
Lihatlah itu saya sudah ada di Bandung. Ibukota Priangan. Yang sudah lama beta tidak berjumpa dengannya. Juga dengan pohon Jambu Bol Jamaica yang di depan rumah. Juga dengan Mang Gozali si penjual baso tahu. Juga dengan Jindow, Akmal & Altaf balita tetangga sebelah. Juga para petani yang sibuk mencangkul di belakang rumah. Juga dengan para pengemudi ojeg dan becak yang biasa mangkal. Juga dengan kucing belang yang pernah kepergok lagi kawin di halaman rumah. Ah tapi rasanya tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut tentang keadaan rumah saya. Kalau dijelaskan pun pasti tidak akan ada yang tahu di negara apakah itu rumah orang tua saya gerangan. Kecuali, kalau mau membeli rumah orang tua saya, nanti tentunya akan saya beri tahu. Soalnya itu rumah memang sedang mau dijual.
Sekarang di depan rumah saya sudah tidak boleh parkir mobil. Tanah kosong yang dulu biasanya buat kumpul bocah dan menikmati buah kersen, sekarang sudah dipagari. Otomatis romantis sudah jarang terdengar keributan lagi disana. Begitu juga dengan mobil-mobil Bapak saya. Selaku jutawan yang tidak punya tempat parkir, Bapak saya akhirnya memilih tanah kosong yang lebih jauh untuk menyimpan mobil-mobilnya. Maklumlah, namanya pedagang jual beli mobil. Dia butuh selalu tempat yang lumayan luas untuk mengkandangkan asetnya itu.
Sekonyong-konyong itu Bapak saya menyuruh saya pergi. Saya terkaget-kaget. Berjuta-juta pertanyaan berkumpul-kumpul di kepala saya. Anak durhaka kah saya? Perasaan tadi itu Jambu bol yang saya lempar ke bawah tidak mengenai kepala dia. Tidak juga saya menolak mengakuinya sebagai bapak. Lantas apakah salah saya? Begitu pikir saya diatas pohon jambu.
Ibu saya, Adek saya, Um-Um Surum Um, dan Revo pun terdiam. Mereka yang tadinya tertawa-tawa menangkapi jambu akhirnya terdiam bagaikan arca Batara Kala di candi-candi.
Oh ternyata yang menyebabkan Bapak saya begitu bukanlah karena saya durhaka. Dia hanya meminta saya untuk pergi ke ATM BCA. Katanya ada orang yang mau membeli mobil jualannya tapi uangnya ditransfer via bank.
Tidak sampai setahun semalam Bapak menunggu saya turun dari pohon jambu lantas pergi ke ATM BCA. Cukup hanya 15 menit itu saya sekarang sudah ada di dalam mobil bersama Revo, Adek, dan Um-Um Surum Um. Tidak lupa dengan ATM BCA milik Bapak juga selembar kertas berisi nomer pin.
Berulang kali si pembeli menelepon saya. Menanyakan posisi dan kesiapan melakukan transfer. Saya jawab saja sedang di jalan. Namun itu tidak menyurutkan si pembeli untuk tidak menelpon saya. Hingga terakhir menelpon ketika saya mengatakan bahwa transferannya yang sebesar 5.000.000 sebagai uang DP ternyata belum masuk.
Itu saya sudah berada didalam ATM. Dan si Bapak yang mengaku bernama Hendra Sujarwo akhirnya menjadi kalut. Lantas menanyakan saldo rekening ATM Bapak saya. Saya jawab posisi saldo masih seperti awal (baca: 150.000 rupaih). Jumlahnya adalah lah kata saya kepada itu si Bapak. Pokoknya transfer dia belum masuk. Tapi si Bapak Hendra ini terus menanyakan. Saya bilang lagi saja seperti yang saya katakan tadi. Mendengar itu si Bapak Hendra semakin mengeluh dan memberikan solusi akan mencoba mengkontak pihak BCA. Sekaligus meminta saya mencari pengganti ATM lain selain BCA. Kebetulan kata saya. Ada ATM Bank Jabar milik Bapak saya tapi kartunya ada di rumah. Sontak si Bapak Hendra meminta saya untuk segera mengambilnya ke rumah
Ya sudahlah saya memutar balik mobil menuju rumah. Di sepanjang perjalanan si Bapak Hendra terus mencoba mengkontak saya. Tapi sengaja tidak saya angkat. Males. Mana si Revo mengamuk ingin es krim lagi.
Karena bosan mendengar HP berbunyi terus, saya berikan HP ke adik saya. Biarlah dia yang berbicara. Saya mau mencari es krim dulu buat Revo. Samar-samar terdengar kalau adik saya diminta untuk membawa Bapaknya, Bapak saya juga, ke ATM. Entah kenapa alasannya. Nada bicaranya terkesan gelisah dan galau. Mungkin karena uangnya yang gagal transfer itu tadi.
Melihat kenyataan itu, mobil dan orang-orangan didalamnya saya cepat bawa lagi ke rumah yang memang tidak terlalu jauh dari tempat tadi belanja. Sampai di depan rumah, nampak Bapak saya beserta sopir sedang bersiap untuk pergi menggunakan mobil jualannya yang lain. Tergesa-gesa kelihatannya.
“Bade kamana, Pak? (Mau kemana, Pak?)” itu saya bertanya.
