
Apa tanda-tandanya anak sudah bisa diajarkan menyanyi? Disini, di kontrakan Gandaria, Jagakarsa, tandanya adalah ketika itu anak mengoceh dan bersenandung sendiri. Itu versi kontrakan sini. Entah versi kontrakan Pak Haji Umar atau kontrakannya Bang Arif yang Ketua RT. Yang jelas anak sini (baca; Revo) mulai bisa bernyanyi ketika dia sudah mulai bersenandung sambil memanjat teralis jendela. Saya tidak tahu kenapa sejak itu dia mulai bisa diajarkan menyanyi. Apakah karena ia merasa dirinya Sir Edmund Hillary yang sedang berusaha memanjat Everest (yang butuh nyanyian agar bersemangat) ataukah dia merasa dirinya bagian dari Easy Company yang sedang latihan menaiki bukit? Agrh kenapa saya sampai sejauh itu memikirkannya. Toh saya yakin Revo belum pernah lihat Edmund Hillary atau Band of Brothers.
Lihatlah dia, itu Revo, memanjat naik terus ke atas. Bersemangat dengan nyanyian karangannya. Ke itu ujung horden. Sengaja saya tidak suruh dia turun. Biarkan saja pikir saya. Toh kalau jatuh ke bawah. Tidak bakal ke atas. Lagian kasihan nampaknya dia sedang begitu konsentrasi dengan lagu gubahan dan usaha mendakinya.
Satu lagu beres (nampaknya). Tak berselang 5 detik dia membuat nada-nada pentatonik yang tidak beraturan lagi. Beradu dengan suara hujan yang memang sedang lebatnya. Sekonyong-konyong, sebuah guntur yang tidak memakai M Romli belakangnya ikut memeriahkan suasana. Revo kelihatan kaget dibuatnya. Hampir saja dia free fall. Namun dengan sigap tangannya dia pegangkan lagi ke teralis besi. Mukanya memucat melihat kiri kanan seperti orang mau menyebrang. Saya lihat kiri kanan juga. Tidak ada mobil, tidak ada truk gandengan. Bebas untuk menyebrang. Saya bilang ke Revo supaya terus menyebrang tapi dia malah tetap celingak celinguk. Lantas memanggil itu nama alias saya sambil menangis keras. Ah, ada apakah gerangan? Kenapa dia tidak memanggil nama asli saya saja? Kan kita sudah saling kenal. Apa karena tidak sopan? Sebab budaya Timur melarang seperti begitu.
Oh, ternyata dia hanya ingin turun dari teralis besi itu. Sebab ternyata dia tidak tahu cara turunnya. Aha! Ini saat yang tepat buat saya untuk ikut menyanyi meramaikan suasana. Tentu saja dengan nada-nada yang tidak beraturan juga.
“Ayo teu tiasa turunnnn…. Ayo teu tiasa turunnn… Ayo teu tiasa turunnn… (Ayo tidak bisa turun)” itu saya berkoceh sambil menepukkan tangan dengan tepuk yang jelas bukan tepuk Pramuka.
Tahu dibegitukan oleh saya, tangis Revo sekarang disertai jerit metalnya. Jerit yang bisa terdengar sampai ke mimbar masjid yang terhalang kebun sepanjang lima puluh meter itu. Suara dia memang keras begitu. Kalau sudah menjerit seperti itu tak kalah lah dengan Sammy Hagar-nya Van Hallen. Sumpah demi metal!
Demi mengakhiri konser metal dadakan yang makin memanas lengkingnya, saya akhirnya mendekati Revo. Saya pegang badannya dari belakang sambil berkata kalau mau jadi vokalis metal tidak usah naik-naik teralis segala. Naik teralis mah cocoknya jadi wallclimber. Mengerti tidak begitu saya bilang dan tanya padanya. Alhamdulillah dia tidak mengerti. Ya sudah akhirnya saya turunkan dia dari teralis yang menjadi neraka baginya.
“Sok ayeuna mah amengna dihandap we! (Ayo sekarang mainnya dibawah saja) ” kata saya.
Revo sesegukan. Tangisnya masih belum habis. Namun berangsur mereda seketika si Um-Um Surum Um yang pengusaha pabrik susu datang.
“Eneng, nyanyi Naek Kereta Api kumaha?” si Um-Um Surum Um membuka keramaian.
“Api…tutttt…. tutttt…. tuttttt” Revo menyanyi-nyanyi sambil kepalanya goyang kiri kanan mirip orang lagi dugem. Oh mungkin begini ya kalau bayi dugem. Pikir saya.
“Naik kereta api tut.. tut.. tut.. siapa hendak turut.. ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama..” itu Um-Um Surum Um melanjutkan nada-nada Doel Sumbang nya.
“Eh Um-Um Surum Um, lagunya ganti ah!’ larang saya, “Jangan lagu itu!”
“Kok diganti?” Um-Um Surum Um bertanya-tanya.
“Itu mah lagu yang mengajarkan yang tidak benar”
“Tidak benar apanya?”
“Masa mengajarkan anak biar nanti naik kereta gratisan. Pantesan saja PT KAI suka berkeluh kesah rugi terus”
“Kok gratisan??? Oh iya. Hehehe…” Um-Um Surum Um tersadar tapi kemudian malah nyengir kuda.
“Yeee… malah nyengir deui” timpal saya, “Mau tidak nanti si Revo kalau besar naik keretanya ke atas gerbong terus?”
“Ya nggak lah” jawab dia, “Trus nyanyi apa atuh?”
“Seterah. Yang penting yang ararekoy (baca oke)”
“Neng, nyanyi balonku yu Neng!” Um-Um Surum Um mengajak Revo mengganti lagu. Dengan serta merta Revo lalu teriak “Dollllllllllllllllllll…” Mungkin maksudnya balonnya meletus.
“Eh, tapi lagu Balonku juga jangan” larang saya lagi.
“Kok jangan lagi?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak tidak pandai berhitung. Masa balonnya cuma 5? Kan seharusnya balonnya ada 6. Sok geura itung! (Coba saja hitung)… Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!”
