Ke Kebun Raya#2 (KRB)

Jumat, 14 Agustus 2009



Akhirnya sampai juga saya ke Stasiun Bogor. Itu saya tahu setelah melihat tulisan Bogor di dinding stasiun. Dan makin yakin ketika kereta sudah tidak mau maju lagi. Mundur pun tidak. Dia memilih diam. Dan terus diam. Menyebabkan dirinya seperti batu.

Khawatir keretanya mundur lagi ke Jakarta, saya giring Revo & Ummi Brun-brun. Menyebabkan saya seolah-olah sedang menggiring bebek. Saya di belakang, Revo & Ummi Brun-brun di depan. Dia, Ummi Brun-brun, hanya mematuhi instruksi dari saya saja. Belok kanan atau kiri, maju atau mundur, semua saya yang arahkan. Tidak ada lagi selain saya. Masa Revo.

Coba saja lihat. Ketika saya suruh Ummi Brun-brun maju, dia pun ikutan maju. Maju bergerak ke depan seperti orang-orang itu. Bergerak kesana. Ke arah sana. Ke arah gerbang EXIT. Entah siapa yang mengajarkan orang-orang pergi ke sana. Saya pun jadinya ikut-ikutan. Seperti mereka. Bergerak kesana.

Namun saya pikir itu adalah sebuah ide cemerlang. Namun meskipun cemerlang saya tidak yakin kebiasaan ini berasal dari ide orang Bogor. Pasti lihat di buku. Pasti search di internet. Pasti meniru Barat. Sebab sejak kapan orang Bogor di kamus Sunda-nya ada kata EXIT. Pasti tidak ada.

Kami akhirnya menyusuri lorong kecil itu. Hingga sampailah di halaman stasiun. Disana sudah banyak orang menyambut kedatangan kami. Membuat saya seolah-olah menjadi David Beckham. Atau Lionel Messi. Semua tersenyum, menyapa, dan mengajak saya bicara. Terharu saya jadinya. Belum masuk TV saja sudah menjadi artis. Apalagi kalau sudah masuk TV. Bisa jadi saya diidolakan tua dan muda.

“Naek beca Pak?” seorang bertanya pada saya.

“Ka Kebon Raya Pak?” seorang yang lain bertanya pada saya. Lagi.

“Sok Pak! Enggal (Ayo Pak! Cepaat)”

“Sabaraha lami (Berapa lama)?” tanya saya.

“Sapuluh menitan lah. Insyallah (Sepuluh menit saja. Insyallah)”

“Naha Nganggo Insyallah sagala (Kenapa pakai Insyallah segala)?”

”Nya Insyallah atuh Pak (Ya insyallah dong Pak)”

”Insyallah Arab atanapi Sunda (Insyallah Arab atau Sunda)?”

Nge-hang dia ditanya seperti itu oleh saya. Larak lirik kanan kiri. Melihat temannya. Mereka juga sama tidak mengerti.

”Ah moal wae, Pak, (Ah tidak jadi, Pak),” kata saya, ”Abdi peryogi nu dugina 30 Menit. Upami 10 menit mah engke kedah ngantosan 20 menit. Hawatos Japra teu acan angkat ti bumina (Saya butuh yang sampai 30 menit. Kalau 10 menit nanti harus menunggu 20 menit. Kasihan Japra belum pergi dari rumahnya)”

”Nya ku abdi engke dicandak kukulilingan we heula Pak (Ya oleh saya dibawa keliling dulu saja, pak)”

”Hawatos atuh ka Bapak kedah ngaboseh nanjak sareng mudun (Kasihan Bapak harus mengayuh naik dan turun)”

”Oh”

”Bapak kenal Japra teu (Bapak Kenal Japra tidak)?” tanya saya.

“Rerencangan Bapak (Temennya Bapak)?”

“Muhun (Iya)”

“Heunteu Pak (Tidak Pak)”

“Saurna kapungkur dicopet di dieu. Padahal anjeuna nu gelo. Tega pisan copet teh nyopet nu gelo (Katanya dia pernah dicopet disini. Padahal dia ini sakit jiwa. Tega banget copet mencopet orang sakit jiwa)”

“Ah didieu mah seueur copet Pak (Ah disini memang banyak copet Pak)”

Suara peluit berbunyi. Wasit goblogkah? Ternyata bukan. Itu polisi sedang meniup peluit agak becak dan angkot tidak menyemut di gerbang stasiun.

Para pilot becak dan tukang angkot menggerakan kendaraan mereka. Akhirnya. Sejurus itu, saya lekas-lekas giring lagi Revo & Ummi Brun-brun. Lekas-lekas saya suruh mereka masuk 03. Lekas-lekas saya suruh mereka duduk di pojok belakang.

Angkot pun kemudian melaju. Meninggalkan polisi yang seperti wasit. Meninggalkan Taman Topi. Lalu bergerak ke arah gereja tua. Belok kiri melewati Gedung Pemda Bogor yang diseberangnya nampak rusa-rusa Istana Bogor sedang dicekoki wortel oleh pejalan kaki.

Lalu entah kemana lagi. Saya kurang tahu nama-nama jalan di Bogor. Tapi sedikitnya saya tahu arah angkot 03 ini. Dia pasti akan melewati banyak pohon rindang raksasa. Lantas banyak bangunan tua peninggalan Meneer-meneer. Sangat indah. Sangat tertata. Apik. Romantis.

”Bangunan Belanda-nya bagus-bagus ya?” itu Ummi Brun-brun tiba-tiba memecah kesunyian.