“Ieu ka Bank. Itu nu bade meser ceunah artosna teu lebet ka BCA nya?! (Ini mau ke Bank. Itu yang mau beli katanya uang dia tidak masuk ke BCA)” jawab Bapak saya, “Sok geura parkirkeun! Urang ka ATM ayeuna! (Ayo parkirkan. Kita ke ATM sekarang)”
“Ke…ke….ke…. aya nu aneh yeuh (ada yang aneh nih)” kata saya ke Bapak, “Kalebet heula mending Pak. Sapertosna aya nu teu beres (Ke dalam dulu mending, Pak. Kayaknya ada yang tidak beres)”
Saya lekas-lekas masuk. Lekas-lekas bawa itu orang-orangan yang ada di dalam mobil untuk bersaksi atas kejadian selama perjalanan. Lekas-lekas bercerita kenapa saya menjadi seperti Sherlock Holmes. Lekas-lekas saya bilang bahwa orang yang bernama Hendra Sujarwo ini sepertinya sejenis penipu.
Ini hanya sekedar asumsi saya belaka. Begitu saya bilang ke orang-orang di ruang tengah. Kenapa begitu? Pertama, masalah beli mobil tapi tanpa dilihat barang. Bagi orang yang mengaku hobbies & kolektor secara logika tidak mungkin membeli mobil tanpa memeriksa barangnya. Kedua, masih dugaan saya juga, sangat tidak mungkin Bapak Hendra dapat berkomunikasi dengan CS BCA sebab itu hari sudah Minggu dan itu jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Ketiga, seingat saya, BCA itu bank arogan. Ia tidak bisa melakukan transfer via ATM BCA ke bank lain kecuali k BCA lagi. Jadi mustahil si Bapak Hendra dapat melakukan apa itu yang ia mau. Sebab rekening dia BNI bukan BCA.
”Kringgggg.............kringgg...............” Hp tiba-tiba berbunyi. Meski sesungguhnya bunyinya tidak seperti itu. Tapi yang penting pokoknya berbunyi lah. Tak perlu saya bahas lebar-leba rmengenai bunyi HP.
”Iya” Saya sambut dengan suara yang dimanis-maniskan. Mirip bencong-bencong di Jalan Tera sana, ”Pak Hendra ya?”
”Dengan Dek Linda?” suara Pak Hendra memastikan dengan siapa dirinya berbicara. Linda itu ceritanya nama adek saya (sengaja saya samarkan nama Adek saya)
”Iya Pak. Ini Linda” balas saya.
”Kok jadi beda suara?” tanya si Bapak lagi.
”Lagi agak pilek. AC di ATM-nya dingin banget. Jadi agak meler hidung saya” jawab itu saya sambil senyum-senyum ke orang rumah yang lagi menonton akting aktor terkenal ibukota.
”Oh, sudah di ATM ya? Bapaknya mana?”
”Bapak tidak ikut. Linda saja yang urusin. Begitu kata Bapak” kata saya, ”Terus bagaimana nih Pak?”
”Sebentar saya hubungi CS BCA dulu”
”Bapak tadi transfer pakai ATM BNI kan ke rekening Bapak saya?” saya pancing dengan pertanyaan jebakan mau.
”Iya tadi saya kirim via ATM BNI saya’ jawab si Bapak,” Sebentar ya Dek Linda, saya coba hubungi CS BCA dahulu. Biar masalah transfer ini beres hari ini”
Lalu tiba-tiba bunyi telepon berubah. Suara nada memanggil terdengar nyaring. ”Halo, Selamat Sore. Costumer Service BCA. Dengan Hadi Purnomo disini. Ada yang bisa saya bantu?” Mendadak terdengar suara laki-laki lain selain suara Bapak Hendra.
”Begini Pak, Saya Hendra Gunawan. Saya tadi transfer ke rekening milik Bapaknya Dek Linda sebesar 5 juta rupiah. Tapi belum sampai hingga saat ini. Tolong dibantu ya Pak” itu suara Pak Hendra terdengar lagi. Tapi dengan nama yang bukan Hendra Sujarwo lagi.
”Oh begitu ya Pak. Baik nanti kami bantu untuk menyelesaikan masalah transfer ini. Bisa saya dihubungkan dengan pemilik rekening yang ditransferkan?” tanya CS BCA lagi.
”Oh iya Pak. Silakan. Ini sudah saya siapkan” jawab Hendra Gunawan atau Hendra Sujarwo.
”Halo selamat sore” CS BCA mengucapkan salam dengan ramah dan syahdu, ”Maaf dengan siapa saya bicara?”
”Saya Linda” segera saya rubah lagi suara sungai Barito saya menjadi suara Betty Bencong Slebor.
Itu CS BCA akhirnya menanyakan nomer rekening BCA milik Bapak saya. Beserta jumlah saldo yang ada. Lalu menanyakan apakah ada rekening lain selain itu. Saya katakan saja ada. Dan saya bilang juga kalau saya sedang di depan ATM Bank Jabar. Menunggu panduannya untuk transfer.
”Saldonya 57 juta, Pak” kata saya menjawab pertanyaan CS BCA yang memastikan agar selisih setelah transfer tidak salah.
”Tepatnya berapa Mbak?” tanya dia lagi.
”Jumlahnya 57.700.123 rupiah” kata saya sambil melihat nomer seri snacknya Revo.
”Baik. Mari saya pandu” kata CS BCA ramah.
”Sekarang masukan kartu ATM-nya terus pilih bahasa lalu masukan juga pinnya!” CS BCA menyuruh saya
Saya lantas masukan singkong rebus ke mulut. Lalu pencet-pencet jerawat di hidung sambil berdiri di depan cermin. ”Sudah Pak” kata saya.
”Ada apa sekarang ditampilannya?” tanya CS BCA.
”Disini ada Indormasi Saldo, Penarikan Tunai, Pemindahbukuan, Lain-lain”
”Ok. Tekan pemindahbukuan!” perintah CS BCA.
”Iya sudah” kata saya sambil senyum melihat orang-orang itu pada semuanya. Adik saya senyum, Um-Um Surum-Um senyum. Bapak saya senyum. Revo tidak senyum. Dia lagi main dengan boneka.