“Dolllllllllllll……………” Revo ikut-ikutan ngedorrr.
“Coba hitung berapa warnanya tuh? Ada 6 kan?!"
“Eh iya ya. Kok baru tahu ya? Hehehe……” kata Um-Um Surum Umum, “Trus lagu apa lagi yang tidak boleh?”
“Sebentar mikir dulu nih” sengaja saya mengulur-ngulur waktu agar banyak lagu yang tidak boleh dinyanyikan. Bukan apa-apa, soalnya suara si Um-Um Surum Um fals. Hehehe… Tapi sebenarnya bukan itu kok alasannya. Saya sengaja saja mencari-cari alasan biar si Revo lebih pintar mengaji daripada menyanyi. Sepertinya alasannya tidak menyambung ya. Tapi biarlah.
Lalu saya katakan pada Um-Um Surum Um kalau lagu Bangun Tidur (Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..) pun tidak boleh. Sebab lagu ini mendidik anak tidak disiplin, selalu buru-buru, dan mengajarkan nudism. Masa setelah mandi lalu membereskan tempat tidur. Kan badannya masih basah. Bahkan telanjang pula. Harusnya yang benar kan pakai baju dulu.
“Lagu Burung Kutilang, Ibu Kita Kartini, dan Bintang Kecil juga tidak boleh!”
“Hah? Kok bisa?”
“Ya bisa dong. Kenapa juga tidak bisa?” jawab saya.
Lagu-lagu tadi mengajarkan anak untuk pintar berbohong dan memanipulasi realita. Begitu kata saya. Suatu hari nanti kalau mereka (baca: anak-anak) terus diajarkan lagu-lagu seperti ini dikhawatirkan ketika dewasa nanti dia menjadi koruptor. Coba saja resapi lagu Burung Kutilang (Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu.. mengangguk-ngangguk sambil bernyanyi tri li..li..li..li..li..li..). Sejak kapan suara Kutilang jadi tri li li li li. Bukannya yang benar adalah cuit…cuit…cit. Yang tri li li li li itu mungkin suara Agnes Monica yang sedang menyanyi di Tra la la tri li li (acaranya dia dulu).
Mendengar itu, Um-Um Surum Um cengengesan lagi. Sialan pikir saya. Kenapa dia cengengesan. Padahal saya sedang membahas dengan ilmiah begini. Demi membuktikan keilmiahan saya, saya buktikan lagi dengan lagu-lagu lainnya. Lagu Ibu Kita Kartini (Ibu kita Kartini…putri sejati.. putri Indonesia.. harum namanya…) adalah lagu pembodohan begitu saya bilang padanya kemudian. Masa sudah tahu namanya Harum eh masih dibilang Kartini. Bukannya itu pembohongan yang begitu jelas. Begitu juga dengan lagu Bintang Kecil (Bintang kecil dilangit yg biru…). Saya suruh saja Um-Um Surum Um melihat keluar jendela. Lantas bertanya apakah warna langit diatas itu biru. Saya ulang sampai tiga kali pertanyaan itu. Dan saya yakin semua orang termasuk Um-Um Surum Um akan menyangkal akan penyataan di lagu itu. Sebab langit diluar sana berwarna gelap aka hitam. Bukan biru.
“Hehehe…. Iya ya?”
“Iya.. Iya terus ah dari tadi” kata saya. (Padahal maksud saya ayo dong pikirkan lagi lagu apa lagi yang dilarang. Sudah cukup semaput nih mencari alasan-alasan biar masuk akal)
“Naik Delman juga tidak boleh” ujar saya lagi.
“Kenapa?”
“ Itu lagu mengajarkan anak tidak sopan kepada orang lain” jawab saya, ” …Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.. naik delman istimewa ku duduk di muka.. Nah muka siapa tuh yang diduduki? Muka ayahnya atau kusir delman?”
“Hahaha……”
“Nina Bobo juga sama”
“Nina Bobo kenapa?”
“Nina Bobo mengajarkan anak hidup penuh ancaman. Hidup dalam naungan teror. Hidup untuk memusuhi ciptaan Allah”
“Hah?”
“Dengarkan nih! Nina bobo.. ooh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk” saya berdendang, “ Nyamuk dicap teroris setiap hari. Padahal Allah menciptakannya tentu ada gunanya. Bukan semata-mata menjadi teroris buat manusia setiap malamnya”
“Hehehe… Ah ada-ada aja”
“Ya harus diada-adain atuh!”
“Apalagi?”
“Lagu Cakul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
“Itu kenapa?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak agar menjadi orang yang lebay, bodoh, dan tidak efektif & tidak efisien. Lha wong mau menanam jagung kok mencangkulnya dalam-dalam. Memangnya mau bikin sumur. Kuburan juga paling satu meter tidak perlu dalam-dalam sekali?”
“Hehehe… “
“Hehehe…” Revo ikutan ketawa melihat Um-Um Surum Um cengengesan dari tadi.
“Eh, si Eneng siga nu ngartos wae (Ih si Eneng seperti yang mengerti saja)” kata saya,”Eneng ngartos? (Eneng mengerti?)”
“Manyun…manyun… muachhh” Revo malah me-manyun-kan (memajukan) bibirnya lalu mencium si Cobo boneka beruang nya yang segede alaihim gambreng itu.
“Nih ada lagi!” kata saya, “Lagu Aku seorang kapiten!”
“Memangnya kenapa lagu itu?”
“Lagu ini mendidik anak menjadi penjajah yang tidak konsisten. Sekaligus mengajarkan Revo menjadi tomboy”
“Alasannya?”
“Lagu itu kan lagunya anak laki-laki. Nah klo si Eneng diajarkan lagu itu. Nanti dia malah main pedang-pedangan. Bukan boneka atau masak-masakan. Tomboy lah sudah dirinya. Beruntung kalau cuma tomboy saja. Kalau jadi aktivis kesetaraan gender yang feminis bagaimana coba?”