”Iya,” jawab saya, ”Kayaknya kalau lihat kayak begini, kita lebih baik mengajukan proposal ke Belanda”

”Proposal apa?”

”Proposal permintaan dijajah lagi sama mereka. Biar bangunannya kuat. Tertata rapih. Pohonnya bagus-bagus”

”Hehehe...” itu Ummi Brun-brun malah tertawa.

Daripada tertawanya berlebihan, saya minta sopir menghentikan angkotnya di depan Kampus IPB. Benar kan kata saya. Ummi Brun-brun akhirnya berhenti tertawa. Dia sibuk konsentrasi mencoba keluar dari angkot. Sambil gendong Revo tentunya.

Tepat diseberang sana sudah berkumpul banyak orang. Iya tepat dibawah bangunan yang diatasnya ada tulisan Kebun Raya Bogor. Itu saya kemudian menjadikan diri saya sebagai Komo. Saya melintas jalanan. Eh, mobil-mobil berhenti. Semua jadinya malah melihat saya, Ummi Brun-brun, dan Revo. Kenapa ya mereka tiba-tiba berhenti. Saya tidak tahu.

Di bangunan yang tadi saya bilang. Tersebutlah seorang pria. Pria yang gila kerja. Workaholic. Bayangkan saja hari Minggu begini dia masih berkerja. Disaat semua orang libur. Disaat orang seperti saya malah ke Kebun Raya Bogor. Eh, dia malah bekerja. Saya menduga dia pasti kaya raya. Sebab kerja tiada henti. Atau jangan-jangan dia pemilik Kebun Raya???

”Boleh masuk Pak?” tanya saya dengan senyum dimanis-maniskan.

”Iya boleh. Berapa orang?” dijawab oleh si pria tadi. Benar tebakan saya. Dia pemilik Kebun Raya. Buktinya dia memberi saya izin. Kalau pun bukan pemiliknya, saya menduga dia ini pasti pemegang saham Kebun Raya Bogor.

”Banyak Pak”

”Rombongan?”

”Iya. Rombongan Rumah Sakit Jiwa Bandung”

”Oh ya?”

”Iya”

”Berapa orang?”

”Berapa ya?” saya sedikit bingung. Soalnya yang datang masíh belum pasti jumlahnya. Yang sudah mengaku akan datang, saya hitung dibawah 12 orang.

”Sekitar 12 orang”

”Sebentar ya”

Si Bapak pemilik KRB berjalan menuju teman dibelakangnya. Ada 2 orang disana. Tiga orang jadinya termasuk si Bapak tadi. Mereka mengobrol. Saling bertukar pandang. Saling mengoceh tak karuan. Sambil sesekali melirik saya.

Tak lama. Si Bapak kembali lagi.

”Dari Rumah Sakit Jiwa Bandung?”

”Tidak boleh ya Pak kalau orang Bandung kesini?” sengaja tidak saya jawab pertanyaan si Bapak. Biar dia semakin bertanya-tanya.

”Ih boleh atuh. Siapa saja juga boleh masuk. Ini kan umum”

”Oh saya kira khusus orang Bogor dan orang Belanda saja”

”Ya nggak segitunya atuh Pak”

”Kalau saya bertiga boleh masuk duluan?”

”Berdua Pak. Anak dibawah 5 tahun tidak dihitung”

”Jadi boleh Pak?”

”Boleh saja. Tapi yang lain mana?”

”Nanti Pak. Mereka mah menyusul. Mungkin 1 jam lagi. Masih di Cikunir. Soalnya tadi ada yang mengamuk”

”Ngamuk?” Mereka suka ngamuk?”

”Kadang sih Pak. Makanya dibawa kesini juga. Ini bentuk pengobatan terapi khusus”

”Oh...”

”Jadi boleh saya masuk duluan?”

”Oh iya silakan saja”

”Berapa?”

”Jadi 18 ribu rupiah”

Saya keluarkan uang dua puluh ribuan dari dompet. Lalu berikan pada si bapak.

”Saya heran. Sekarang-sekarang banyak uang palsu beredar. Kebanyakan yang 20 ribu dan 50 ribu” kata saya setelah uang dipegang si Bapak dan tiket dipegang saya.

”Iya...” kata si Bapak. Dia langsung terawang, raba, dan periksa uang dari saya. Kayaknya asli. Soalnya dia mengembalikan 2 ribu rupiah pada saya.

Tanpa banyak bicara lagi, saya giring lagi Revo & Ummi Brun-brun menuju ke dalam. Menuju Kafe Dedaun. Yang dulu halamannya sempat dijadikan landasan helikopter si Kampret Bush. Sayang sekarang proyek seharga 2 milyar itu tidak ada bekasnya sama sekali. Sialan kata saya.

Ummi Brun-brun yang belum pernah masuk terkagum-kagum. Revo malah minta turun. Lantas berlari-lari. Saya berikan bola yang saya pegang sejak dari rumah padanya. Buat dia tendang-tendang. Mumpung lapangannya luas. Tidak seperti di rumah yang serba sempit.

Saking luasnya saya bingung harus mencari tempat dimana. Tempat buat kumpul bareng kawan-kawan yang sebentar lagi bakal datang. Itu rumput yang ada pohon berbuah kelapa besar akhirnya saya pilih. Lumayan teduh. Meski sedikit tersembunyi. Biarlah kata saya. Toh yang datang pun memang orang-orang berbahaya. Jadi lebih baik dijauhkan dari manusia-manusia kebanyakan.