”Sekarang ada tampilan apa?”
”Mhmm...” saya kaget juga ditanya begitu. Tak disangka-sangka. Seketika itu juga saya tanya ma adik saya dengan bahasa isyarat. Kita semua menjadi panik tapi itu tidak lama berselang.
”Disini ada masukan nomer rekening yang akan ditransferkan” kata saya ke CS BCA tadi.
”Oh iya sudah benar. Sekarang masukan nomer rekening ini. XXXXXXXXXXXXXX” kata CS BCA,”Sudah?”
”Sudah” jawab saya.
”Coba diulang Mbak” pinta CS BCA.
Gubragsss.... Mati saya. Tapi tenang pikir saya. Saya belum mati. Dan beruntung Adik saya mencatat apa yang tadi dikatakan si CS BCA. Lalu saya sebut saja kembali nomer yang tadi disebutkan oleh sang CS BCA. Tentunya dengan PD.
”Iya benar Mbak. Sekarang masukan jumlah angka ini” pinta dia lagi,”4.994.873”
”Iyah sudah” saya bilang, ”4.994.873”
”Sekarang tekan kirim!”
”Ya sudah”
”Ada apa lagi tampilannya sekarang?”
”Masukan nomer referensi anda” jawab saya.
”Silakan masukan nomer rekening Mbak atau kalau tidak abaikan saja” kata si CS BCA, ”Sekarang ada tampilan apa?”
”Terkirim. Uangnya telah ditransfer” kata saya.
”Mhmm.... Tidak ada tampilan sebelumnya?” tanya CS BCA, ”Sudah keluar resinya?”
Saya baru ingat. Biasanya muncul nama pemilik rekening bank yang akan kita tuju. Berhubung saya tidak di depan ATM, jelas saya tidak tahu nama siapa gerangan disana. Saya bilang saja tadi langsung dipencet tanpa dilihat dulu. Ingin cepat beres kata saya. Tapi kemudian CS BCA bertanya tentang resi. Saya bilang saja belum keluar.
”Ya sudah diulang saja kalau begitu” kata CS BCA lagi.
Saya disuruh mengikuti perintah yang seperti tadi lagi. Dari mulai memasukan nomer hingga mengirim angka yang sama. Persis tidak ada bedanya. Setiap perubahan tampilan gambar di ATM pun selalu dia tanya.
”Sudah keluar resinya, Mbak?” tanya si CS BCA
”Sudah” saya jawab saja begitu sambil senyum penuh kemenangan. Begitu juga senyum Adek saya, Um-Um Surum Um, dan Bapak saya. Mereka punya senyum yang menang.
”Benar Mbak sudah keluar?”
”Sudah. Nih sudah di tangan” kata saya lagi
”Jadi berapa angka saldonya?”
Waduh (itu saya katakan dalam hati). Segera saya suruh itu Adik saya menghitung dengan kalkulator. Berhasil. Angka yang didapat adalah 52.705.250.
”Berapa Mbak?” tanya si CS BCA.
”52.705.250” jawab saya.
”Sudah keluar kan ya?” suara si CS BCA mendadak berubah. Ada kesan suara yang senang sekaligus menahan tertawa disana.
”Iya” jawab saya, ”Terus bagaimana lagi”
”Coba baca isi resinya dari atas perlahan-lahan!” lagi itu CS BCA tidak bosan-bosan menyuruh saya rajin membaca. Seaan-akan saya masih belajar membaca. Padahal saya sudah lulus SD.
Disuruh begitu jelas saya gelagapan. Saya tidak tahu tulisan apa yang selalu ada di resi ATM. Belum lagi kalau disuruh membaca nama pemilik rekening yang ditransfer. Itu saya, Adek, Um-Um Surum Um, dan Bapak saya terdiam membisu. Mati gaya.
”Ya begitu saja seperti biasa” kata saya mencoba menenangkan diri, ”Namanya juga resi ATM”
”Coba dibaca ulang saja Mbak!”
”.......” saya bingung. Jawab apalagi ya. Sepertinya sandiwara ini harus segera diakhiri. Sekonyong-konyong itu jam dinding yang ada diatas kepala berbunyi nyaring. Tepat pukul 5 sore. Berisik. Kata saya
”Loh, Mbak di rumah atau di ATM sih?” sekonyong-konyong juga muncul suara si Hendra Gunawan atau Sujarwo dibalik telepon.
”ATM dong!” sungut saya.
”Jangan boong lu. Ni bukan di ATM ya?! Ini di rumah” eh itu tiba-tiba suara Hendra Sujarwo binti Gunawan berubah logatnya menjadi seperti orang Batak. Tak lama disusul suara orang ketawa. Suara si CS BCA dengan logat Batak juga. ”Dasar pembohong!”
”Ih siapa yang bohong?” kata saya dengan genit.
”Alah sudah lu jangan bohong lagi. Katanya punya uang 57 juta. Padahal tidak punya. Tidak usah pura-pura gitu lah!” si Hendra Sujarwo aka Gunawan berlogat Batak lagi.
”Lah kalau saya bohong kenapa? Lebih pembohong mana saya atau kalian?” saya mulai membalikan keadaan.
”Hahaha... Sudahlah mending kita ketemuan di hotel saja, Mbak!” kata si Hendra
”Memangnya kamu mau apa dengan saya? Mau mesum sama saya? Kamu kelainan seksual ya” seketika itu saya rubah kembali suara saya ke suara gagah saya, ”Mau mesum ma saya?”
”Klik........” itu telepon akhirnya diputuskan dari sana. Entah kenapa tiba-tiba mereka memutuskan begitu saja. Yang jelas pembicaraan kami sudah lebih dari 45 menit. Dan sesingkat itu pula akhirnya kami harus berpisah.