“Hehehe… Terus…terus???”
“Lagu ini juga tidak konsisten. Kalau misal ingin cerita tentang sepatunya seharusnya menyanyi begini…Aku seorang kapiten… mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalau berjalan prok..prok.. prok.. Tapi kalau ingin cerita tentang pedangnya, harusnya menyanyinya seperti begini …mempunyai pedang panjang… kalo berjalan srek.. srek.. srek… Benar tidak???”
“Iya… hehehe…”
“Kalau yang menjadi penjajahnya gimana?” Um-Um Surum Um membuat dirinya bagai investigator polisi.
“Ah itu mah gampang. Kapiten kan khas istilah jaman Kompeni begitu. Benar tidak? Pertanyaanya sekarang, kenapa harus Kapiten? Kenapa tidak mujahid atau mujahidah? Coba dengarkan kalau lagunya digubah menjadi seperti ini …Aku seorang Mujahidah… mempunyai pedang panjang… kalau berjalan sret…sret…sret…. Aku Seorang Mujahidah! Lebih pas dan syar’i kan?”
“Hehehe... Bener-bener” Um-Um Surum Um mengiyakan saja. Soalnya kalau tidak mengiyakan percuma baginya. Biasanya kalau tidak mengiyakan selalu akan saya arahkan agar menjadi iya dengan apa kata saya. Jawab iya atau tidak iya menjadi sekedar formalitas baginya sebab jawabannya sudah ada; Iya. Begitulah saya yang telah menjadikan saya bagai penjajah baginya. Tapi tentunya saya bukan penjajah yang semena-mena seperti Tuan Daendels.
“Terus lagu apa atuh kalau begitu yang cocok buat Eneng?” tanya Um-Um Surum Um.
“Sudah dengarkan saja ini!” saya perlihatkan CD Murrotal yang kemudian saya santapkan ke mulut DVD player. Lalu saya seolah-olah menjadi Tuhan dengan menghidupkannya. Murotal pun mulai mengalun dengan indahnya.
“ Aohhhhhhh………” Revo mengangkat kedua tangannya lalu melipatkannya di perut. Hampir mirip dengan orang yang sedang takbiratul ikhram. Setelah itu lalu dia sujud dengan pantat yang ditunggingkan dengan lebaynya. Begitu berulang-ulang. Berulang-ulang. Dan berulang-ulang.
Menyesatkan Lagu Anak Yang Sesat
Diposting oleh Begundal Militia di 09.19 2 komentar
Duduklah disini
Duduklah disini bersamaku
Kan kuberikan secarik kertas berisi puisi
yang kau baca sekarang ini
Jakarta, 2009
Tengah malam sambil membungkus kado buat Um-Um Surum-um yang kembali ulang tahun ketika hari sudah menjadi 26 November 2009
Diposting oleh Begundal Militia di 08.47 0 komentar
Upacara Hari Pahlawan

Hari itu sudah menjadi Selasa. Saya tidak lagi upacara bendera. Sengaja saya begitu. Bukan karena tidak ada sebab. Sebab kalau disebab-sebabkan maka akan banyak sebab. Dan saya kira itu memang tidak perlu. Kalau masih dianggap perlu, baca saja buku-buku di Palasari. Itu pasar buku yang ada di Bandung. Naik angkot Buahbatu-Sederhana kalau dari rumah saya. Turun di Jalan Gajah. Jalan sedikit ketemulah dengan banyak penjual buku. Nanti pilih salah satu dari mereka. Lalu tanya sama pedagangnya, ada buku yang bilang nasionalisme ibarat menggigit kemaluan sendiri tidak. Kalau ada beli. Kalau tidak ada, naik lagi angkot Buahbatu-Sederhana ke rumah saya, insyallah nanti saya bajakkan bukunya.
Tapi sumpah, saya sudah sejak SMA dulu paling malas untuk upacara bendera. Makanya setiap pergantian KM (baca; Ketua Murid), setiap itu pula saya melakukan lobby-lobby tingkat tinggi pada pejabat KM baru. Bukan untuk menjilat (ket: sebab saya tahu kalau menjilat mereka rasanya asam. ABG begitu loh!) tapi itu saya sengaja agar saya ditempatkan piket kelas di hari Senin. Hari dimana upacara bendera selalu diselenggarakan, hari dimana yang datang telat dipajang di lapangan upacara, hari dimana anak-anak berlomba berbaris untuk menjadi yang paling belakang, hari dimana pembacaan Pancasila oleh Kepala Sekolah selalu dijadikan gurauan, hari dimana saya selalu datang lebih pagi dari biasanya.
Begitu setiap tahunnya. Selama di kalender masih ada hari Senin, saya konspirasikan agar sayalah mendapatkan kursi empuk petugas piket kelas hari itu. Pokoknya selama Teori Konspirasi masih bisa dijalankan, saya usahakan tidak berupacara. Hingga kemarin akhirnya saya ditanya oleh seorang ibu-ibu di tempat kerja.
“Kok kamu tidak upacara sih?”
“Sudah hobi, Bu” jawab saya sambil cengengesan.
“Hobi kok aneh gitu?”
“Hobi orang kan beda-beda Bu. Namanya juga manusia. Tidak ada yang sama di seluruh dunia ini. Maka wajar saja kan kalau hobinya berbeda-beda”
“Begundal, kamu tidak cinta Indonesia ya?”
“Ya cinta dong, Bu. Jelek-jelek bobrok juga Indonesia tempat saya lahir”
“Cinta apanya? Disuruh upacara saja tidak pernah. Padahal ini kan upacara buat mengenang pahlawan-pahlawan kita”. Kebetulan kemarin tanggal 10 November. Itu hari Pahlawan Indonesia.
‘Yeee… si Ibu mah”
“Yee gimana? Itu tanda kamu tuh gak menghormati pahlawan kita yang berjuang dulu”
“Buat saya mencintai tanah air dan menghormati pahlawan itu tidak perlu hari khusus, Bu”
“Kok begitu?”