Menit menit berlalu. Akhirnya satu persatu orang-orang yang saya bilang dari Rumah Sakit Jiwa Bandung datang. Pertama datang Beybek, Purwa, dan Naura. Mereka perwakilan dari RS Jiwa Cilendek Bogor. Tak lama datang Japra, Ira, dan Nyawa. Menyusul kemudian Anak Baik, istrinya, Fatih, Basoka, Lia, Hana, dan Iah. Yeahhh.... party dimulai.


Bukan keterangan tambahan:
Isi party tidak dipublikasikan karena rahasia dan banyak kata-kata yang tidak akan lolos lembaga sensor. Bagi kawan-kawan yang tidak hadir, diminta bersabar dalam usaha penyembuhan penyakitnya.

Tersungkur

Rabu, 12 Agustus 2009



Jangan sekali pun kau muntahkan peluru itu
pada dada yang terpaku

Sebab sekali dada terkoyak,
sejuta kepal terhentak



...kepada kawanku yang tersungkur; kau telah menang kawan!...



Ke Kebun Raya#1 (Naik Kereta)



Pagi. Jam 6 kurang 100 menit. Seperti biasa itu saya sudah bangun tidur. Tapi tidak tidur lagi. Dan tidak bangun lagi. Tidak seperti yang (alm) Mbah Surip nyanyikan.

Setiap jam segitu, mata saya memang otomatis selalu terbelalak. Bukan terbelalak akibat melihat Kuntilanak. Ini sudah otomatis dari sananya. Mungkin ketika pabrik mata saya memproduksi mata saya, mereka sudah mengaturnya seperti ini.

Hanya saja pagi ini saya tidak bangun seperti biasa. Seperti hari-hari biasa maksudnya. Hari ini saya harus ke Kebun Raya Bogor. Bertemu dengan para eks pasien RS Jiwa Bandung yang dulu sempat dirawat bareng dengan saya.

Revo masih tidur di kasur. Kebetulan kata saya. Saya bisa persiapan dulu dengan tenang. Tanpa direcoki dia. Soalnya semalam saya tertidur lebih awal. Kecapekan habis bersih-bersih rumah kayaknya.

Saya pergi ke dapur. Membuat dapur berantakan. Membuat akhirnya lengkeng dicampur sirup. Membuat telur dadar menjadi spesial. Membuat mendoan menjadi hangat. Membuat tas saya menggembung oleh barang yang sengaja saya masukan.

“Kita naik kereta ke stasion ya?”saya sedikit berteriak ke orang yang ada di dalam kamar mandi.

“Ya iyalah” Ummi Brun-brun menjawab dari dalam kamar mandi. Dia tadi yang membantu saya membuat dapur berantakan. Akibatnya dirinya menjadi kecapekan. Mungkin karena itulah dia pergi ke kamar mandi. Tapi hal itu membuat saya bertanya-tanya. Kenapa capek malah pergi ke kamar mandi.

“Lagi mandi?” tanya saya

“Cuci muka” dia kemudian membuka pintu kamar mandi

“Cuci muka saja kok ditutup?”

“Sekalian pipis tadi”

“Memang bisa pipis sambil cuci muka?”

“Hah???”

Ummi Brun-brun terhenyak dengan pertanyaan itu. Tidak bisa menjawab. Seperti biasa.

Setelah itu adegan-adegan kehidupan saya mengalir bagai air. Tapi saya kira tidak semua adegan harus dibahas. Termasuk tidak usah dibahas, bagaimana kalau setelah kami keluar pagar rumah ternyata Ummi Brun-brun lupa membawa helm.

Jagakarsa, pagi itu sudah ramai. Motor sengaja saya bawa pelan-pelan. Tidak saya gunakan seperti orang balapan. Maklumlah namanya juga melewati pasar. Kalau saya bawa motor seperti pembalap, bisa-bisa saya digebukin orang sepasar. Dari pasar, saya lajukan motor ke pertigaan jalan Jagakarsa – Lenteng Agung. Lalu belok kiri setelah tanjakan. Terus. Lurus menyusuri Lenteng Agung. Nah itu disana. Di depan kampus IIP saya putar arah motor menuju Depok. Lantas lurus lagi. Namun tidak sampai Depok. Sekitar 500 meter saya belokan motor ke kanan. Masuk ke Stasiun Lenteng Agung.

Akibatnya motor saya parkir. Revo dan Ummi Brun-brun terpaksa harus merelakan motor ditinggal sendiri. Eh, banyakan deng. Sudah banyak temannya disana. Malahan ada penunggunya juga. Jadi mirip kuburan pikir saya.

“Piknik Pak?” tanya si penunggu tadi. Ramah. Penuh senyum.

“Ih kok tahu?” balas saya kembali bertanya.

“Keliatan” si penunggu tersenyum. Matanya melirik ransel saya yang menggembung dan bola plastik yang saya pegang dari tadi.

“Sebenarnya sih mau reunian”

“Temen sekolah Pak?”

“Bukan. Teman sesama mantan pasien Rumah Sakit Jiwa. Ada Japra, Basoka, adiknya Wati kakaknya Iwan. Bebek, banyak deh pokoknya”

“Oh” mimik si penunggu berubah drastis.

“Mau ikutan, Pak?” tanya saya mencoba membalas keramahan si penunggu.

“Eh… Eh… Nggak . Makasih”

“Kalau Rumah Sakit Cilendek jauh ya dari Kebun Raya?”

“Saya kurang tahu Pak?”

“Oh ya sudah. Saya nitip motor ya?!”