Tertawalah kemudian itu kami yang berada di ruang tengah dengan lepas. Sampai-sampai si Revo datang menghampiri. Sambil membahas hasil perbincangan tadi, saya mengirimkan sms ke nomer orang yang mengaku Hendra tadi;
Selamat anda telah terlacak pihak kepolisian. Sebentar lagi bakal ada tim yang datang menangkap anda. Saya siap menjadi saksi nanti di pengadilan anda......... Lu mah salah Cuy. Bapak gua kan reserse. Nipu bapak gue itu namanya cari mati. Dasar tukang tipu. Liat-liat dong klo mo nipu. Tukang tipu lu tipu:p!!!
Menipu Penipu
Diposting oleh Begundal Militia di 17.58 6 komentar
Babaongan Made In Bandung
Diposting oleh Begundal Militia di 06.43 0 komentar
Membongkar Gurita Cikeas (Download)

Itu saya pusing-pusing mencari buku ini di toko buku. Ternyata itu buku tidak saya temukan. Akhirnya ketemu di internet. Terima kasih internet.
Sebagai balas jasanya, saya beritahukan juga pada semuanya yang membutuhkan buku ini. Biar tidak seperti itu saya waktu mencari-cari ke toko buku. Ini link Downloadnya Membongkar Gurita Cikeas dan Membongkar Gurita Cikeas (Full Version)
Diposting oleh Begundal Militia di 05.17 0 komentar
Pemenang QUIZ RUAR BINASA#1
“Kalau Kamu Fesbukan Dengan Obama, Apa yang Akan Kamu Tulis di Wall Dia?”
(Mohon maaf pengumumannya telat, maklum lah namanya juga Engdonesia)
Seandainya ketiga juri (Begundal Militia, Divan Semesta, dan Anggawedhaswara) ada tinggal dalam satu rumah mungkin enak. Semua akan beres dengan cepat. Tanpa harus berlarut-larut hingga seperti sekarang ini.
Tapi nyatanya semua mimpi indah itu tidaklah menjadi realitas di lapangan. Ketiga juri yang cantik jelita itu berada di negaranya masing-masing. Terpisah berkilo-kilo jauhnya. Sehingga akhirnya terpaksa komunikasi pun digalang melalui e-mail dan sms. Walhasil komen yang masuk pun mencapai angka 500 (dikurangi 430an). Sisanya itu yang benar2 mengetik komen. Sedangkan yang 430an, kami yakin sebenarnya mereka tergerak untuk memberi komentar, entah ada konspirasi apa yang jelas mereka tidak jadi membubuhkan kata hatinya. Dan untungnya kami khusnuzan saja.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, beberapa yang dipilih oleh Divan Semetsa ada sama dengan yang dipilih oleh Anggawedhaswara, juga ada sama dengan yang Begundal Militia pilih. Namun yang benar-benar dipilih oleh ketiga juri sebenarnya hanya 2 saja. Tidaklah usah mencari tahu siapa. Biar ini menjadi rahasia kami bertiga. Sedangkan yang terpilih oleh kebetulan dua jri adalah sebanyak 5 orang saja. Sehingga sebenarnya total yang terpilih juri itu adalah hanya 7 orang. Namun berhubung kami baik dan semua yang mengisi komen baik dan bercita-cita untuk menulis komen di wall-nya Obama, maka kami tambahkan 3 orang pemenang hiburan untuk menggenapkan menjadi 10 pemenang.
Sumpah padahal kami ingin semua menang. Tapi kami lantas berpikiran, klo semua menang, dana untuk hadiah tentunya diserahkan pada semuanya. Lantas bagaimana dengan dana untuk “memberi pelajaran” pada Obama??? So, berdasarkan dari sanalah maka dengan berat hati, mau tidak mau inilah mereka yang kami pilih:
1. Aditya Nugraha
("Goblog siah. gelut jeung aing!!!")
2. Herman PuraPura Sibuk
("Obama ??.. kayaknya saya salah add friend deh.. ")
3. Fajar Ar-Rocketrase
(obamaaaaaaaaaa!!!!! menta chip mafia war euy!!!!!)
4. Koko Corleone
(ntar sambil baca doa obama: "OBAMA atinna fidunyah khasanah wafil'a
hiroti khasanah wakina adhabanar,.." heheheee,..)
5. Muhammad Abduh Hirawan
("ada hubungan apa kamu sama Pytm ?')
6. Telaga Kautsarwoeey
(Pak Dhe Bam, ngartos boso jowo ora??? kula arep nembok marang FB kowe anggo boso'ne wong kapitalis, kula sing ora ngartos... djiakakak.....kula boten nggadha tembok, ananing Gedhek.... saka pring.... sumrriwiinggg...... ^^...)
7. Faathir Archza
(Om barry kok gk mirip org negro lbh mirip org jawa dnegara kami byk yg mìrip kayak om loh)
8. Ridwan Nuryaman
(Obama go tu hel we lah ..... lieur ningali polah silaing make jeung acara pidato di mesir sagala bari jeung punduk nyanghareup tapi ati mungkir .... sarua lah maneh mah teu beda sareng nu atos2 sarua balad yahudi2 keneh, montong api2 'bageur' ka Islam jeung Ummatna lamun aya kawani sok ulah siga jalma hipokrit waluh !! Sow me yor ril pes .... or day laik eun esol siah kehed ..... dasar presiden peot hulu euweuh kawani .... uing moal katipu ku raray ilaing, cing demi moal !!!)