“Soalnya cinta dan pahlawan saya luas serta banyak”
“Luas dan banyak gimana?”
“Iya saya tuh cinta Indonesia. Tapi cinta juga Malaysia, cinta Brunei, cinta Thailand, cinta Sudan, cinta Palestina, cinta Sudan, cinta Afghanistan, cinta Chechnya, Cinta Filipina, cinta Spanyol, cinta Arab Saudi” begitu kata saya, “Pahlawan saya tersebar di negeri-negeri tadi. Makanya saya mah cinta semua”
“Banyak amat”
“Harus banyak dong, Bu”
“Lha kok malah harus?”
“Buat saya, yang namanya pahlawan itu ya para mujahidin. Tidak adil dong kalau saya cinta Indonesia dan pahlawan Indonesia saja. Kan mujahidinnya tersebar dimana-mana. Jadi mau tidak mau cinta saya harus luas. Tersebar. Menembus sekat-sekat territorial”
“Agrh… kamu ini ada-ada aja. Cari-cari alasan”
“Ibu ini bagaimana. Justru harusnya Ibu bangga pada saya. Sebab cinta saya begitu luas. Saya berani diadu besar mana cinta mereka yang tadi upacara dengan saya. Mau sebanyak apapun orang upacara, cintanya tidak bisa mengalahkan luasnya cinta saya”
“Luas dari Hongkong!”
“Tidak usah jauh-jauh ke Hongkong, Bu. Disini saja kalau mau mendengarkan saya. Toh, meskipun saya cinta Hongkong, saya belum tentu bisa pergi ke Hongkong. Tidak ada uangnya, Bu”
“Hehehe…” si Ibu tertawa.
“Bu, mari kita berandai-andai. Kalaulah cinta Ibu dan saya dibandingkan, cinta Ibu itu hanyalah rahmatan lil Indonesia. Nah, sedangkan saya rahmatan lil alamin”
“Hehehe…”
“Di negeri apapun kita hidup, mau di Timbuktu atau di Etophia, yang terpenting adalah kita menjadikan diri kita sebagai makhluk yang paling bertaqwa sekaligus cantik (seperti saya, itu dalam hati saya). Makhluk yang berguna bagi dunia karena perbuatan baiknya. Yang semata-mata didasari atas nama Allah dan agamanya”
“Hehehe… iya Pak Ustadz” Si Ibu ketawa sambil menyindir (barangkali)
“Ibu sepakat tidak?”
“Ya sepakat aja sih tapi masa pahlawan di negara orang dihormati juga”
“Namanya juga Mujahidin, Bu. Mau di negeri mana pun ya harus dihormat. Mereka itu generasi terbaik setelah generasinya Rasulullah.”
“Ntar gimana kalau tentara negara kita perang dengan tentara negara lain atau mujahidin versi kamu? Mau kamu anggap mereka pahlawan juga?”
“Bu, yang namanya Mujahidin itu pantang perang dengan sesama muslim. Kan sesama Muslim itu saudara. Innamal mukminuna ikhwah. Lagian tentara atau pahlawan yang benar itu pasti perangnya karena didasari nama Allah semata. Selain itu hendaknya dipertanyakan lagi status ketentaraan dan kepahlawanan mereka. Kecuali kalau konteksnya seperti yang saya bilang tadi, tentara/pahlawan yang rahmatan lil Indonesia atau yang rahmatan lil alamin”
“Serem ah ngobrol ma kamu. Kayak teroris aja”
“Kok teroris sih, Bu? Memangnya kalau saya teroris bagaimana, Bu? Apa wajah imut-imut begini seperti teroris ya?”
“Hehehe…”
“Jadi tidak salah kan kalau saya punya pendapat begitu?”
“Nggak salah sih. Cuman serem aja”
“Biarin ah seram juga. Yang penting saya masih tetap imut. Benar kan, Bu?”
“Terserah kamu deh. Hehehe…”
Diposting oleh Begundal Militia di 06.28 0 komentar
QUIZ RUAR BINASA
Quiz “Kalau Kamu Fesbukan Dengan Obama, Apa yang Akan Kamu Tulis di Wall Dia?”
Sumpah ini quiz beneran. Bukan bohongan. Kalau bohongan, untuk apa saya membohongi ratusan orang yang ada di link saya ini. Bisa-bisa kalau ketahuan berbohong, saya sudah jadi matahari-mataharian di Pos Satpam. Sengaja saya tidak pakai kata “bulan”, sebab matahari lebih besar daripada bulan.
Seandainya saya Bakri, tentu saya akan hadiahi pemenang quiz ini dengan satu buah rumah di Bogor Nirwana Residence (ket: yang tidak tahu tanya Fajarullah). Sayang saya belum sempat seperti dia. Maka untuk ini saya berikan saja T-Shirt bagi pemenang 1, 2, dan 3. Sedangkan pemenang selanjutnya hingga yang ke-10 saya berikan kenang-kenangan dari sponsor saja. Suka tidak suka diterima saja ya. Namanya juga rezeki. Ya kalau tidak menganggap itu rezeki, maka maklumi saja. Namanya juga sponsor.
Aturan main quiz ini sederhana saja. Kawan-kawan seantero dunia yang membaca quiz bombastis ini tinggal membubuhkan itu pendapatnya bila suatu saat ternyata Obama meng-add-mu menjadi temannya. Kawan-kawan mengandaikan akan menulis sesuatu di wall si Obama. Tapi ditulisnya tidak perlu lah di FB Obama yang beneran. Cukup disini atau akan lebih baik kalau mengisi langsung di Grup Quiz Ruar Binasa. Masih dalam jejaring FB. Silakan di klik lnk ini (http://www.facebook.com/pages/Jakarta/Quiz-Ruar-Binasa/173398324294). Atau bisa juga mengisi langsung di blog; www.begundalmilitia88.blogspot.com
Kenapa di kedua link itu? Biar saya tidak capek harus copas ke tim juri (Kepada Fajarullah & M. Angawedhaswara ini penodongan yang tidak bisa ditolak yang menyebabkan kalian tidak terlibat didalamnya). Andai saja tim juri berada dalam satu alamat. Tentunya akan lebih enak. Bisa saling diskusi, protes hingga ngopi bareng. Atau mungkin menggerutu karena beda pendapat ketika memilih pemenang. Sayangnya ternyata tidak.
Dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Segalanya, insyallah, quiz ini tidak ada tujuan apapun. Ini hanya quiz untuk menyambut Tahun Baru Islam 1431 H (yang menurut kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009). Tapi kalau diinterpretasikan berbeda ya terserah lah. Itu urusannya langsung ke Allah. Oleh karenanya, quiz ini pun dibatasi masanya. Ia berakhir tepat tanggal 16 Desember 2009 yang bertepatan dengan hari dimana Sidang Umum PBB membatalkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa Zionisme adalah rasisme, hari dimana Soe Hok Gie wafat, hari dimana Kazakhstan merdeka, hari dimana saya patah hati. Agrhh… saya rasa tidak penting. Tapi tetap quiz berakhir 16 Desember 2009 tanpa ada sebab musabab.
NB: Pengumuman juaranya tanggal 18 Desember 2009. Tepat Tahun Baru Islam. Biar di tahun baru, baju pun baru.

PERINGATAN:
DILARANG MENYUAP JURI DIBAWAH 1 MILYAR!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 15.17 0 komentar
Ini Bukan Eny Arrow
Menjelang pulang, AA memberi Ra uang 300 dollar AS. AA lalu memeluk Ra dan mengajak bersetubuh. Namun, ajakan ditolak dengan mengatakan, “Lain kali aja Pak,” Tak berhenti sampai di situ, Aa lantas mencium pipi kiri dan pipi kanan.
Pertemuan itu lalu diceritakan Ra kepada Nas. Merasa mempunyai kepentingan, Nas lantas meminta Ra kembali menemui AA. Ia berharap Ra dapat menjadi penghubung dengan AA. Hal ini terkait dengan usaha Nas untuk menjadi direktur BUMN. “Setelah dihubungi, AA bersedia bertemu di tempat yang sama. Selanjutnya, dengan menggunakan taksi, Ra dan Nas menuju Hotel GM. Saat akan menuju kamar, Ra diminta Nas agar mengaktifkan HP supaya bisa mendengar pembicaraan.
Pada saat Ra masuk, AA sudah berada di dalam kamar dan mempersilakan Ra duduk di sofa. Ra kembali meminta AA menjadi member MG, dan juga menanyakan kemungkinan “kerabat”-nya (Nas) menjadi Direktur BUMN. Di sela pembicaraan, AA meminta Ra memijat punggungnya. Pada saat sedang dipijat, AA membalikkan tubuh lalu mencium pipi, bibir, membuka kancing baju dan menurunkan bra sebelah kiri sambil berkata ‘katanya pertemuan selanjutnya kamu mau kan’.
Ajakan tersebut kembali ditolak Ra. Karena takut terdengar korban, Ra kemudian mematikan telepon seluler. Meskipun ditolak, AA masih terus menjamah tubuh Ra dan meminta Ra memegang alat kelamin AA hingga mengeluarkan sperma. Sebelum pulang, AA memberikan uang sebesar 500 dollar AS.
Ketika akan keluar kamar, tiba-tiba Nas masuk dan marah sambil berkata kepada AA, “Mengapa Bapak bertemu dengan istri saya di sini dan apa yang Bapak lakukan terhadap istri saya? Kemudian Nas menampar pipi Ra. Mendengar kemarahan Nas, AA
memohon, “JANGAN PAK, SAYA MASIH INGIN MEMPERBAIKI NEGARA”
Ini bukan kutikan stensilan Eny Arrow. Bukan pula dukungan buat orang yang terlibat di dalam tulisan. Ini hanya saya ingin saja. Ingin pajang-pajang disini. Ingin biar rileks. Ingin tidak dianggap pornografi. Tapi intinya sih ingin menyebarkan bahwa memperbaiki negara tidak perlu capai-capai masuk parlemen. Cukup hanya dengan pintar menurunkan bra, maka anda sudah menjadi pahlawan di negeri ini. Asoyyyyy………………
Diposting oleh Begundal Militia di 06.55 0 komentar
Fatamorgana Pulihnya Ekonomi Global

Pendahuluan
Pada peringatan 60 tahun Great Depression, Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan Amerika Serikat mempublikasikan perhitungan bahwa PDB ekonomi AS mulai tumbuh setelah selama empat catur wulan mengalami penurunan. Jika ini benar, maka ini adalah pertumbuhan pertama perekonomian AS selama satu tahun ini. Amerika Serikat bergabung dengan ekonomi terkemuka lain seperti Jepang, Cina, Jerman, dan Perancis yang tampaknya mulai bangkit dari resesi dan terhindar dari kolaps. Beberapa pihak berpendapat bahwa ini merupakan pertanda berakhirnya ‘resesi besar’ dan kembalinya era pertumbuhan ekonomi.
Untuk menilai kebenaran pendapat ini, kita perlu melihat kembali faktor-faktor penyebab resesi dan menganalisanya, apakah faktor-faktor tersebut masih ada atau apakah faktor-faktor tersebut telah digantikan oleh kondisi-kondisi ekonomi yang akan membawa pertumbuhan baru yang lebih dapat dipertahankan dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara Barat pada dekade terakhir ini digerakkan oleh gelembung ekonomi sektor (pembiayaan) properti/real-estate yang menstimulasi perekonomian negara Barat lainnya. Gelembung tersebut mencapai proporsi yang sangat luar biasa besar, karena bank-bank berhasil menciptakan beragam produk keuangan yang dimunculkan dari utang properti (KPR) untuk kemudian dijaminkan dan dijual kepada bank-bank lain. Rupanya, laku kerasnya jualan baru itu dikarenakan adanya asumsi bahwa gelembung ekonomi sektor properti dan pembiayaannya akan terus berkembang.