“Heeh”

Saya bawa Revo dan Ummi Brun-brun menjauhi si penunggu tadi. Biarlah dia begitu kata saya. Biar motor saya nantinya tidak banyak diusik. Memangnya berpengaruh ya dengan cara seperti itu? Tidak tahu.

Di depan saya ada dua orang. Pakai seragam. Ganteng. Bukan berarti saya suka orang ganteng. Ini karena saya jujur saja apa adanya.

“Kemana Pak?” tanya salah satu dari si ganteng maut tadi.

“RS Jiwa Cilendek”

“Hah?”

“Itu dekat Kebun Raya Bogor”

“Oh Bogor. Pakai apa?”

“Pakai kereta dong”

“Iya kereta yang mana? Ekonomi atau AC?”

“Oh… AC saja. Biar sampai Bogor”

“Dua-duanya juga sampai Bogor Pak”

“Biar ah saya mah pakai AC saja” balas saya sambil tersenyum.

Itu setelah saya membeli 2 karcis, kami pergi menuju tempat duduk. Menyebabkan kami menunggu terdiam selama ¼ jam disana.

Tak lama kereta datang. Saya masuk. Sebelumnya sudah masuk terlebih dahulu Revo dan Ummi Brun-brun. Ternyata kereta lumayan penuh. Semua kursi sudah diisi. Terpaksa saya berdiri. Begitu juga Ummi Brun-brun. Revo tidak. Dia digendong.

Entah kasihan, entah bisulan. Ada seorang bapak mempersilahkan Ummi Brun-brun duduk. Dia memilih berdiri. Seperti saya. Heran jadinya saya. Kenapa tadi bukan saya yang disuruh duduk. Kurang apa saya. Padahal saya bawa ransel yang begitu berat. Tidak jauhlah dengan Ummi Brun-brun yang gendong Revo. Kalau kemudian disambungkan dengan isu kesetaraan gender, harusnya hal demikian sudah tidak boleh terjadi. Iya itu. Mendahulukan wanita karena mereka lemah. Kan kalau sudah setara harusnya laki-laki juga bisa didahulukan dong. Tapi biarlah. Saya tidak akan mendemo DPR gara-gara masalah gender ini. Dari dulu saya memang tidak percaya DPR. Apalagi demokrasi dan kesetaraan gender ala para feminis itu.

Semakin kereta merayap menuju Bogor, semakin silih berganti pula orang yang masuk dan keluar. Hingga tak disangka tak diduga saya dihadapkan pada sebuah lahan kosong di depan mata saya. Tepatnya di depan tempat saya berdiri. Tentu saja hal ini tidak saya sia-siakan. Duduklah saya penuh suka cita disana.

Beruntungnya saya. Sudah dapat tempat duduk empuk eh disamping ada teteh-teteh cantik pula. Cantiknya tidak kepalang. Selangit lah. Jujur saja, saya memang suka teteh-teteh cantik. Masih mendingan kan daripada suka laki-laki ganteng.

Si Teteh nampaknya tidak sedang akan kuliah. Sebab hari sudah menjadi minggu. Tidak pula akan bermain bola. Sebab tidak membawa bola seperti saya. Tapi yang jelas nampaknya dia masih mahasiswi. Umurnya dibawah 25 tahun.

“Bom… bom… bom…” sengaja saya berbicara begitu. Pelan. Sengaja juga saya arahkan suara saya biar hanya dapat didengar si Teteh saja. Begitu saya lakukan berulang-ulang.

“Mas!” bahu si Teteh menggoyang-goyang badan saya.

“Oh ya??!” saya seolah-olah kaget. Padahal aslinya gembira ria.

“Ada apa?” tanyanya

“Oh… tidak ada apa-apa. Saya sedang melihat korang yang dibaca si bapak” tunjuk saya ke arah bapak-bapak diseberang kami. Dia memang sedang membaca Koran. Headline korannya tentang penangkapan Noordin M Top di Temanggung.

“Ooo…”

Suasana kembali hening. Hanya deru kereta melaju yang terdengar.

“Hahaha…” saya tiba-tiba terkekeh.

Si Teteh mahasiswi melirik saya penuh tanya. Tapi tidak berkata-kata. Diam. Mulutnya membatu.

“Polisi tuh salah tangkap. Yang mereka tembak itu bukan Noordin”

Dia kembali melirik. Namun kembali tidak merespon.

“Ibu tahu tidak kalau Noordin M Top masih hidup?”

Dia mendelikkan matanya. Lagi. Tapi kayaknya masih enggan merespon saya. Rona mukanya menjadi semakin berubah. Sialnya dia tetap cantik meskipun begitu.

“Ibu tahu Noordin M Top masih hidup?”

“Saya bukan ibu-ibu”

“Oh iya maaf Mbak”

“ Tapi Mbak tahu tidak?” tanya saya kembali.

“Nggak” Dia merogoh sesuatu dalam tasnya. Sebuah buku tebal. Sepertinya sebuah textbook.

“Kalau Noordin M Top masih hidup, takut tidak Mbak?”

“Maaf saya lagi membaca, Mas” jawab dia tidak menoleh sedikit pun. Mulutnya komat-kamit. Persis orang sedang mmembaca mantera. Dukunkah dia?

“Mbak, kalau saya Noordin M Top itu bagaimana?”

“Eh!” dia memandang saya aneh. Ada unsur terkejut. Tapi judesnya tidak ketinggalan.

“Percaya tidak kalau saya Noordin M Top?”

“…” masih tidak ada jawaban. Matanya mulai menelanjangi saya dari bawah hingga atas. Pelecehan seksual kata saya.

“Percaya tidak ransel yang saya bawa isinya bom?”

