
Itu saya pusing-pusing mencari buku ini di toko buku. Ternyata itu buku tidak saya temukan. Akhirnya ketemu di internet. Terima kasih internet.
Sebagai balas jasanya, saya beritahukan juga pada semuanya yang membutuhkan buku ini. Biar tidak seperti itu saya waktu mencari-cari ke toko buku. Ini link Downloadnya Membongkar Gurita Cikeas dan Membongkar Gurita Cikeas (Full Version)
Membongkar Gurita Cikeas (Download)
Diposting oleh Begundal Militia di 05.17 0 komentar
Pemenang QUIZ RUAR BINASA#1
“Kalau Kamu Fesbukan Dengan Obama, Apa yang Akan Kamu Tulis di Wall Dia?”
(Mohon maaf pengumumannya telat, maklum lah namanya juga Engdonesia)
Seandainya ketiga juri (Begundal Militia, Divan Semesta, dan Anggawedhaswara) ada tinggal dalam satu rumah mungkin enak. Semua akan beres dengan cepat. Tanpa harus berlarut-larut hingga seperti sekarang ini.
Tapi nyatanya semua mimpi indah itu tidaklah menjadi realitas di lapangan. Ketiga juri yang cantik jelita itu berada di negaranya masing-masing. Terpisah berkilo-kilo jauhnya. Sehingga akhirnya terpaksa komunikasi pun digalang melalui e-mail dan sms. Walhasil komen yang masuk pun mencapai angka 500 (dikurangi 430an). Sisanya itu yang benar2 mengetik komen. Sedangkan yang 430an, kami yakin sebenarnya mereka tergerak untuk memberi komentar, entah ada konspirasi apa yang jelas mereka tidak jadi membubuhkan kata hatinya. Dan untungnya kami khusnuzan saja.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, beberapa yang dipilih oleh Divan Semetsa ada sama dengan yang dipilih oleh Anggawedhaswara, juga ada sama dengan yang Begundal Militia pilih. Namun yang benar-benar dipilih oleh ketiga juri sebenarnya hanya 2 saja. Tidaklah usah mencari tahu siapa. Biar ini menjadi rahasia kami bertiga. Sedangkan yang terpilih oleh kebetulan dua jri adalah sebanyak 5 orang saja. Sehingga sebenarnya total yang terpilih juri itu adalah hanya 7 orang. Namun berhubung kami baik dan semua yang mengisi komen baik dan bercita-cita untuk menulis komen di wall-nya Obama, maka kami tambahkan 3 orang pemenang hiburan untuk menggenapkan menjadi 10 pemenang.
Sumpah padahal kami ingin semua menang. Tapi kami lantas berpikiran, klo semua menang, dana untuk hadiah tentunya diserahkan pada semuanya. Lantas bagaimana dengan dana untuk “memberi pelajaran” pada Obama??? So, berdasarkan dari sanalah maka dengan berat hati, mau tidak mau inilah mereka yang kami pilih:
1. Aditya Nugraha
("Goblog siah. gelut jeung aing!!!")
2. Herman PuraPura Sibuk
("Obama ??.. kayaknya saya salah add friend deh.. ")
3. Fajar Ar-Rocketrase
(obamaaaaaaaaaa!!!!! menta chip mafia war euy!!!!!)
4. Koko Corleone
(ntar sambil baca doa obama: "OBAMA atinna fidunyah khasanah wafil'a
hiroti khasanah wakina adhabanar,.." heheheee,..)
5. Muhammad Abduh Hirawan
("ada hubungan apa kamu sama Pytm ?')
6. Telaga Kautsarwoeey
(Pak Dhe Bam, ngartos boso jowo ora??? kula arep nembok marang FB kowe anggo boso'ne wong kapitalis, kula sing ora ngartos... djiakakak.....kula boten nggadha tembok, ananing Gedhek.... saka pring.... sumrriwiinggg...... ^^...)
7. Faathir Archza
(Om barry kok gk mirip org negro lbh mirip org jawa dnegara kami byk yg mìrip kayak om loh)
8. Ridwan Nuryaman
(Obama go tu hel we lah ..... lieur ningali polah silaing make jeung acara pidato di mesir sagala bari jeung punduk nyanghareup tapi ati mungkir .... sarua lah maneh mah teu beda sareng nu atos2 sarua balad yahudi2 keneh, montong api2 'bageur' ka Islam jeung Ummatna lamun aya kawani sok ulah siga jalma hipokrit waluh !! Sow me yor ril pes .... or day laik eun esol siah kehed ..... dasar presiden peot hulu euweuh kawani .... uing moal katipu ku raray ilaing, cing demi moal !!!)
