandi. Lantas kalau begitu siapa yang Arjuna dan siapa yang Srikandi. Kalau si Bahrun sih boleh disebut Arjuna. Lagian dia kan mirip Arjuna. Berpoligami. Sedangkan saya. Ya sudah lah Srikandi juga tidak apa-apa. Toh saya punya nama lain;Echie, kalau sedang di dunia maya. Demi misi intelejen, menyamar jadi apapun memang harus dilakukan. Semakin tidak disangka berarti itu tanda kesuksesan seorang agen mata-mata.
“Nah, disini nih kita latihan memanahnya” kata Bahrun tiba-tiba.
“Wow, asoy!” decak saya.
Kami berhenti di sebuah lapangan berumput. Kondisinya turun 2 meteran dari jalan. Sedangkan di sisi lainnya ada sebuah sungai besar mengalir. Kondisi matahari pun lumayan bagus. Garis gradasi warna jingga terlihat jelas di cakrawala.
Tak lama berselang Bahrun mulai memberikan trik-trik untuk memanah kepada saya. Tapi tidak trik memanah hati wanita. Apalagi Zorayah. Soalnya dia pun ingin mendapatkan Zorayah. Sial kata saya. Dasar Amir yang tidak tahu diri. Tapi tak apa. Yang penting saya bisa menjalankan salah satu sunnah Rasul hari ini.
Ternyata memanah tidak semudah yang dikira. Saya kira tinggal tarik lalu lepaskan. Faktanya jauh lebih sulit dari itu. Tarikan pertama sukses membuat anak panah diam ditempat. Tarikan-tarikan berikutnya sukses membuat lengan kiri saya memar. Hampir saja saya putus asa. Tapi melihat Bahrun dengan enaknya melepaskan anak panah, hati saya seolah-olah seperti ikan yang kena pancing. Dan akhirnya dalam waktu yang tidak lama, saya dapat melesatkan anak panah tepat di sandal butut yang menjadi sasaran tembak. Yes. Amir kalah sekarang. Dia saja belum sempat membidik tepat sasaran.
“Kayaknya kalau nembak pakai AK-47 tidak seribet ini deh” kata saya.
“Ya iyalah!” jawab Bahrun dengan nada centil.
“Kapan-kapan kita pakai AK-47 aja yuk! Jaman begindang pakai panah”
“Ayo aja. Tapi jangan salah nanti semua peralatan seperti itu tidak berfungsi loh!” ingat Bahrun
“Hohoho… iya juga. Kembali pada perang konvesional ya, Run”
“Hooh”
“Mungkin tidak nanti ada orang seperti Arjuna atau Kresna?” tanya saya
“Maksudnya?” Bahrun nampak bego disini
“Iya mereka kan sekali melesatkan panah yang keluar ribuan panah. Atau bisa satu kali tarikan langsung sepuluh anak panah”
“Hehehe… Mungkin saja kali. Apalagi buat intel-intel seperti kita. Alat-alat intelejen kan canggih-canggih. Lagi pula lambang instansi kita kan Kresna. Tu tandanya suatu saat kita bisa seperti dia dalam memanah”
Saya berpikir. Ini Bahrun sejak kapan jadi gila begitu. Berpikirnya sudah tidak dalam konteks yang benar. Apa ini karena beratnya tugas intelejen di wilayahnya. Ah semoga saja tidak. Wong setiap saat dia bisa keluar masuk Ngruki. Setidaknya otak tidak lurusnya kan bisa dimanajemen ulang seperti yang Aa Gym bilang. Lagian kerjaan dia kan paling cuman keluar masuk penerbit-penerbit buku seperti Aqwam, Jazeera, Granada, Islamika, dll plus mengasuh Umar anaknya Imam Samudera.
“Cuy, gimana kalau kita makan dulu saja?!” ajak saya agar Bahrun bisa sedikit rileks
“Ayo! Kemana?”
“Gudeg ceker gajah, Cuy!”
“Mang gajah punya ceker?”
“Maksud saya gudeg ceker yang cekernya sebesar gajah. Biar kita kenyang selama setahun”
“Wah enak dong”
“Iya dong. Masa iya lah”
Meluncurlah dengan cepat itu kami dari arena panahan. Diatas motor Bahrun ngoceh membicarakan enaknya makan ceker sebesar gajah. Diam kau Bahrun. Kamu tidak tahu ya kalau makan ceker sebesar itu tandanya kamu juga (maaf) ee-nya tar segede gajah. Bayangin mau keluar darimana tuh.