“…” dia bergerak. Kepalanya menengok ransel saya yang sudah bolong. Nampak baju Revo dan termos berisi air minum didalamnya. Namun dari bahasa tubuhnya, seolah-olah dia mau bilang; Ih sape sih elu? Aneh banget dech. Pake sok-sok akrab segala. Nakut-nakutin pula. Punya jenggot seuprit aja belahu ngaku-ngaku Noordin M Top. Muke lu jauh tuh! Asal elu tahu, saya sudah bertunangan. Nih lihat cincin berlian di jari manis gue. Tunangan gue itu keren. Kara raya. Sekolahnay luar negeri. Kerja di perusahaan asing. Nah elu siape?

“Teroris” jawab saya dalam hati sambil melihat kaos hitam saya yang memang bertuliskan TERRORIST.

DAMN!

Sabtu, 08 Agustus 2009


09 Juli 28 23:42
Mr. mengatakan...

kutu kupret luw.. gak usah menyitir ayat2 suci segala deh, itu ayat sepotong2 yang luw k
utip konteks nya jg udah beda.. kalo emang luw mo jihad (sesuai tapsiran lue) ya di negara luw sendiri donk malaysia. Gak usah make orang gw buat ngebom negara gw. Kalo negara gw yang luw serang terus.. gw berani JIHAD!!! membela negara gw (INDONESIA)

2009 Juli 29 01:14
ryan mengatakan...
Jancok Sampean iku salah cok........sing kudu di BOM iku kamu bukan tim MU cok.......sapi pokoknya Abu Bakar Ba'asyir dan FPI dilarang masuk Jawa Timur,Khususnya Surabaya Dan Sidoarjo........ 2009 Juli 29 01:15
ryan mengatakan...
Bantai-Bantai Malingsia........musnahkan dari bumi INDONESIA.....MERDEKA.....Bubarkan FPI..............Bantai Abu Bakar Ba'asyir

2009 Juli 29 01:28
TERKUTUKLAH KALIAN TERORIS mengatakan...
Terkutuklah kalian pengikut Muhammad! Neraka paling jahanam menunggu kalian di alam baka!!

2009 Juli 29 01:17
mboisker mengatakan...
JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...JANCOK KOEN...

2009 Juli 29 02:50
budi mengatakan...
dasar nordin m top kontol!!!!!!1 kontol kecil!!mental babi!!!anjing!!! orang malingsia ngebomnya indonesia!!asu lu!!yg suruh ngebom mau juga negrinya dirusak. bego bgt, ga mikir kenapa dia yg orang malingsia ga mo ngebom negrinya sendiri, harusnya yg disuruh jg jgn mau ngrusak negri sendiri. Basyir seneng bgt nih..anjing juga tu basyir!!

2009 Juli 29 03:58
Mochammad mengatakan...
heh,temen2 elo yang pada "jihad" tuh coba elo suruh sms gw,dy bnr d surga gg?
Jangan cm kasih janji,kasih bukti or penjelasan yg masuk akal. goblok bgd sih.
Sbener'y elo2 pada suka sholat gag sih?
Ya Allah,tolong bukakan lah mata hati umat2 manusia...
Or...maybe nie tanda2 dajjal yang ngaku2 bela Islam tapi sbnr'X MENYESATKAN


Ini beberapa komentar yang saya rampok dari blog http://mediaislam-bushro.blogspot.com. Sengaja tidak saya edit. Biar kesannya lebih vulgar. Lebih seronok.

Semua itu terjadi pasca aksi bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Hampir semua orang termasuk saya tersihir dengan opini publik yang dihembuskan media selama ini. Padahal di sisi lain –selain masih belum jelasnya kasus ini- masyarakat juga termasuk saya didalamnya membutuhkan informasi objektif berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik investigatif.

Bagi saya, tayangan thriller-thriller audio visual, bumper yang beritme cepat dan alunan musik yang scremo menunjukan adanya perlombaan diantara TV-TV swasta dalam menampilkan berita terbaru. Polanya hampir semua sama. Yaitu membuat konten berita yang berulang-ulang dan selalu identik. Dengan opening dan ending yang membuka interpretasi dan persepsi yang berlebihan di mata pemirsa. Dampaknya konsumen berita sadar tidak sadar digiring untuk terus masuk dalam ruang informasi yang samar-samar.

Sahkah hal seperti itu? Sebenarnya sah-sah saja. Itu sebuah konsekuensi dari penyiaran berita. Sebab dalam dunia yang tidak lagi berbatas ruang dan waktu ini, media TV merupakan media yang sangat praktis untuk memberikan informasi kepada publik. Dan karena kepraktisannya tersebut, membuat para pengelola media akan selalu berusaha agar konsumen ”hanya” tertarik dengan berita yang disampaikannya

Indikasinya adalah ketika semua ini belumlah jelas ujung pangkalnya, media lantas selalu meng-update berita jam per jam. Bahkan detik per detik. Belum lagi dengan usahanya untuk mewawancarai para saksi untuk masuk studio. Dan yang sangat disayangkan adalah dengan gegabah menumpangtindihkan situasi gamang ini dengan mengkaitkan kejadian dengan hal-hal yang belum pasti. Media akhirnya menjadi sumber keterangan primer ketimbang sekunder karena kemampuannya membentuk dengan cepat opini. Padahal -di sisi lain- pihak kepolisian belum memberikan keterangan apapun.