9. Begundal Blacklist
(salam buat michelle, terima kasih atas segalanya " =))
10. Randa Atmaja Gusti
(om obama... dulu waktu di menteng sukanya jajan apa ??? kerak telor, cireng, ato bir kocok ??? hehehehehehe)
Sumpah nomor urutan tidak menentukan kualitas. Terimakasih, sudah ikutan Quiz Ruar Binasa. Tidak ada satu pun yang lebih menarikdhidup di dunia ini ketimbang hidup senang dan rame. Ekoy?!
Jakarta, 28 Desember 2009
Tim Juri
PS:
Kepada pemenang kirimkan alamatnya ke imel atau private message-nya Pengkhianatyangtelahmusnah. Setelah itu jangan lupa untuk mengirimkan foto diri yang telah berhasil menggunakan, memakai, memakan hadiah dari kami (Gaya terserah keinginan masing). Agar kami tidak dituduh sebagi pembohong yang menyebarkan sayembara palsu.
Kepada yang belum menang tunggulah quiz berikutnya. Makanya pantengin terus Quiz ini!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 19.57 0 komentar
Menyesatkan Lagu Anak Yang Sesat

Apa tanda-tandanya anak sudah bisa diajarkan menyanyi? Disini, di kontrakan Gandaria, Jagakarsa, tandanya adalah ketika itu anak mengoceh dan bersenandung sendiri. Itu versi kontrakan sini. Entah versi kontrakan Pak Haji Umar atau kontrakannya Bang Arif yang Ketua RT. Yang jelas anak sini (baca; Revo) mulai bisa bernyanyi ketika dia sudah mulai bersenandung sambil memanjat teralis jendela. Saya tidak tahu kenapa sejak itu dia mulai bisa diajarkan menyanyi. Apakah karena ia merasa dirinya Sir Edmund Hillary yang sedang berusaha memanjat Everest (yang butuh nyanyian agar bersemangat) ataukah dia merasa dirinya bagian dari Easy Company yang sedang latihan menaiki bukit? Agrh kenapa saya sampai sejauh itu memikirkannya. Toh saya yakin Revo belum pernah lihat Edmund Hillary atau Band of Brothers.
Lihatlah dia, itu Revo, memanjat naik terus ke atas. Bersemangat dengan nyanyian karangannya. Ke itu ujung horden. Sengaja saya tidak suruh dia turun. Biarkan saja pikir saya. Toh kalau jatuh ke bawah. Tidak bakal ke atas. Lagian kasihan nampaknya dia sedang begitu konsentrasi dengan lagu gubahan dan usaha mendakinya.
Satu lagu beres (nampaknya). Tak berselang 5 detik dia membuat nada-nada pentatonik yang tidak beraturan lagi. Beradu dengan suara hujan yang memang sedang lebatnya. Sekonyong-konyong, sebuah guntur yang tidak memakai M Romli belakangnya ikut memeriahkan suasana. Revo kelihatan kaget dibuatnya. Hampir saja dia free fall. Namun dengan sigap tangannya dia pegangkan lagi ke teralis besi. Mukanya memucat melihat kiri kanan seperti orang mau menyebrang. Saya lihat kiri kanan juga. Tidak ada mobil, tidak ada truk gandengan. Bebas untuk menyebrang. Saya bilang ke Revo supaya terus menyebrang tapi dia malah tetap celingak celinguk. Lantas memanggil itu nama alias saya sambil menangis keras. Ah, ada apakah gerangan? Kenapa dia tidak memanggil nama asli saya saja? Kan kita sudah saling kenal. Apa karena tidak sopan? Sebab budaya Timur melarang seperti begitu.
Oh, ternyata dia hanya ingin turun dari teralis besi itu. Sebab ternyata dia tidak tahu cara turunnya. Aha! Ini saat yang tepat buat saya untuk ikut menyanyi meramaikan suasana. Tentu saja dengan nada-nada yang tidak beraturan juga.
“Ayo teu tiasa turunnnn…. Ayo teu tiasa turunnn… Ayo teu tiasa turunnn… (Ayo tidak bisa turun)” itu saya berkoceh sambil menepukkan tangan dengan tepuk yang jelas bukan tepuk Pramuka.