Entah lewat jalan apa saya tidak mengerti. Yang jelas Bahrun ajak saya masuk jalan-jalan yang kesannya oldschool banget. Jalannya tidak terlalu besar. Namun kiri kanannya berdiri benteng besar. Selang beberapa meter ada pintu kayu bernuasa klasik. Diatasnya ada logo kerajaan plus nama-nama berbau ningrat Jawa. Sayang saya tidak sempet ngintip isi dibalik tembok itu. Soalnya Bahrun tidak mau berhenti. Padahal saya penasaran ingin melihat seperti apa orang yang darahnya biru itu. Makhluk seperti saya kah atau seperti Bahrun. Atau malah seperti ceker gajah.
Tepat di perempatan motor pun berhenti. Lampu merah. Untuk yang mau belok kiri , silakan jalan terus. Tapi untuk yang selain itu harus menunggu lampu hijau menyala.
“Sudah sampai” kata Bahrun
“Ye, kirain mau belok Run”
“Nggak kok. Itu tuh gudegnya”
Wow, warungnya lesehan. Pinggir jalan pula. Asyik buat godain polwan lagi tugas. Kalau nanti dimarahin Polwan. Ya tinggal tunjukin aja si Bahrun. Dia kan intel yang ditugaskan di Solo.
“Mangan, Mas?” itu ibu-ibu penjual gudeg sok akrab nanya ke saya.
“Sorry, I don’t understand” jawab saya
“???” ibu penjual gudeg terheran-heran
Akhirnya si Bahrun dengan bahasa Jawa kental membereskan semua masalah tadi. Dia memang ahli banget kalau disuruh bernegosiasi dalam bahasa Jawa.
“Oh, Mas ini bukan dari Solo ya toh?” si ibu kembali bertanya pada saya
“Iya bu. Saya dari Arab Saudi!”
"Ara Saudi tempat orang haji?"
“Memangnya ada Arab Saudi selain itu?” balas saya
“Ah si Mas ini ada-ada aja”
“Ada-ada bagaimana Bu? Saya ada disini kok dari tadi juga”
“Hahaha... Kok Arab Saudi bicaranya logat Sunda?”
“Begini Bu. Dulu saya ini adalah TKI dari Bandung. Karena kerja disana sudah lama dan setiap tahun mendapatkan predikat TKI terbaik, saya akhirnya direkrut jadi agen”
“Agen? Agen kompor kali! Hahaha..." ledek si Ibu
“Yah si ibu mah malah meledek. Saya kirim ke Abu Gharaib tahu rasa loh!” ancam saya ke si ibu penjual gudeg.
“Apa itu?”
“Swalayan khusus tempat jualan gudeg di Irak”
“Masa sih?” si ibu dengan mimik heran bertanya seakan tidak percaya
“Iya Bu. Dijamin Ibu bakal banyak saingan kalau berjualan disana. Sudah banyak saingan, Ibu juga tidak bisa menawarkan jualan Ibu. Soalnya disana bahasanya pakai bahasa Inggris dan Arab. Mau Ibu saya kirim kesana?”
“Ya, emoh lha Mas!”
Bahrun yang sedang mulai menyantap gudeg terlihat mesam-mesem. Sepertinya menahan sesuatu. Entah mesam-mesem kenapa. Ada dua kemungkinan kalau saya bilang. Pertama ingin boker. Yang kedua ada sesuatu yang konyol.
“Lha Mas sini lagi ngapain di Solo? Pake bawa panah segala lagi” si Ibu bertanya seperti seorang investigator.
“Saya lagi ada misi Bu. Lagi mencari agen CIA yang menawarkan bisnis warnet kepada orang-orang Solo. Kadang juga dia jualan gudeg. Sesekali bisnis batik di Pasar Klewer”
“Hahaha... Lha terus panahnya buat apa?”
“Ini panah untuk ditembakan ke agen CIA itu. Soalnya dia punya ilmu kebal. Kalau pakai senjata api dia kuat. Kelemahannya dia bisa dikalahkan dengan menembakan sesuatu dari senjata asli tanah kelahirannya. Berhubung dia lahir di pinggir Stadion Manahan, ya saya bawa panah ini untuk menghentikannya” jelas saya.