Hal inilah yang sangat disayangkan. Terlebih ketika semua analisa yang diberikan TV tersebut gugur karena fakta berbicara lain. Salah satunya kasus tidak sesuainya DNA dengan para pelaku. Namun -sekali lagi sangat disayangkan- tidak ada sedikit pun klarifikasi atau permintaan maaf dari pengelola media terhadap keluarga-keluarga yang telah mereka tuduh seenaknya. Padahal hal itu saya kira sangat penting bagi keluarga yang tertuduh serta opini publik. Sebab sudah menjadi rahasia umum, ketika hal ini terjadi berkaitan dengan ”Teroris” maka ujung-ujungnya Islam juga yang menjadi kambing hitam. Islam dan para pejuangnya yang akhirnya selalu disalahkan. Damn!


Don’t trust the media but be the media..!



I Lop Yu Pul

Selasa, 04 Agustus 2009




What this is?

You rock

Hahahaha……

Follow me?! Ok!


Tak gendong kemana mana

Tak gendong kemana mana

Enak dong?!

Mantep dong?!

Daripada kamu naik pesawat kedinginan

Mendingan tak gendong toh

Enak toh? Mantep toh?

Ayo kemana???


Tak gendong kemana mana

Tak gendong kemana mana

Enak tau!!


Where are you going?

Ok, I booking

Where are you going?

Ok, my darling

Haaa…haaa…


Tak gendong kemana mana

Tak gendong kemana mana

Enak dong?!

Mantep dong?!

Daripada kamu naik busway kesasar

Mendingan tak gendong toh

Enak toh? Mantep toh?

Ayo kemana???


Tak gendong kemana mana

Tak gendong kemana mana

Enak tau!!


Where are you going?

Ok, I booking

Where are you going?

Ok, my darling

Haaa…haaaa…


Tak gendong kemana mana

Enak tau!!

Haaa….haaaa… haaaaaaaaaaaaaa……haaaaaaaaaaaaaaaaa

Capekkkkkkkk




Nb:

Matur nuwun Mbah sudah nemenin si eneng selama ini latihan berkata-kata. Semoga Mbah di bawah pohon jengkol sana diterima amal ibadahnya oleh Allah Swt. Uh yeeeeeh…

Mujagoblog

Jumat, 31 Juli 2009



Sengaja saya ikut meramaikan pergunjingan mesum yang sedang asoy beberapa hari ini. Iya itu. Pergunjingan blog yang diklaim miliknya Noordin M Top. Entah Noordin M Top yang mana. Biarlah mau Noordin apapun saya tidak mau ambil pusing. Saya mau asoy saja. Asoy dengan menyengajakan diri membayangkan kalau sayalah pembuat blog tersebut (http://mediaislam-bushro.blogspot.com/).

Saya membayangkannya kalau pembuat blog tersebut memang Noordin M Top asli bukan abal-abal. Buronan Densus 88 yang dituduh biang kerok segala kejadian berbau ”teroris” di negeri ini.

Singkat cerita, merasuklah saya dalam tubuh tubuh doski (Noordin). Semoga doski tidak merasa kemasukan setan oleh masuknya jiwa saya ke dalam tubuhnya. Sebab saya memang bukan setan. Yang setan itu Obama. Setelah itu saya akan melakukan penulisan kembali dan perbaikan blog yang telah banyak dilihat ribuan orang itu. Ini beberapa hal akan saya masukan;

1. Ini saya masukan di nomer satu. Memang sengaja. Kalau di nomer 41 mah itu nomer sepatu saya. Ah tidak usah taulah nomer sepatu saya. Nanti malah nanya nomer kolor saya. Iya ..... kenapa saya masukan nomer satu? Karena ini alasan paling utama yang bakal saya rubah terlebih dahulu. Sebab ini masalah yang sangat teramat esensial. Bagaimana saya bisa menuliskan nama saya sendiri dengan salah di blog tersebut. Tentu tidak kan. Apalagi kalau ingin terkenal. Kan kalau nama sesuai ijazah, akte, KTP, buku rapot nantinya kita bisa diakui –benar- sebagai orang tersebut. Betul tidak? Nama saya ini (Noordin) kan sudah dibubur merah bubur putih oleh ibunda saya tercinta. Sedikit saja salah ketik artinya sama saja mendurhakakan ibu saya. Siapa sih yang mau jadi Malin Kundang kedua gara-gara menuliskan nama Noordin menjadi Nur Din? Semua orang juga tidak mau kan menjadi karang penghias lautan.

2. Karena saya lahir dan lama di Malaysia, sudah pasti saya dulu tidak belajar ”Ini Budi”, ”Ini Bapak Budi”, ”Ini Ibu Budi” dan sejenisnya. Sebab disana, di negeri saya, Malaysia, jadinya tidak seperti itu. Tapi seperti ini; ”Ni Budi”, ”Ni Pak Cik Budi”, ”Ni Mak Cik Budi”. Betul tidak? Nah kalau yang dasar saja (bahasa Indonesia tingkat SD) saya tidak belajar tentunya saya tidak akan mengenal EYD. Saya hanya akan menggunakan EYM (Ejaan Yang di-Malaysi-kan). So, penggunaan kalimat-kalimat di-blog yang sangat Indonesia sekali itu pun akan saya rubah menjadi bahasa yang se-Malaysia mungkin. Saya tidak mau dicap ”Indon” gara-gara fasih pakai EYD.

3. Saya juga akan merubah apa-apa yang tidak sesuai lainnya. Saya tidak akan salah mengetikkan nama Hotel dan klub sepakbola. Secara negeri saya kan dulunya jajahan Inggris. Tentunya saya terbiasa berbicara Inggris seperti orang Malaysia lainnya. Apalagi saya pintar (maaf bukan narsis). Masa menuliskan ”Marriott”, ”Ritz Carlton”, dan ”Manchester” saja salah. Malu dong. Nanti saya dikira lulus TOEFL-nya pakai jalur ”nembak”.