Tahu dibegitukan oleh saya, tangis Revo sekarang disertai jerit metalnya. Jerit yang bisa terdengar sampai ke mimbar masjid yang terhalang kebun sepanjang lima puluh meter itu. Suara dia memang keras begitu. Kalau sudah menjerit seperti itu tak kalah lah dengan Sammy Hagar-nya Van Hallen. Sumpah demi metal!
Demi mengakhiri konser metal dadakan yang makin memanas lengkingnya, saya akhirnya mendekati Revo. Saya pegang badannya dari belakang sambil berkata kalau mau jadi vokalis metal tidak usah naik-naik teralis segala. Naik teralis mah cocoknya jadi wallclimber. Mengerti tidak begitu saya bilang dan tanya padanya. Alhamdulillah dia tidak mengerti. Ya sudah akhirnya saya turunkan dia dari teralis yang menjadi neraka baginya.
“Sok ayeuna mah amengna dihandap we! (Ayo sekarang mainnya dibawah saja) ” kata saya.
Revo sesegukan. Tangisnya masih belum habis. Namun berangsur mereda seketika si Um-Um Surum Um yang pengusaha pabrik susu datang.
“Eneng, nyanyi Naek Kereta Api kumaha?” si Um-Um Surum Um membuka keramaian.
“Api…tutttt…. tutttt…. tuttttt” Revo menyanyi-nyanyi sambil kepalanya goyang kiri kanan mirip orang lagi dugem. Oh mungkin begini ya kalau bayi dugem. Pikir saya.
“Naik kereta api tut.. tut.. tut.. siapa hendak turut.. ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama..” itu Um-Um Surum Um melanjutkan nada-nada Doel Sumbang nya.
“Eh Um-Um Surum Um, lagunya ganti ah!’ larang saya, “Jangan lagu itu!”
“Kok diganti?” Um-Um Surum Um bertanya-tanya.
“Itu mah lagu yang mengajarkan yang tidak benar”
“Tidak benar apanya?”
“Masa mengajarkan anak biar nanti naik kereta gratisan. Pantesan saja PT KAI suka berkeluh kesah rugi terus”
“Kok gratisan??? Oh iya. Hehehe…” Um-Um Surum Um tersadar tapi kemudian malah nyengir kuda.
“Yeee… malah nyengir deui” timpal saya, “Mau tidak nanti si Revo kalau besar naik keretanya ke atas gerbong terus?”
“Ya nggak lah” jawab dia, “Trus nyanyi apa atuh?”
“Seterah. Yang penting yang ararekoy (baca oke)”
“Neng, nyanyi balonku yu Neng!” Um-Um Surum Um mengajak Revo mengganti lagu. Dengan serta merta Revo lalu teriak “Dollllllllllllllllllll…” Mungkin maksudnya balonnya meletus.
“Eh, tapi lagu Balonku juga jangan” larang saya lagi.
“Kok jangan lagi?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak tidak pandai berhitung. Masa balonnya cuma 5? Kan seharusnya balonnya ada 6. Sok geura itung! (Coba saja hitung)… Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!”
“Dolllllllllllll……………” Revo ikut-ikutan ngedorrr.
“Coba hitung berapa warnanya tuh? Ada 6 kan?!"
“Eh iya ya. Kok baru tahu ya? Hehehe……” kata Um-Um Surum Umum, “Trus lagu apa lagi yang tidak boleh?”
“Sebentar mikir dulu nih” sengaja saya mengulur-ngulur waktu agar banyak lagu yang tidak boleh dinyanyikan. Bukan apa-apa, soalnya suara si Um-Um Surum Um fals. Hehehe… Tapi sebenarnya bukan itu kok alasannya. Saya sengaja saja mencari-cari alasan biar si Revo lebih pintar mengaji daripada menyanyi. Sepertinya alasannya tidak menyambung ya. Tapi biarlah.
Lalu saya katakan pada Um-Um Surum Um kalau lagu Bangun Tidur (Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..) pun tidak boleh. Sebab lagu ini mendidik anak tidak disiplin, selalu buru-buru, dan mengajarkan nudism. Masa setelah mandi lalu membereskan tempat tidur. Kan badannya masih basah. Bahkan telanjang pula. Harusnya yang benar kan pakai baju dulu.