“Ah, Mas ini ngaco deh. Hahaha...”
“Ibu tidak percaya?”
“Ga tuh. Hahaha...”
“Sok saja Ibu tanya temen saya ini. Bahrun namanya. Dia ini intel yang tugasnya khusus di Solo.”
“Beneran intel Mas?” si ibu bertanya ke Bahrun yang duduk disamping saya.
“Bukan! Temen saya ini emang suka asal Bu” jawab Bahrun sambil tangannya dia geleng-gelengkan.
“Tuh kan! Bukan Mas kata Mas ini juga”
“Si Ibu mah. Mana ada intel mengaku? Kalau ada intel mengaku itu namanya intel Melayu. Intel abal-abal. Yang asli itu tidak bakalan mengaku”
“Ndak percoyo!” si Ibu sekarang geleng-geleng mengikuti tangan Bahrun tadi.
“Dikasih tahu si Ibu mah. Eh, atau si Ibu saya panah saja ya?! Jangan-jangan Ibu ini intel yang sedang saya cari.”
“Hahaha... Bukan lah Mas” si Ibu tertawa menyebabkan mulutnya dapat dimasukan bola tenis.
“Mau Bu?”
“Ayo kalo berani!” tantang si Ibu kecentilan
“Tapi tidak jadi ah. Biar teman saya saja yang memanah Ibu. Tepatnya memanah hati Ibu. Doi ini pinter kalau memanah yang seperti begitu, Bu”
Bahrun malah ketawa. Mungkin didalam hatinya dia mengatakan iya dan menyadari kalau apa yang saya katakan memang kenyataan yang tidak bisa ditampik. Atau bisa juga dia tertawa karena didalm hatinya dia sedang mengamati kemolekan si ibu penjual gudeg. Entahlah. Biar itu menjadi urusan dia sendiri. Saya tidak bisa melarang dia untuk jatuh hati pada penjual gudeg.
“Bu, sudah dulu ya. Saya mau melaksanakan Kesamaptaanjas yang lain lagi nih”
“Apa itu? Ibu ndak ngerti”
“Melaksanakan sunnah Rasul yang lain. Mau renang Bu. Di Hotel Lorin. Ibu mau ikut?”
“Boleh. Hahaha...” si Ibu ini memang doyan tertawa kayaknya atau mungkin juga saudaranya si Bambang Srimulat. Entahlah.
“Nanti dagangannya bagaimana Bu?”
“Ya jualan aja disana”
“Wah kalau disana tidak boleh jualan gudeg Bu. Yang boleh cuma AK-47”
“Apa lagi itu AK-47?”
“Ak-47 itu Angling Karma. Umur 47 tahun. Itu dia pamannya Angling Dharma”
“Hahaha...”
“Umur Ibu sudah bukan 47 kan?”
“Tau aja. Hahaha...”
“Ibu mah ketawa saja. Sudah ah kalau begini terus saya bisa tidak jadi perginya”
Saya beri kedipan mata ke Bahrun untuk segera pergi dari lokasi yang sudah tidak kondusif itu. Sambil berbisik saya berkata ke Bahrun.
“Kasih bom si Ibu sama elu ya!”
“Hah?”
“Bayar gudegnya maksud saya!”
Bahrun mengangguk-angguk tanda setuju.
“Bu, ada pesan-pesan terakhir buat saya?” kembali saya bertanya utnuk mengakhiri pertemuan yang indah itu.
“Tangkepin terorisnya yang banyak ya! Hahaha...” kembali si ibu mengakhiri pembicaraan dengan tawa.
“Iya insyallah nanti saya tangkap tentara Amerika dan Obama cs deh Bu. Mereka kan biangnya teroris”
“Mas, ada pesan buat Ibu juga? Hahaha...” selalu ada tawa lagi dari si Ibu
“Saya hanya mau berdoa saja Bu. Semoga gudeg Ibu bisa diekspor hingga Arab Saudi. Tempat saya dinas”
“Hahaha...”
“Sudah ya Bu. Tugas menanti saya. Bye!"
Diposting oleh Begundal Militia di 13.18 2 komentar
Snowie & Brownie R.I.P

Snowie & Brownie yang baik, tadi pagi saya baru selesai menjalankan ibadah boker. Itu saya lalu melintas ke ruang depan. Menyalakan TV seolah-olah api. Tapi karena tidak ada yang menarik hati saya lantas mematikannya, menyebabkan saya seakan-akan seorang pembunuh berhati baja.