9. Begundal Blacklist
(salam buat michelle, terima kasih atas segalanya " =))
10. Randa Atmaja Gusti
(om obama... dulu waktu di menteng sukanya jajan apa ??? kerak telor, cireng, ato bir kocok ??? hehehehehehe)
Sumpah nomor urutan tidak menentukan kualitas. Terimakasih, sudah ikutan Quiz Ruar Binasa. Tidak ada satu pun yang lebih menarikdhidup di dunia ini ketimbang hidup senang dan rame. Ekoy?!
Jakarta, 28 Desember 2009
Tim Juri
PS:
Kepada pemenang kirimkan alamatnya ke imel atau private message-nya Pengkhianatyangtelahmusnah. Setelah itu jangan lupa untuk mengirimkan foto diri yang telah berhasil menggunakan, memakai, memakan hadiah dari kami (Gaya terserah keinginan masing). Agar kami tidak dituduh sebagi pembohong yang menyebarkan sayembara palsu.
Kepada yang belum menang tunggulah quiz berikutnya. Makanya pantengin terus Quiz ini!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 19.57 0 komentar
Menyesatkan Lagu Anak Yang Sesat

Apa tanda-tandanya anak sudah bisa diajarkan menyanyi? Disini, di kontrakan Gandaria, Jagakarsa, tandanya adalah ketika itu anak mengoceh dan bersenandung sendiri. Itu versi kontrakan sini. Entah versi kontrakan Pak Haji Umar atau kontrakannya Bang Arif yang Ketua RT. Yang jelas anak sini (baca; Revo) mulai bisa bernyanyi ketika dia sudah mulai bersenandung sambil memanjat teralis jendela. Saya tidak tahu kenapa sejak itu dia mulai bisa diajarkan menyanyi. Apakah karena ia merasa dirinya Sir Edmund Hillary yang sedang berusaha memanjat Everest (yang butuh nyanyian agar bersemangat) ataukah dia merasa dirinya bagian dari Easy Company yang sedang latihan menaiki bukit? Agrh kenapa saya sampai sejauh itu memikirkannya. Toh saya yakin Revo belum pernah lihat Edmund Hillary atau Band of Brothers.
Lihatlah dia, itu Revo, memanjat naik terus ke atas. Bersemangat dengan nyanyian karangannya. Ke itu ujung horden. Sengaja saya tidak suruh dia turun. Biarkan saja pikir saya. Toh kalau jatuh ke bawah. Tidak bakal ke atas. Lagian kasihan nampaknya dia sedang begitu konsentrasi dengan lagu gubahan dan usaha mendakinya.
Satu lagu beres (nampaknya). Tak berselang 5 detik dia membuat nada-nada pentatonik yang tidak beraturan lagi. Beradu dengan suara hujan yang memang sedang lebatnya. Sekonyong-konyong, sebuah guntur yang tidak memakai M Romli belakangnya ikut memeriahkan suasana. Revo kelihatan kaget dibuatnya. Hampir saja dia free fall. Namun dengan sigap tangannya dia pegangkan lagi ke teralis besi. Mukanya memucat melihat kiri kanan seperti orang mau menyebrang. Saya lihat kiri kanan juga. Tidak ada mobil, tidak ada truk gandengan. Bebas untuk menyebrang. Saya bilang ke Revo supaya terus menyebrang tapi dia malah tetap celingak celinguk. Lantas memanggil itu nama alias saya sambil menangis keras. Ah, ada apakah gerangan? Kenapa dia tidak memanggil nama asli saya saja? Kan kita sudah saling kenal. Apa karena tidak sopan? Sebab budaya Timur melarang seperti begitu.
Oh, ternyata dia hanya ingin turun dari teralis besi itu. Sebab ternyata dia tidak tahu cara turunnya. Aha! Ini saat yang tepat buat saya untuk ikut menyanyi meramaikan suasana. Tentu saja dengan nada-nada yang tidak beraturan juga.
“Ayo teu tiasa turunnnn…. Ayo teu tiasa turunnn… Ayo teu tiasa turunnn… (Ayo tidak bisa turun)” itu saya berkoceh sambil menepukkan tangan dengan tepuk yang jelas bukan tepuk Pramuka.
Tahu dibegitukan oleh saya, tangis Revo sekarang disertai jerit metalnya. Jerit yang bisa terdengar sampai ke mimbar masjid yang terhalang kebun sepanjang lima puluh meter itu. Suara dia memang keras begitu. Kalau sudah menjerit seperti itu tak kalah lah dengan Sammy Hagar-nya Van Hallen. Sumpah demi metal!
Demi mengakhiri konser metal dadakan yang makin memanas lengkingnya, saya akhirnya mendekati Revo. Saya pegang badannya dari belakang sambil berkata kalau mau jadi vokalis metal tidak usah naik-naik teralis segala. Naik teralis mah cocoknya jadi wallclimber. Mengerti tidak begitu saya bilang dan tanya padanya. Alhamdulillah dia tidak mengerti. Ya sudah akhirnya saya turunkan dia dari teralis yang menjadi neraka baginya.
“Sok ayeuna mah amengna dihandap we! (Ayo sekarang mainnya dibawah saja) ” kata saya.
Revo sesegukan. Tangisnya masih belum habis. Namun berangsur mereda seketika si Um-Um Surum Um yang pengusaha pabrik susu datang.
“Eneng, nyanyi Naek Kereta Api kumaha?” si Um-Um Surum Um membuka keramaian.
“Api…tutttt…. tutttt…. tuttttt” Revo menyanyi-nyanyi sambil kepalanya goyang kiri kanan mirip orang lagi dugem. Oh mungkin begini ya kalau bayi dugem. Pikir saya.
“Naik kereta api tut.. tut.. tut.. siapa hendak turut.. ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama..” itu Um-Um Surum Um melanjutkan nada-nada Doel Sumbang nya.