4. Begitu juga ketika menulis ”Tandzim Al Qo’idah Indonesia”. Masa sebagai mujahid yang sudah melanglangbuana kesana kemari masih salah menggunakan nama untuk pernyataan resmi dari Tandzim Al Qo’idatul Jihad (Al Qaidah). Biasanya kan penulisan seperti itu diberikan kata sambung untuk menjelaskan berasal dari suatu wilayah tertentu. Atau minimal pakai tanda minus (-). Senagaja saya tidak menggunakan tanda (+). Karena kalau tanda (+) nantinya diklaim kalau Indonesia cs-an ma Al Qaidah. Padahal sejak kapan thagut bergabung dengan mujahid?

5. Alasan saya menuliskan dengan kata sambung atau tanda minus (-) sebenarnya juga agar tidak dikira telah terdaftar menjadi ormas. Seperti itu tuh. Ormas-ormas yang belakangnya pakai Indonesia begitu. Gengsi dong. Masa saya sebagai seorang mujahid mengakui Indonesia dan harus menandatangani surat-surat dengan orang-orangnya SBY. Ih rumpie dech kayaknya.

6. Point yang mengatakan bahwa saya akan mengusir Amerika dari negeri ini akan saya rubah. Soalnya kata ”negeri ini” kesannya saya orang Indonesia tulen. Dan sangat patriotik binti nasionalis sekali. Padahal saya kan anti sekat-sekat kebangsaan dan mempersetankan nasionalisme. Untuk apa saya terus pertahankan kata tersebut. Bagi mujahid seperti saya, kesatuan ummat Islam seluruh dunia adalah yang harus dikedepankan.

7. Tentunya saya juga tidak akan memasukan kata-kata kalau saya ini bagian dari Al Qaidah internasional. Malu kalau masih saya tulis disana. Lha wong baru beberapa hari lalu Imaroh Afghanistan mengeluarkan buku petunjuk (idari) untuk pejuangnya (termasuk Al Qaidah) dibelahan dunia manapun agar semua menuruti apa yang ada di buku tersebut. Kalau terus saya paksakan kata tersebut ada, tentunya saya sudah bertentangan dengan idary yang dimiliki pejuang Tandzim Al Qo'idatul Jihad 'Alamiyyah (internasional). Bisa-bisa saya nanti dituduh pengkhianat oleh mereka.

8. Alasan saya membunuh “Kadin-nya Amerika” akan saya ganti. Sebab tidak ada satu pun dari beberapa gelintir top executive itu adalah orang Amerika. Yang meninggal justru orang-orang diluar warga Amerika. Lha nanti saya ditanya. Katanya mau bunuh Kadin Amerika. Kok yang meninggal bukan warga Amerika sih. Bisa berabe kan saya. Apalagi kalau sampai ada yang tanya kenapa tidak bunuh 130 orang anggota CIA saja yang ikutan menginap disana tepat ketika kejadian terjadi. Mampus dech eike kalau semua sampai tahu kalau saya tidak bunuh agen-agen CIA itu.

9. Saya juga akan hilangkan kata menghadapi datangnya klub sepakola Manchester United. Sebab hal tersebut akan semakin mengkontradiktifkan pernyataan saya selanjutnya. Kalau saya bilang para pemain tersebut terdiri dari para Salibis kenapa juga bom-nya tidak saya ledakkan pas mereka sedang menginap disana. Salibis gitu loch. Lagian kalau alasan itu dipakai bagaimana kalau nanti yang datang klub Manchester City yang dimiliki orang Arab. Stadionnya saja bernama Emirat. Bisa-bisa saya dilarang masuk buat naik haji nanti.

10. Berbagai kesalahan yang terjadi pada postingan awal tidak akan saya perbaiki. Tidak juga akan saya revisi. Dengan perubahan dan revisi tadi itu menunjukan saya sudah mulai terlihat pikun. Padahal saya kan masih sweet seventeen. Lagian semakin saya sering melakukan perubahan, semakin mudah juga saya ditangkap aparat.

11. Itu sebenarnya yang saya khawatirkan. Iya itu point 10. Kayaknya lebih baik saya batalkan saja bikin pengakuan melalui blog (blogspot). Penggunaan blog kan sebenarnya justru lebih membukakan jalan agar keberadaan saya diketahui khalayak ramai. Aparat sudah pasti berburu mengejar saya demi berbagai alasan. Ada yang balas dendam, naik pangkat hingga alasan-alasan yang patriotik sekali pun. Ya sudah saya pakai spam saja. Ke berbagai imel dan milis. Biar bisa kabur dengan cepat

12. Terakhir, saya batalkan saja ah publikasi menggunakan blog atau pun spam. Lebih baik saya rekam sendiri gambar saya. Namanya juga mau terkenal dan biar menjadi penyemangat bagi yang lainnya. Pakai blog seperti begitu justru nanti malah dipertanyakan oleh Roy Suryo dan teman-temannya. Bisa muncul berbagai spekulasi tentang saya. Tujuan saya utnuk terkenal nanti malah diklaim bohong lagi oleh dia. Lagian umumnya mujahid selalu menggunakan video (rekaman) untuk mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas sebuah aksi. Nah kalau saya menggunakan blog apa dung namanya. Mujagoblog??? Ah tak tega rasanya saya dipanggil seperti itu

Tamat sudah kegilaan ini.