Snowie & Brownie, ya itu saya tadi pagi. Hatinya masih membaja seperti Clark Kent si manusia baja. Tapi tidak sekarang. Tidak setelah saya melihat meja makan yang tidak penuh oleh makanan. Sumpah bukan karena meja makanan yang kosong kemudian hati saya tidak lagi membaja. Bukan. Bukan karena itu. Dari dulu memang itu meja mau saya ganti namanya menjadi meja kosong. Soalnya dia tidak pantas disebut meja makan karena diatasnya tidak pernah ada makanan. Yang ada malah kosong. Entah kosong itu makanan atau bukan. Yang jelas kosong.
Snowie yang seputih salju, luluh lantaknya hati baja ini adalah setelah itu saya melihat rumah kayu tropis kalian. Rumah yang menjadi tempat kalian indehoy ternyata tidak dapat membuat kalian asoy. Buktinya, kau malah terbujur kaku dan Brownie diam membisu. Hingga akhirnya menyusul kau meninggalkan pilu.
Brownie yang bukan Brownies Amanda, disaat-saat seperti ini entah apa yang saya rasakan. Perasaan sedih bingung tercampur baur menjadi satu. Haruskah saya meratapi kepergian kalian seperti kaum Syiah meratapi kematian Imam Hasan & Husein dengan memukuli badannya hingga berdarah-darah? Bukannya tidak mau, disuntik saja saya takut. Apalagi lihat darah. Atau haruskah saya masuk ke dalam kamar, kemudian menyetel lagu “Too much love will kill you”nya Queen? Atau malah bersurut dalam sujud panjang, menguraikan airmata yang pastinya panjang-panjang juga? Apa yang harus saya lakukan? Membaca Al Qur’an seraya menengadahkan tangan, dan mengeluarkan endapan kesakitan saya yang paling dalam: airmata?
Snowie & Brownie yang caem, sesungguhnya, kalian tak salah mengenai hal ini, sebab jodoh itu sudah digariskan oleh Allah. Mengapa saya bilang jodoh? Karena setiap pertemuan sudah diatur dan dipasang-pasangkan oleh Allah. Jadi jika kalian bukan rizki menjadi sahabat saya, maka tak ada gunanya saya memaksa kalian agar dapat bangkit dari kubur seperti halnya Suzzana dalam film Arwah Penasaran.
Snowie & Brownie yang sholeh dan sholehah, jika saya mempercayai bahwa Allah mendaraskan takdir pada mahluknya maka rasanya tidak perlu saya untuk mengulang kembali menggunakan doa yang isinya mungkin pernah kalian lihat di komputer saya. Masih ingat tidak kalian dengan email itu? Email buat seorang yang sekarang damai disisi-Nya. Ah rasanya tidak perlu saya tulis. Soalnya tidak nyambung.
Snowie & Brownie yang imut-imut, sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih karena kalian telah menghiasi hari-hari saya. Jujur saja, kehadiran kalian kemarin itu membuat saya seperti terbang entah ke langit yang ke berapa. Kalaulah langit itu bertingkat seribu, maka saya terbang ke langit yang ke seribu satu. Bahkan menembus batas-batas horizon waktu yang terbentang dalam alam raya ini.
Brownie yang imut kayak kue bolu, saya tidak akan menggenapi Asmaul Husna menjadi seratus dengan menamakan Dia: “Allah Yang Maha Kejam”, karena kejadian ini. Saya sudah menyadari sejak dulu, bahwa ketentuan Allah kadang-kadang memang aneh seaneh manusia itu sendiri. Terkadang umur bukanlah suatu penentu sebab terjadinya kematian. Logika matematis tidak bisa dipergunakan dalam masalah ini.
Snowie yang bulunya halus, karena bukan masalah matematislah makanya tadi saya meminta izin Um-Um untuk membuat tahlilan tepat di hari ke-3 kematian kalian nanti. Sengaja saya bikin hari ke-3 bukan ke-7 sebab setelah angka 2 adalah 3 bukan 7. Namun itu urung saya lakukan. Padahal saya sudah membuat undangan tahlilan untuk disebar ke tetangga. Gantinya saya kasih saja mereka kue brownies kukus Amanda special dari Bandung. Sambil tak lupa saya selipi tulisan mengenang wafatnya Snownie & Brownie. Ketika tetangga tanya siapa kedua nama tersebut, saya jawab kelinci.