Kenyataannya, pada bulan April 2007 perusahaan hipotek kategori sub prima (KPR bagi kalangan tak mampu) – New Century Inc – kolaps. Diikuti dengan jatuhnya Northern Rock pada bulan Februari 2008, lalu AIG, Lehman Brothers, dan bank-bank besar lainnya. Jatuhnya berbagai bank dan hedge fund properti menunjukkan kepada kita bahwa pertumbuhan/boom ekonomi pada dekade terakhir bukanlah boom ekonomi yang sustainable. Ia juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut dibangun berdasarkan asumsi liar bahwa harga properti akan terus menerus naik. Asumsi tersebut saat ini terbukti salah, harga properti justru semakin jatuh, karena banyak rumah yang terpaksa harus dilelang bank akibat pemilik hipoteknya gagal bayar. Terungkap sudah adanya lubang besar dalam praktek bank-bank besar dunia dalam menyalurkan utang.
Banyak bank yang seenaknya saja mengucurkan utang demi mengejar target dan bonus tahunan. Praktek tidak bertanggung jawab ini menyebabkan mereka ‘terpaksa’ melakukan write-off (pembatalan utang) terhadap puluhan trilyun utang, karena banyak yang wanprestasi (default/ Non Performing Loan). Hal ini mengakibatkan penghentian tiba-tiba kegiatan inti (sekaligus cashflow) perbankan, yakni mencari dana pihak ketiga dari nasabah dan meminjamkannya kepada beragam permohonan pembiayaan bisnis dan proyek. Oleh sebab itulah krisis yang sejatinya berada di ranah keuangan / moneter dapat berpengaruh kepada ranah ekonomi riil, di mana produksi turun, perusahaan bangkrut, dan pengangguran meningkat. Seperti itulah bangunan perekonomian Barat yang pada dekade terakhir digerakkan oleh sektor properti (utang hipotek).
Demi mencegah kehancuran perekonomian mereka lebih lanjut, pemerintahan negara-negara Barat melakukan intervensi dalam skala yang luar biasa besar. Gagasan tersebut muncul dari prediksi bahwa jika ada banyak orang yang tidak dapat melakukan konsumsi yang dapat merangsang kegiatan ekonomi, maka negara dipandang perlu untuk menyediakan uang yang dibutuhkan untuk merangsang ekonomi itu sendiri dan pada akhirnya akan mengembalikan kepercayaan diri serta mulai nmenggerakkan roda ekonomi. Dalam hal krisis yang sedang terjadi saat ini, pemerintahan negara-negara Barat mengambil tiga pendekatan penyelamatan, yakni nasionalisasi, paket stimulus, dan pencetakan uang baru.
Menganalisis Aksi Pemulihan Ekonomi
Banyak ekonom dan pembuat kebijakan yang berpendapat bahwa perekonomian negara-negara besar telah menunjukkan pertumbuhannya antara bulan April dan Juni 2009, dan hal ini menandai berakhirnya ‘resesi besar’.
Selama resesi, Jerman kehilangan 6,7% pendapatan nasionalnya. Jerman adalah jantung industri manufaktur di Eropa. Dalam menumbuhkan ekonominya, ia sangat bergantung kepada ekspor. Jadi, masalah terbesar baginya adalah jatuhnya tingkat perdagangan global, yang tahun ini oleh WTO diprediksikan menurun 10%. Meski demikian, kebijakan populis Kanselir Angela Merkel dan kesepakatannya dengan Russia untuk memasok kendaraan pabrikan Jerman menunjukkan bahwa pulihnya ekonomi Jerman didasarkan kepada adanya faktor-faktor temporer dan bukan perbaikan fundamental ekonomi mereka. Pada bulan Februari 2009, pemerintah Jerman menyetujui rencana paket stimulus senilai Euro 50 milyar. Mereka juga menerapkan Program Pembuangan Mobil pada bulan Februari 2009, di mana para pemiliknya akan menerima insentif tunai untuk pembelian mobil baru sehingga dapat memulihkan industri mobil yang sedang sekarat. Program ini dianggap berhasil, dengan peserta mencapai lebih dari 1,7 juta orang
Semenjak masa puncak resesi hingga saat ini, penurunan pendapatan Perancis adalah 3,5%. Pemerintah Perancis mengumumkan prakarsa senilai Euro 26 milyar yang didesain untuk merevitalisasi ekonomi. Perancis dan Jerman telah keluar dari resesi karena sektor keuangan hanya sebagian kecil komponen dalam perekonomian mereka.
Penurunan total yang cukup telak menimpa Jepang dengan angka 8,4%. Kebijakan stimulus pemerintah yang mencapai USD 260 milyar telah membantu penggelembungan kembali ekonomi. Termasuk dalam paket stimulus tersebut adalah pemberian uang tunai dan subsidi untuk membeli peralatan rumah tangga dan kendaraan yang hemat energi.
Jika benar bahwa AS telah keluar dari resesi, maka total penurunan pendapatannya adalah 3,7%. Data PDB tiga perempat tahun 2009 menunjukkan bahwa memang ada kenaikan penjualatan ritel bulanan sebesar 2,2% selama bulan Agustus lalu, yang merupakan kenaikan prosentase terbesar semenjak bulan Januari 2006. Tapi sesungguhnya kenaikan tersebut digerakkan terutama oleh kenaikan 11,6% kenaikan penjualan mobil, yang merupakan dampak langsung dari Program Cash for Clunker (sama seperti Program Pembuangan Mobil di Jerman). Ketika program tersebut selesai, penjualan ritel justru jatuh 1,5% pada bulan September.
Paket Stimulus = Menyelesaikan Masalah?
Pada puncak krisis ekonomi banyak negara Barat yang mengembangkan paket stimulus dalam rangka menyelamatkan ekonomi mereka dari kejatuhan. Stimulus paling terkenal adalah paket USD 1,2 Trilyun pada tahun 2008. Tapi harus disadari bahwa stimulus adalah semacam minuman penambah energi atau doping yang berdampak sementara. Ia didesain untuk menstarter ekonomi yang mogok, bukan menjadi bahan bakar yang dapat menumbuhkan ekonomi secara berkelanjutan.