“Eh Um-Um Surum Um, lagunya ganti ah!’ larang saya, “Jangan lagu itu!”
“Kok diganti?” Um-Um Surum Um bertanya-tanya.
“Itu mah lagu yang mengajarkan yang tidak benar”
“Tidak benar apanya?”
“Masa mengajarkan anak biar nanti naik kereta gratisan. Pantesan saja PT KAI suka berkeluh kesah rugi terus”
“Kok gratisan??? Oh iya. Hehehe…” Um-Um Surum Um tersadar tapi kemudian malah nyengir kuda.
“Yeee… malah nyengir deui” timpal saya, “Mau tidak nanti si Revo kalau besar naik keretanya ke atas gerbong terus?”
“Ya nggak lah” jawab dia, “Trus nyanyi apa atuh?”
“Seterah. Yang penting yang ararekoy (baca oke)”
“Neng, nyanyi balonku yu Neng!” Um-Um Surum Um mengajak Revo mengganti lagu. Dengan serta merta Revo lalu teriak “Dollllllllllllllllllll…” Mungkin maksudnya balonnya meletus.
“Eh, tapi lagu Balonku juga jangan” larang saya lagi.
“Kok jangan lagi?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak tidak pandai berhitung. Masa balonnya cuma 5? Kan seharusnya balonnya ada 6. Sok geura itung! (Coba saja hitung)… Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!”
“Dolllllllllllll……………” Revo ikut-ikutan ngedorrr.
“Coba hitung berapa warnanya tuh? Ada 6 kan?!"
“Eh iya ya. Kok baru tahu ya? Hehehe……” kata Um-Um Surum Umum, “Trus lagu apa lagi yang tidak boleh?”
“Sebentar mikir dulu nih” sengaja saya mengulur-ngulur waktu agar banyak lagu yang tidak boleh dinyanyikan. Bukan apa-apa, soalnya suara si Um-Um Surum Um fals. Hehehe… Tapi sebenarnya bukan itu kok alasannya. Saya sengaja saja mencari-cari alasan biar si Revo lebih pintar mengaji daripada menyanyi. Sepertinya alasannya tidak menyambung ya. Tapi biarlah.
Lalu saya katakan pada Um-Um Surum Um kalau lagu Bangun Tidur (Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..) pun tidak boleh. Sebab lagu ini mendidik anak tidak disiplin, selalu buru-buru, dan mengajarkan nudism. Masa setelah mandi lalu membereskan tempat tidur. Kan badannya masih basah. Bahkan telanjang pula. Harusnya yang benar kan pakai baju dulu.
“Lagu Burung Kutilang, Ibu Kita Kartini, dan Bintang Kecil juga tidak boleh!”
“Hah? Kok bisa?”
“Ya bisa dong. Kenapa juga tidak bisa?” jawab saya.
Lagu-lagu tadi mengajarkan anak untuk pintar berbohong dan memanipulasi realita. Begitu kata saya. Suatu hari nanti kalau mereka (baca: anak-anak) terus diajarkan lagu-lagu seperti ini dikhawatirkan ketika dewasa nanti dia menjadi koruptor. Coba saja resapi lagu Burung Kutilang (Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu.. mengangguk-ngangguk sambil bernyanyi tri li..li..li..li..li..li..). Sejak kapan suara Kutilang jadi tri li li li li. Bukannya yang benar adalah cuit…cuit…cit. Yang tri li li li li itu mungkin suara Agnes Monica yang sedang menyanyi di Tra la la tri li li (acaranya dia dulu).
Mendengar itu, Um-Um Surum Um cengengesan lagi. Sialan pikir saya. Kenapa dia cengengesan. Padahal saya sedang membahas dengan ilmiah begini. Demi membuktikan keilmiahan saya, saya buktikan lagi dengan lagu-lagu lainnya. Lagu Ibu Kita Kartini (Ibu kita Kartini…putri sejati.. putri Indonesia.. harum namanya…) adalah lagu pembodohan begitu saya bilang padanya kemudian. Masa sudah tahu namanya Harum eh masih dibilang Kartini. Bukannya itu pembohongan yang begitu jelas. Begitu juga dengan lagu Bintang Kecil (Bintang kecil dilangit yg biru…). Saya suruh saja Um-Um Surum Um melihat keluar jendela. Lantas bertanya apakah warna langit diatas itu biru. Saya ulang sampai tiga kali pertanyaan itu. Dan saya yakin semua orang termasuk Um-Um Surum Um akan menyangkal akan penyataan di lagu itu. Sebab langit diluar sana berwarna gelap aka hitam. Bukan biru.
“Hehehe…. Iya ya?”
“Iya.. Iya terus ah dari tadi” kata saya. (Padahal maksud saya ayo dong pikirkan lagi lagu apa lagi yang dilarang. Sudah cukup semaput nih mencari alasan-alasan biar masuk akal)
“Naik Delman juga tidak boleh” ujar saya lagi.
“Kenapa?”
“ Itu lagu mengajarkan anak tidak sopan kepada orang lain” jawab saya, ” …Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.. naik delman istimewa ku duduk di muka.. Nah muka siapa tuh yang diduduki? Muka ayahnya atau kusir delman?”
“Hahaha……”
“Nina Bobo juga sama”
“Nina Bobo kenapa?”
“Nina Bobo mengajarkan anak hidup penuh ancaman. Hidup dalam naungan teror. Hidup untuk memusuhi ciptaan Allah”
“Hah?”
“Dengarkan nih! Nina bobo.. ooh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk” saya berdendang, “ Nyamuk dicap teroris setiap hari. Padahal Allah menciptakannya tentu ada gunanya. Bukan semata-mata menjadi teroris buat manusia setiap malamnya”
“Hehehe… Ah ada-ada aja”
“Ya harus diada-adain atuh!”