Snowie & Brownie yang saya yakin cerdas, tahu tidak kalau acara tahlilan kalian banyak dipertanyakan? Mereka mengatakan kalau acara untuk kalian ini adalah mengada-ada. Aneh. Lantas saya jawab demikian; kalaulah acara tujuh bulanan itu bukan mengada-ngada. Begitu juga acara 7 hari, 40 hari, dan 100 hari juga bukan acara yang tidak ada salahnya untuk dilakukan, lantas apa salahnya saya mengumpulkan tetangga untuk silahturahmi? Toh sama-sama baiknya. Sama-sama saling menjalin ukhuwah. Lagian kan mereka belum sempat kenalan dengan kalian. Bener ga?
Snownie & Brownie yang kalem tapi centil, beruntung undangan saya direspon tetangga. Sehingga prosesi pemakamanmu tidaklah jauh berbeda dengan pemakaman-pemakaman seperti yang ada di film-film Barat itu. Meski tidak sebanyak yang dikira, namun Revo, Mumu & Arya senantiasa hadir mengiringi kepergian kalian. Tak peduli mereka masih kecil dan sedang disuapi nasi oleh ibunya masing-masing namun mereka dengan khusyuk mengikuti perjalanan akhir kalian yang hening. Syahdu.
Snowie yang putih seperti kue putri salju, sampai sekarang Revo selalu memanggil-manggil kalian. Entah apa yang harus saya katakan padanya. Karena kalau pun saya beri tahu dia tidak akan mengerti. Yang ada malah dia terus mencoba untuk menggali kubur kalian seperti halnya Sumanto. Tak lama berselang, saya berikan Revo foto Cici Paramida. Kenapa saya berikan itu? Karena dia selalu memanggil-manggil kalian dengan Ci..Ci… Barangkali saja dengan foto Cici Paramida tertabrak mobil akan berhasil meredakan kehilanganya akan kalian. Sayang usaha saya tidak berhasil.
Brownie yang coklat seperti baju Pramuka, ketidakberhasilan ini sama halnya dengan ketidakberhasilan saya menyelamatkan kalian dari dijadikan sate kelinci oleh Asep Rabbit di Lembang sana. Sumpah padahal saya sudah mencoba untuk total mengurusi kalian. Meskipun saya sadar ini kali pertama saya memelihara hewan. Tapi saya tidak main-main dalam mencukupi nafkah lahir dan batin kalian.
Snowie & Brownie yang menggemaskan, ratusan situs bergambar kelinci sudah saya kunjungi dan saya ambil ilmunya. Bahkan sudah saya praktekan sebagian pada kalian. Hanya saja sampai sekarang saya masih belum bisa menarik hubungan antara kalian dengan situs berlogo kepala kelinci. Dilihat dari gambar, tidak ada kesamaan antara mereka dengan kalian. Begitu pun dengan namanya. Kalian kelinci, mereka Playboy. Aneh kan? Kok bisa playboy jadi kelinci? Kok bisa kelinci jadi playboy. Padahal Brownie meskipun jantan tidak pernah iseng ma kelinci betina lain. Begitu juga dengan Snownie. Meskipun betina, dia tidak pernah pamer aurat seperti di situs Playboy.
Snowie & Brownie yang baik, cukup rumit bagi saya untuk menetralisir keadaan ini. Kejadian ini datangnya terlalu tiba-tiba, setelah semuanya terasa sesuai dengan harapan saya. Tetapi saya yakinkan dalam diri ini, bahwa saya bukan penguasa masa depan. Saya tak tahu rencana Allah dalam masalah ini. Namun meskipun begitu saya harus tetap melangkah kembali. Memegang kontrol penuh atas diri serta tetap menggunakan pikiran yang sehat.
Snownie & Brownie yang imut-imut, kalaulah ini adalah yang terbaik menurut-Nya, Insyallah semoga itu menjadi yang terbaik bagi kita. Hanya saja saya sampai sekarang masih bertanya-tanya. Entah kalian mempercayai hadits ahad atau tidak. Apa yang kau rasakan di dalam kubur sana? Terkukung dalam sebidang tanah seukuran tubuh. Apa juga yang kalian rasakan ketika Malaikat Maut kemarin memisahkan ruh kalian dari jasad kalian yang mungil itu? Benarkah seperti diiris pedang? Lalu apakah kalian disana ditanya malaikat dengan pertanyaan “Ma rabbuka?” Semoga kalian bisa menjawabnya. Saya yakin kalian bisa menjawabnya dengan benar. Soalnya kalian bukan Abu Jahal, Firaun apalagi George Bush. Sebab kalau kalian tidak sampai bias menjawabnya, kemaluan kalian bisa dicolok, badan kalian dipecut dan disetrika berulang-ulang.