Oleh karena itu, pertumbuhan yang saat ini terjadi di beberapa negara sesungguhnya adalah hasil yang diinflasi. Disebut diinflasi karena ia muncul sebagai dampak dari aksi stimulus yang bersifat sementara. Prakarsa pemerintah seperti Program Pembuangan Mobil yang banyak ditemui di negara-negara Barat, pengurangan PPN di Inggris dan pajak pembelian rumah pertama di AS dan Perancis berkontribusi masing-masing sekitar 1% dan 0,5% terhadap porsi total kenaikan PDB yang terkait penjualan kendaraan bermotor dan investasi perumahan. Manakala program-program tersebut berakhir, maka berakhir pula kontribusinya terhadap ekonomi.
Terkait ‘berakhirnya’ resesi ini, ekonom dari IHS Global Insight, Brian Bethune berpendapat: “Mendapati perekonomian tumbuh kembali adalah hal baik, tapi kami tidak berpandangna bahwa tingkat pertumbuhan ini dapat berkelanjutan karena ia telah didistorsi oleh segala macam stimulus pemerintah. Tantangannya di sini adalah mendapatkan pertumbuhan organis, pertumbuhan yang tidak dibantu oleh steroid/doping fiskal.”
Salah satu bukti dari betapa tidak fundamentalnya pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pengangguran yang masih 9,8% di AS sendiri, atau sekitar 15 juta pengangguran.
Saat melihat pertumbuhan dari segi kualitas, banyak sekali faktor-faktor ekonomi yang sesungguhnya temporer dan tidak dikendalikan oleh faktor-faktor yang dipandang sustainable. Dana Saporta, ekonom dari Stone&McCarthy Research di Skillman, New Jersey menguatkan hal ini: “Kebanyakan kekuatan ekonomi AS dibangun oleh faktor-faktor temporer seperti prakarsa stimulus fiskal seperti kredit pembelian rumah tinggal.” Justru pada kenyataannya bantuan yang disediakan pemerintah di seluruh muka bumi menunjukkan pentingnya bantuan pemerintah dalam pemulihan ekonomi tahap awal, yang jika ia dihilangkan maka sangat mungkin ekonomi Barat akan jatuh menuju resesi lagi. Dan ini sepertinya kemungkinan yang akan terjadi, jika tidak boleh dikatakan akhirnya pasti terjadi, karena pemerintah tidak akan mampu terus menerus memberikan paket bantuan stimulus yang mahal.
Paket stimulus telah mendorong pertumbuhan yang artifisial/palsu. Sekali saja negara-negara Barat melepaskan dirinya dari upaya bantuan pemulihan ekonomi yang telah mereka sediakan, maka kita perlu melihat kembali apakah pasar bebas benar-benar dapat berfungsi secara mandiri. Dengan semakin dekatnya musim belanja yang datang (Haji, Kurban, Natal, Libur akhir tahun), kuartal akhir tahun ini akan menunjukkan angka yang baik terhadap aktivitas konsumsi yang tidak distimulasi. Namun, dengan tingkat pengangguran yang sedang memuncak, produksi nasional yang masih prematur dan utang yang masih tinggi, tumbuhnya pendapatan pada kuartal akhir ini sangat banyak dipengaruhi oleh aksi stimulus pemerintah, dan oleh karenanya ia sangat mungkin merupakan pertumbuhan yang diinflasi dan tidak berkelanjutan.
Simpulan
Sementara AS sebagai ekonomi terbesar dunia sepertinya mulai keluar dari resesi, ekonominya tetap bergantung kepada belanja konsumen (tingkat konsumsi). Ini dapat diketahui dari porsinya yang sekitar 70% dari PDB. Sementara ekspor hanya memperoleh porsi 11% dalam konstruksi ekonomi AS. Maka tingkat belanja konsumsi yang berkelanjutan adalah hal yang esensial bagi AS. Sayangnya, saat ini tingkat konsumsi di AS masih belum menunjukkan adanya sinyal perbaikan.
Bantuan yang diberikan oleh Dunia Kapitalis tidak akan pernah benar-benar menyentuh permasalahan ekonomi yang mendasar, yakni pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, tingkat konsumsi yang digerakkan oleh utang, sektor keuangan model kasino/judi, dan pertumbuhan ekonomi balon (bubble economies). Yang dapat dilakukan oleh paket-paket stimulus tersebut hanyalah untuk menjaga Ekonomi Kapitalis mengambang meski pengangguran, pengambilalihan aset, dan kebangkrutan tetap ‘meraja-lela.’
Jadi meski secara statistik Ekonomi Kapitalis ‘mungkin’ telah keluar dari resesi, kenyataannya yang membumi sangatlah berbeda. Intervensi a la Sosialisme oleh Pemerintahan Kapitalis telah berhasil menunda sementara kejatuhan ekonomi. Namun, sekali saja seluruh prakarsa temporer tersebut ditarik dari ‘pasar bebas,’ maka pasar sepertinya sangat tidak mungkin bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Oleh karenanya, ekonomi dunia secara riil masihlah sama kondisinya dengan posisi tahun lalu.
Sungguh malang. Pada saat mayoritas masyarakat Kapitalis menghadapi prospek pengangguran dan pengambil-alihan aset yang semakin muram, mereka tidak akan mendapatkan kembali sedekah pemerintah untuk memudahkan situasi yang sedang mereka hadapi. Berita akhir-akhir ini mengenai pemberian bonus besar-besaran oleh bank-bank besar dunia kepada pihak manajemen, menunjukkan kepada kita kemana saja sesungguhnya paket bail-out (dana talangan) tersebut disalurkan. Fakta di atas juga menegaskan bahwa sesungguhnya perjanjian yang dibuat di KTT G20 yang lalu hanyalah untuk konsumsi publik (katanya, demi mengembalikan kepercayaan ‘pasar’ terhadap kondisi masa depan). Kenyataannya, hingga saat ini pemerintah negara-negara Barat tidak ada yang membuat aturan /keputusan hukum tentang penghentian pemberian bonus.