“Apalagi?”
“Lagu Cakul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
“Itu kenapa?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak agar menjadi orang yang lebay, bodoh, dan tidak efektif & tidak efisien. Lha wong mau menanam jagung kok mencangkulnya dalam-dalam. Memangnya mau bikin sumur. Kuburan juga paling satu meter tidak perlu dalam-dalam sekali?”
“Hehehe… “
“Hehehe…” Revo ikutan ketawa melihat Um-Um Surum Um cengengesan dari tadi.
“Eh, si Eneng siga nu ngartos wae (Ih si Eneng seperti yang mengerti saja)” kata saya,”Eneng ngartos? (Eneng mengerti?)”
“Manyun…manyun… muachhh” Revo malah me-manyun-kan (memajukan) bibirnya lalu mencium si Cobo boneka beruang nya yang segede alaihim gambreng itu.
“Nih ada lagi!” kata saya, “Lagu Aku seorang kapiten!”
“Memangnya kenapa lagu itu?”
“Lagu ini mendidik anak menjadi penjajah yang tidak konsisten. Sekaligus mengajarkan Revo menjadi tomboy”
“Alasannya?”
“Lagu itu kan lagunya anak laki-laki. Nah klo si Eneng diajarkan lagu itu. Nanti dia malah main pedang-pedangan. Bukan boneka atau masak-masakan. Tomboy lah sudah dirinya. Beruntung kalau cuma tomboy saja. Kalau jadi aktivis kesetaraan gender yang feminis bagaimana coba?”
“Hehehe… Terus…terus???”
“Lagu ini juga tidak konsisten. Kalau misal ingin cerita tentang sepatunya seharusnya menyanyi begini…Aku seorang kapiten… mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalau berjalan prok..prok.. prok.. Tapi kalau ingin cerita tentang pedangnya, harusnya menyanyinya seperti begini …mempunyai pedang panjang… kalo berjalan srek.. srek.. srek… Benar tidak???”
“Iya… hehehe…”
“Kalau yang menjadi penjajahnya gimana?” Um-Um Surum Um membuat dirinya bagai investigator polisi.
“Ah itu mah gampang. Kapiten kan khas istilah jaman Kompeni begitu. Benar tidak? Pertanyaanya sekarang, kenapa harus Kapiten? Kenapa tidak mujahid atau mujahidah? Coba dengarkan kalau lagunya digubah menjadi seperti ini …Aku seorang Mujahidah… mempunyai pedang panjang… kalau berjalan sret…sret…sret…. Aku Seorang Mujahidah! Lebih pas dan syar’i kan?”
“Hehehe... Bener-bener” Um-Um Surum Um mengiyakan saja. Soalnya kalau tidak mengiyakan percuma baginya. Biasanya kalau tidak mengiyakan selalu akan saya arahkan agar menjadi iya dengan apa kata saya. Jawab iya atau tidak iya menjadi sekedar formalitas baginya sebab jawabannya sudah ada; Iya. Begitulah saya yang telah menjadikan saya bagai penjajah baginya. Tapi tentunya saya bukan penjajah yang semena-mena seperti Tuan Daendels.
“Terus lagu apa atuh kalau begitu yang cocok buat Eneng?” tanya Um-Um Surum Um.
“Sudah dengarkan saja ini!” saya perlihatkan CD Murrotal yang kemudian saya santapkan ke mulut DVD player. Lalu saya seolah-olah menjadi Tuhan dengan menghidupkannya. Murotal pun mulai mengalun dengan indahnya.
“ Aohhhhhhh………” Revo mengangkat kedua tangannya lalu melipatkannya di perut. Hampir mirip dengan orang yang sedang takbiratul ikhram. Setelah itu lalu dia sujud dengan pantat yang ditunggingkan dengan lebaynya. Begitu berulang-ulang. Berulang-ulang. Dan berulang-ulang.
Diposting oleh Begundal Militia di 09.19 2 komentar
Duduklah disini
Duduklah disini bersamaku
Kan kuberikan secarik kertas berisi puisi
yang kau baca sekarang ini
Jakarta, 2009
Tengah malam sambil membungkus kado buat Um-Um Surum-um yang kembali ulang tahun ketika hari sudah menjadi 26 November 2009
Diposting oleh Begundal Militia di 08.47 0 komentar
Upacara Hari Pahlawan

Hari itu sudah menjadi Selasa. Saya tidak lagi upacara bendera. Sengaja saya begitu. Bukan karena tidak ada sebab. Sebab kalau disebab-sebabkan maka akan banyak sebab. Dan saya kira itu memang tidak perlu. Kalau masih dianggap perlu, baca saja buku-buku di Palasari. Itu pasar buku yang ada di Bandung. Naik angkot Buahbatu-Sederhana kalau dari rumah saya. Turun di Jalan Gajah. Jalan sedikit ketemulah dengan banyak penjual buku. Nanti pilih salah satu dari mereka. Lalu tanya sama pedagangnya, ada buku yang bilang nasionalisme ibarat menggigit kemaluan sendiri tidak. Kalau ada beli. Kalau tidak ada, naik lagi angkot Buahbatu-Sederhana ke rumah saya, insyallah nanti saya bajakkan bukunya.
Tapi sumpah, saya sudah sejak SMA dulu paling malas untuk upacara bendera. Makanya setiap pergantian KM (baca; Ketua Murid), setiap itu pula saya melakukan lobby-lobby tingkat tinggi pada pejabat KM baru. Bukan untuk menjilat (ket: sebab saya tahu kalau menjilat mereka rasanya asam. ABG begitu loh!) tapi itu saya sengaja agar saya ditempatkan piket kelas di hari Senin. Hari dimana upacara bendera selalu diselenggarakan, hari dimana yang datang telat dipajang di lapangan upacara, hari dimana anak-anak berlomba berbaris untuk menjadi yang paling belakang, hari dimana pembacaan Pancasila oleh Kepala Sekolah selalu dijadikan gurauan, hari dimana saya selalu datang lebih pagi dari biasanya.