Snownie & Brownie, ini galian terakhir kubur kalian sudah saya selesaikan. Jasad mungil nan lucu kalian sudah saya pegang erat. Saya bawa kalian menuju tanah berlubang itu. Sebersit ingatan menghentikan laju saya; KAPAN SAYA SEPERTI INI???
Dari, seorang lelaki yang berpura-pura tegar,
Dari seorang lelaki yang selalu mengharap dan mendoakan, agar kalian menjadi golongan kelinci yang syahid yang akan memberikan syafaat pada pemiliknya.
Diposting oleh Begundal Militia di 07.26 4 komentar
Tahfidzul Quran Sejak Dini, Kenapa Tidak?

Maka jika kita menginginkan anak-anak kita berbahasa yang baik dan berprilaku luhur, dekatkanlah mereka dengan al-Qur’an. Jika kita mengharapkan anak-anak kita mudah taat dan bersegera dalam menjalankan syari’atNya, buatlah mereka mencintai al-Qur’an dan menghapalnya.
Siapapun kita, sebagai orangtua muslim tentu mengharapkan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Taat pada Allah Swt, ittiba’ kepada Rasulullah Saw, taat syari’atNya, berbudi pekerti yang baik dan berbakti pada orangtuanya.
Anak yang shalih dan shalihah adalah anak-anak yang benaknya dipenuhi dengan al-Qur’an, bahasanya adalah bahasa al-Qur’an dan perilakunya adalah cerminan al-Qur’an. Sebaik-baik bahasa adalah bahasa al-Qur’an, sebaik-baik tuntunan adalah al-Qur’an.
Maka jika kita menginginkan anak-anak kita berbahasa yang baik dan berprilaku luhur, dekatkanlah mereka dengan al-Qur’an. Jika kita mengharapkan anak-anak kita mudah taat dan bersegera dalam menjalankan syari’atNya, buatlah mereka mencintai al-Qur’an dan menghapalnya.
Mengapa Tahfidzul Qur’an begitu urgen?
”Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (TQS. Al-Isra : 9)
Rasulullah Saw bersabda :
”Orang yang mahir dengan al-Qur’an akan bersama-sama dengan rombongan malaikat yang mulia dan senantiasa berbuat baik... (HR. Muslim dari Aisyah ra)
”Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an akan datang pada hari kiamat kelak memberi syafaat (pembelaan) kepada ahlinya” (HR. Muslim dari Umamah al Bahili ra)
Dengan tahfidzul qur’an tentu saja anak akan menjadi dekat dengan al-Qur’an. Anak pun akan menjadi lebih peka terhadap suara dan gaya bahasa al-Qur’an, sehingga akan muncul rasa tidak senang terhadap suara dan gaya bahasa yang kasar.
Tahfidzul qur’an juga akan berefek meningkatkan konsentrasi anak. Dan jika ini terjadi, maka sangat dekat kemungkinan anak kita untuk berkonsentrasi dalam menerima ilmu dan pemahaman dalam proses belajar mengajar, termasuk akan mudah mengingat hal apapun yang kita tanamkan kepadanya.
Anak juga akan memiliki hati yang lembut, karena hal itu dijanjikan Allah dalam firmanNya ;
”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram...” (QS. Ar-Ra’d : 28).
Tidak hanya itu, tahfidzul qur’an juga akan menghidupkan jiwa yang mati. Sabda Rasul Saw :
”sesungguhnya orang yang didalam hatinya tidak ada al-Qur’an sedikitpun (yang dihapal), bagaikan rumah yang akan roboh” (HR. Tirmidzi)
Allah juga memberikan apresiasi bagi orang-orang yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an, Sabda Rasul saw : ”Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya”
Hadits ini juga memberi motivasi untuk para orang tua agar turut serta dalam proses ’membenakkan’ al-Qur’an pada anak-anaknya.