Memang kondisi ekonomi dunia tidak menjadi semakin buruk, namun pengangguran tetap tinggi, dan tingkat konsumsi masih rendah dalam kaitannya untuk mempertahankan pemulihan ekonomi. Prediksi terbaik atas beberapa ekonomi besar dunia, dalam hal pertumbuhan kuartal akhir ini, adalah pertumbuhan yang prematur. Sementara fundamental ekonomi yang sangat mendasar masih tenggelam dan belum pula muncul ke permukaan. Oleh karenanya, bolehlah kita katakan bahwa pulihnya ekonomi saat ini hanyalah fatamorgana.
[disadur oleh Rizki S. Saputro dari tulisan Adnan Khan di www.khilafah.com]
Diposting oleh Begundal Militia di 06.52 0 komentar
Kepada YTH Pemberi Lowongan Kerja
Kepada Yth
HR. PT. Xxxx Xxxxxxxxxxx
di Xxxxx
Dengan hormat,
Melalui surat ini, saya tidak bermaksud melamar pekerjaan seperti yang salah satu staff Bapak kirimkan ke email saya. Sungguh suatu tawaran pekerjaan yang sangat menarik menurut hemat saya. Terlebih dengan penggunaan bahasa Inggris yang baik dan benar. Mengesankan sebuah kebonafidan dalam nilai tertentu. Namun sekali lagi, saya dalam hal ini tidak untuk bermaksud mencoba mengisi kebutuhan yang diperlukan di perusahaan Bapak. Saya hanya ingin mengemukakan perasaan saya saja. Perasaan ahru yang tiba-tiba muncul setelah membaca email dari salah seorang staff Bapak. Email yang disebar ke banyak orang.
Terus terang, Bapak, buat saya apa yang Bapak lakukan ini adalah sesuatu yang indah. Pada saat kenyataan di negeri ini jumlah pengangurang begitu meningkat, Bapak justru muncul bak dewa penyelamat menawarkan pekerjaan pada mereka (ket: pencari kerja). Momen seperti inilah yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Terlebih bagi mereka yang gagal dalam tes-tes CPNS yang sedang bergulir saat ini. Bahkan begitu juga bagi mereka yang ingin memiliki rumah dan tanah di sekitar Bogor. Sebab tanpa pekerjaan, tentunya mereka tidak akan dapat merealisasikan mimpinya itu.
Bapak yang terhormat, saya tidak mau tahu, apakah Bapak bermaksud riya atau tidak. Terserahlah. Karena masalah itu ada di dalam hati. Yang tahu hanya Bapak dan Tuhan yang Bapak sembah. Akan tetapi terlepas dari itu tadi, bagi saya apa yang Bapak lakukan adalah sesuatu yang sangat terpuji. Telah dengan jelas sudah bisa membantu orang lain sekaligus membantu program pemerintah khususnya Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II untuk mengurangi jumlah pengangguran. Dan jangan lupa, dengan jalan ini, akan banyak lagi anak yatim dan janda-janda miskin yang terbantu. Sebab mereka yang (insyallah) diterima kerja di tempat Bapak sejatinya akan memberikan shadaqah atau infak kepada mereka tadi.
Sungguh, hati saya ini tidaklah terbuat dari cadas. Sekiranya Bapak tidaklah usah menilai apa yang saya tulisankan ini terlalu mendramatisir apa yang telah staff Bapak kirimkan ke email saya. Inilah sejujur-jujurnya apa yang ada di dalam hati saya. Keinginan dan keikhlasan Bapak untuk membuka rezeki kepada sesamanya membuat saya terenyuh dan tentunya sekaligus bangga yang tiada tara. Saya nyaris tidak percaya bahwa masih ada di dunia ini orang yang begitu mulia dan peduli terhadap sesama seperti Bapak.
Bapak jangan menolak apabila saya puji meskipun saya sadar sesadar-sadarnya bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Terpuji. Bapak pun jangan melempari mata saya dengan pasir karena ingin mengikuti sunnah Rasul yang mengatakan apabila kamu dipuji maka lempari yang memuji dengan pasir. Sekali-kali janganlah seperti itu. Sebab pujian saya semata-mata karena apa yang telah Bapak lakukan selama ini. Saya dapat membayangkan bagaimana Bapak berusaha menyisihkan waktu di sela-sela kesibukan Bapak, untuk menyusun kalimat-kalimat iklan berbahasa Inggris, membuat kata-katanya menjadi singkat namun padat, dan merelakan sejumlah uang tertentu untuk biaya publikasi. Juga, mungkin member upah pada staff Bapak untuk menyampaikannya kepada email saya.
Adakah di dunia ini yang begitu indah selain mengetahui ada orang seperti Bapak yang begitu mulia hatinya ini? Saya yakin ada. Banyak. Namun tidak jelas dimana. Tetapi paling tidak Bapak sudah menempatkan diri Bapak sendiri sebagai salah satu orang yang termasuk ke dalam orang-orang mulia di dunia. Dan jikalau Bapak ini dinobatkan menjadi pahlawan, saya doakan Bapak tidak ditunjuk sebagai orang yang mendapatkan penghargaan, disemati bintang jasa atau dikalungi untaian bunga nan indah. Sehingga dengan begitu Bapak akan tetap dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Selevel dengan guru-guru kita tercinta.
Semoga Tuhan senantiasa memantau Bapak untuk membimbing dan meluruskan serta semakin memperbaiki hari ke hari Bapak.
Saya sudahi surat ini dengan ucapan terima kasih, doa akhir majlis serta syukur kepada Allah SWT. Salam Kenal.
Jakarta, 22 Oktober 2009
Benny Gunawan Dalmatin, S.E., S.H.
(S)arjana (E)dan & (S)arjana (H)ipernyengled
Diposting oleh Begundal Militia di 15.10 0 komentar