Begitu setiap tahunnya. Selama di kalender masih ada hari Senin, saya konspirasikan agar sayalah mendapatkan kursi empuk petugas piket kelas hari itu. Pokoknya selama Teori Konspirasi masih bisa dijalankan, saya usahakan tidak berupacara. Hingga kemarin akhirnya saya ditanya oleh seorang ibu-ibu di tempat kerja.
“Kok kamu tidak upacara sih?”
“Sudah hobi, Bu” jawab saya sambil cengengesan.
“Hobi kok aneh gitu?”
“Hobi orang kan beda-beda Bu. Namanya juga manusia. Tidak ada yang sama di seluruh dunia ini. Maka wajar saja kan kalau hobinya berbeda-beda”
“Begundal, kamu tidak cinta Indonesia ya?”
“Ya cinta dong, Bu. Jelek-jelek bobrok juga Indonesia tempat saya lahir”
“Cinta apanya? Disuruh upacara saja tidak pernah. Padahal ini kan upacara buat mengenang pahlawan-pahlawan kita”. Kebetulan kemarin tanggal 10 November. Itu hari Pahlawan Indonesia.
‘Yeee… si Ibu mah”
“Yee gimana? Itu tanda kamu tuh gak menghormati pahlawan kita yang berjuang dulu”
“Buat saya mencintai tanah air dan menghormati pahlawan itu tidak perlu hari khusus, Bu”
“Kok begitu?”
“Soalnya cinta dan pahlawan saya luas serta banyak”
“Luas dan banyak gimana?”
“Iya saya tuh cinta Indonesia. Tapi cinta juga Malaysia, cinta Brunei, cinta Thailand, cinta Sudan, cinta Palestina, cinta Sudan, cinta Afghanistan, cinta Chechnya, Cinta Filipina, cinta Spanyol, cinta Arab Saudi” begitu kata saya, “Pahlawan saya tersebar di negeri-negeri tadi. Makanya saya mah cinta semua”
“Banyak amat”
“Harus banyak dong, Bu”
“Lha kok malah harus?”
“Buat saya, yang namanya pahlawan itu ya para mujahidin. Tidak adil dong kalau saya cinta Indonesia dan pahlawan Indonesia saja. Kan mujahidinnya tersebar dimana-mana. Jadi mau tidak mau cinta saya harus luas. Tersebar. Menembus sekat-sekat territorial”
“Agrh… kamu ini ada-ada aja. Cari-cari alasan”
“Ibu ini bagaimana. Justru harusnya Ibu bangga pada saya. Sebab cinta saya begitu luas. Saya berani diadu besar mana cinta mereka yang tadi upacara dengan saya. Mau sebanyak apapun orang upacara, cintanya tidak bisa mengalahkan luasnya cinta saya”
“Luas dari Hongkong!”
“Tidak usah jauh-jauh ke Hongkong, Bu. Disini saja kalau mau mendengarkan saya. Toh, meskipun saya cinta Hongkong, saya belum tentu bisa pergi ke Hongkong. Tidak ada uangnya, Bu”
“Hehehe…” si Ibu tertawa.
“Bu, mari kita berandai-andai. Kalaulah cinta Ibu dan saya dibandingkan, cinta Ibu itu hanyalah rahmatan lil Indonesia. Nah, sedangkan saya rahmatan lil alamin”
“Hehehe…”
“Di negeri apapun kita hidup, mau di Timbuktu atau di Etophia, yang terpenting adalah kita menjadikan diri kita sebagai makhluk yang paling bertaqwa sekaligus cantik (seperti saya, itu dalam hati saya). Makhluk yang berguna bagi dunia karena perbuatan baiknya. Yang semata-mata didasari atas nama Allah dan agamanya”
“Hehehe… iya Pak Ustadz” Si Ibu ketawa sambil menyindir (barangkali)
“Ibu sepakat tidak?”
“Ya sepakat aja sih tapi masa pahlawan di negara orang dihormati juga”
“Namanya juga Mujahidin, Bu. Mau di negeri mana pun ya harus dihormat. Mereka itu generasi terbaik setelah generasinya Rasulullah.”
“Ntar gimana kalau tentara negara kita perang dengan tentara negara lain atau mujahidin versi kamu? Mau kamu anggap mereka pahlawan juga?”
“Bu, yang namanya Mujahidin itu pantang perang dengan sesama muslim. Kan sesama Muslim itu saudara. Innamal mukminuna ikhwah. Lagian tentara atau pahlawan yang benar itu pasti perangnya karena didasari nama Allah semata. Selain itu hendaknya dipertanyakan lagi status ketentaraan dan kepahlawanan mereka. Kecuali kalau konteksnya seperti yang saya bilang tadi, tentara/pahlawan yang rahmatan lil Indonesia atau yang rahmatan lil alamin”
“Serem ah ngobrol ma kamu. Kayak teroris aja”
“Kok teroris sih, Bu? Memangnya kalau saya teroris bagaimana, Bu? Apa wajah imut-imut begini seperti teroris ya?”
“Hehehe…”
“Jadi tidak salah kan kalau saya punya pendapat begitu?”
“Nggak salah sih. Cuman serem aja”
“Biarin ah seram juga. Yang penting saya masih tetap imut. Benar kan, Bu?”
“Terserah kamu deh. Hehehe…”
Diposting oleh Begundal Militia di 06.28 0 komentar