Bagaimana arah pembelajaran Tahfidzul Qur’an kepada anak
Pembelajaran tahfidzul qur’an akan memberikan motivasi kepada anak untuk selalu meraih derajat tertinggi di hadapan Allah Swt dengan menghapalkan al-Qur’an. Benak anak kita pun akan dipenuhi dengan al-Qur’an. Memorinya akan banyak terisi oleh ayat-ayat Allah, sehingga para orang tua akan lebih mudah mengingatkan dan mengarahkan anak-anaknya.
Selain itu, tentu saja tahfidzul qur’an akan membuat anak-anak kita mudah dalam menguasai dalil-dalil syara’, dan akan jauh lebih mudah bagi para orangtua untuk menanamkan pemahaman syari’ah kepada anak-anaknya.
Tips tahfidz qur’an untuk anak
Pilih waktu yang nyaman dan suasana yang menggembirakan. Tidak masalah jika anak-anak sedang bermain. Menghapal al-Qur’an tidak berarti posisi anak dengan guru/orang tua yang mengajarkannya ’face to face’. Cukup dengan memastikan pendengarannya ’on’, meski dia melakukan aktivitas (misalnya menulis, menggambar, bermain puzzle, dll).
Menghapal alqur’an bisa dilakukan secara terjadwal (misal ba’da shalat subuh dan ba’da shalat maghrib, atau menjelang tidur) atau tidak terjadwal (saat anak main atau belajar dengan orangtuanya)
Bacakan satu surat utuh (jika surat pendek) dengan cara ; orangtua membacakan satu ayat, diulang oleh anak satu ayat. Jika anak masih Batita, orangtua cukup membacakan satu surat penuh berulang-ulang, minimal 10 menit.
MP3, radio atau multimedia dapat membantu, jika orangtua memiliki keterbatasan dalam hapalan al-Qur’an atau mengalami kesulitan untuk membacakan ayat-ayat al-Qur’an dengan suara yang merdu.
Jika anak melakukan kesalahan dalam hafalan, jangan memintanya untuk mengulanginya lagi, karena hal itu akan membebaninya dan membuatnya berkecil hati. Cukup dengan membacakan ulang kalimat ayat yang benarnya.
• Buatlah pola muraja’ah (mengulang) yang mengasyikkan. Mulailah dengan bercerita tentang satu tokoh atau satu kisah yang berkaitan dengan ayat-ayat yang sedang dihapal. Lalu, bacakanlah ayat/surat yang telah dihapalkan anak secara berurutan dengan nyaring dang gembira. Biarkan anak-anak kita mengikutinya.
• Jangan takut menetapkan target tahfidz untuk anak (contoh SAP tahfidz Faqih dan Hamasah).
Wallahu a’lam bishshawwab.
Yuli Kusumadewi Darmadi, S.Si
---------------------------------------------------------------------------------------
SAP Tahfidzul Qur’an M. Faqih AK dan Hamasah Muthmainnah
Per 21 minggu (kurang lebih 1 semester). Mulai Juli – Desember 2009
Target 20 surat + 3 surat Al-Muta’awwidzaat (al-Ikhlas, anNaas dan al-Falaq)
Minggu ke Nama Surat Jumlah Ayat Hari/Tgl Frekuensi
1 Al-‘Ashr-AnNashr Sen-Rab 10 menit 20 kali ulangan
2 Al-Kautsar-Quraisy kam-jum idem
3 Al-Lahab 5 Sen-Sab idem
4 Al-Kaafirun 6 idem idem
5 Al-Fiil 5 idem idem
6 Al-Qadar 5 idem idem
7 Al-Maa’un 7 idem idem
8 At-Takaatsur 8 idem idem
9 Al-Humazah 9 idem idem
10 Al-Zalzalah 8 idem idem
11 At-Tiin 8 idem idem
12 Adl-Dluha 11 idem idem
13 Al-Insyirah 8 idem idem
14 Al-‘Adhiyat 11 idem idem
15 Al-Qari’ah 11 idem idem
16 Al-‘Alaq 19 idem idem
17 Al-‘Alaq 19 idem idem
18 Al-A’laa 19 idem idem
19 Al-A’laa 19 idem idem
20 Al-Bayyinah 8 idem idem
21 Al-Bayyinah 8 idem idem
Pola muraja’ah
Setiap 4 minggu.
Diposting oleh Begundal Militia di 06.38 0 komentar