Beginikah Demokrasi Negeri ini?

Rabu, 29 Juli 2009


Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 5 Juli lalu, pernah menerbitkan sebuah surat elektronik milik Andi Malarangeng, sang jubir Presiden RI. Isi surat tersebut benar-benar mengejutkan. Terlihat sekali konspirasi di balik perhelatan demokrasi yang mahal itu. Pemegang kendali konstelasi politik dalam negeri tetap ada di tangan para munafikin antek kafir yang bermodal besar. Bukan rakyat, sebagaimana yang selama ini dielu-elukan dalam demokrasi.

Berikut adalah isi surat elektronik yang dikirimkan oleh Andi Malarangeng kepada Muchlis Hasyim, editor senior salah satu media cetak besar di Indonesia.


From: Andi Mallarangeng
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:59:14 -0700 (PDT)

To:
Subject:
Re: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan


Muchlis yang baik tapi sedang gundah,
Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di Makasar, masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini tidak akan mempengaruhi kita.

Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam. Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila. Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai kebangsaannya yaitu "all men are created equal", makanya kulit hitam bisa jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh Obama boss.


Kedua, FZ cs tidak percaya bahwa politik aliran sudah mati di Indonesia. NU, Muhammadiyah apalah yang lain juga sudah tidak seperti dulu lagi. Kita kan juga liat sendiri, kyai kan UUD juga akhirnya toh, tinggal mana yang kantongnya paling dalam dan janjiny paling manis aja. Dan kita kan main cantik sekali seperti anda liat. Lalu, orang seperti ini ini juga tidak mau belajar dari sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia. Sejak negara ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98, menghasilkan presiden yang buta. Presiden buta dijatuhkan, naik pula lah perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by design yang matang lewat pemilihan langsung.


Ketiga, ancaman tentang gerakan mahasiswa dan rakyat itu sudah tidak relevan lagi dengan iklim demokrasi sekarang. Hanya mimpi siang bolong yang bisa menghadirkan kekuatan mahasiswa. Bahkan tahun 98 pun banyak orang salah meletakkan sejarah itu sebagai kebangkitan mahasiswa menggulingkan Soeharto. Padahal bukan begitu. Itu memang jatuhnya Soeharto dan mahasiswa jadi alat saja, tapi memang jumlahnya besar sekali jadi secara visual kelihatan seperti sebuah fenomena gerakan mahasiswa yang digerakkan sebuah pemikiran kebangsaan. Buktinya tidak ada satu pun tokoh mahasiswa yang jadi legenda karena pemikirannya di tahun 98. Rama yang jadi tokoh terpopuler pun ternyata Cuma onggokan omong kosong saja dan sebentar lagi berangkat pula ke bui. Jadi tidak perlu khawatir mahasiswa kita ndak ada yang berkualitas pemikirannya sampai bisa menggerakkan massa jadi selalu menunggu ditungangi. Dan yang menunggangi tidak pernah pintar sehingga selalu ketahuan sehingga masyarakat tidak pernah percaya lagi sama kredibilitas demo mahasiswa jadi tenang saja boss. Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu. Sudahlah, rakyat tidak percaya lagi pada mahasiswa. Kita datangin mereka ke tv saja mereka sudah senang sekarang. jadi Bos, gerakan mahasiswa itu bukan lagi suatu hal yang menakutkan sekarang.

Lagipula, taruhlah media tidak lagi "bersahabat" , itu hanya segelintir.
Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.Ndak usah paniklah dengan semua isu yang berkembang ini, mereka lupa musuh utama adalah waktu, bukan kita. betul kan? Kalau orang ini memang bisa berbuat sesuatu kan sudah lama dia lakukan.

Ok boss, nda usah kuatir dengan FZ cs, mereka itu cuma angin sepoi-sepoi. Tiga hari lagi dan lima tahun ke depan kita selesaikan urusan dengan mereka satu persatu.


Trims
AM



From: Muchlis Hasyim
To: mallarangeng@ yahoo.com

Sent: Saturday, July 4, 2009 8:52:49 AM

Subject: Fw: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan


Daeng,
Saya baru terima email dari kawan kita ini. Terus terang saya agak tidak nyaman. Mungkin ini kembali menjadi pengingat Daeng. Isu kemarahan masy sulsel, DPT, dan penggadaian GBK, Din Samsudin yang semakin rame, saya khawatir bisa bergulir diluar kontrol kita. Perlu dicermati baik-baik dan diantisipasi semaksimal mungkin boss. Saya harap Daeng bisa memberikan pencerahan.

Trims
MH



From: Ronggo Lawe

Date: Fri, 3 Jul 2009 18:50:45 -0700 (PDT)

To:
Subject: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Kawan Muchlis,
Banyak yang mulai tidak suka dengan permainan kita di media. Mereka mulai mengerti cara kita mengontrol berita di media. Itu sebabnya mereka terus mempermasalahkan Kasus DPT bermasalah, isu SARA celi, penghinaan orang Bugis oleh Andi, penjualan Gelora Bung Karno, dll. Saya lihat Fadli Zon cs terus bergerak untuk menguji kekuatan kita di media.. Sebab mereka tahu untuk isu-isu yang sangat sensitif itu, akan sangat janggal sekali jika media tidak memberitakannya dan itu di luar kontrol kita boss. Saya lebih khawatir lagi orang-orang seperti Fadli Zon ini bisa menggerakkan mahasiswa dan masyarakat. Jadi boss, permainan di media ini mulai berbahaya. Kayaknya kita harus mencari strategi baru.

[Kompasiana]