“Lagu Burung Kutilang, Ibu Kita Kartini, dan Bintang Kecil juga tidak boleh!”
“Hah? Kok bisa?”
“Ya bisa dong. Kenapa juga tidak bisa?” jawab saya.
Lagu-lagu tadi mengajarkan anak untuk pintar berbohong dan memanipulasi realita. Begitu kata saya. Suatu hari nanti kalau mereka (baca: anak-anak) terus diajarkan lagu-lagu seperti ini dikhawatirkan ketika dewasa nanti dia menjadi koruptor. Coba saja resapi lagu Burung Kutilang (Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu.. mengangguk-ngangguk sambil bernyanyi tri li..li..li..li..li..li..). Sejak kapan suara Kutilang jadi tri li li li li. Bukannya yang benar adalah cuit…cuit…cit. Yang tri li li li li itu mungkin suara Agnes Monica yang sedang menyanyi di Tra la la tri li li (acaranya dia dulu).
Mendengar itu, Um-Um Surum Um cengengesan lagi. Sialan pikir saya. Kenapa dia cengengesan. Padahal saya sedang membahas dengan ilmiah begini. Demi membuktikan keilmiahan saya, saya buktikan lagi dengan lagu-lagu lainnya. Lagu Ibu Kita Kartini (Ibu kita Kartini…putri sejati.. putri Indonesia.. harum namanya…) adalah lagu pembodohan begitu saya bilang padanya kemudian. Masa sudah tahu namanya Harum eh masih dibilang Kartini. Bukannya itu pembohongan yang begitu jelas. Begitu juga dengan lagu Bintang Kecil (Bintang kecil dilangit yg biru…). Saya suruh saja Um-Um Surum Um melihat keluar jendela. Lantas bertanya apakah warna langit diatas itu biru. Saya ulang sampai tiga kali pertanyaan itu. Dan saya yakin semua orang termasuk Um-Um Surum Um akan menyangkal akan penyataan di lagu itu. Sebab langit diluar sana berwarna gelap aka hitam. Bukan biru.
“Hehehe…. Iya ya?”
“Iya.. Iya terus ah dari tadi” kata saya. (Padahal maksud saya ayo dong pikirkan lagi lagu apa lagi yang dilarang. Sudah cukup semaput nih mencari alasan-alasan biar masuk akal)
“Naik Delman juga tidak boleh” ujar saya lagi.
“Kenapa?”
“ Itu lagu mengajarkan anak tidak sopan kepada orang lain” jawab saya, ” …Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.. naik delman istimewa ku duduk di muka.. Nah muka siapa tuh yang diduduki? Muka ayahnya atau kusir delman?”
“Hahaha……”
“Nina Bobo juga sama”
“Nina Bobo kenapa?”
“Nina Bobo mengajarkan anak hidup penuh ancaman. Hidup dalam naungan teror. Hidup untuk memusuhi ciptaan Allah”
“Hah?”
“Dengarkan nih! Nina bobo.. ooh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk” saya berdendang, “ Nyamuk dicap teroris setiap hari. Padahal Allah menciptakannya tentu ada gunanya. Bukan semata-mata menjadi teroris buat manusia setiap malamnya”
“Hehehe… Ah ada-ada aja”
“Ya harus diada-adain atuh!”
“Apalagi?”
“Lagu Cakul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
“Itu kenapa?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak agar menjadi orang yang lebay, bodoh, dan tidak efektif & tidak efisien. Lha wong mau menanam jagung kok mencangkulnya dalam-dalam. Memangnya mau bikin sumur. Kuburan juga paling satu meter tidak perlu dalam-dalam sekali?”
“Hehehe… “
“Hehehe…” Revo ikutan ketawa melihat Um-Um Surum Um cengengesan dari tadi.
“Eh, si Eneng siga nu ngartos wae (Ih si Eneng seperti yang mengerti saja)” kata saya,”Eneng ngartos? (Eneng mengerti?)”
“Manyun…manyun… muachhh” Revo malah me-manyun-kan (memajukan) bibirnya lalu mencium si Cobo boneka beruang nya yang segede alaihim gambreng itu.
“Nih ada lagi!” kata saya, “Lagu Aku seorang kapiten!”
“Memangnya kenapa lagu itu?”
“Lagu ini mendidik anak menjadi penjajah yang tidak konsisten. Sekaligus mengajarkan Revo menjadi tomboy”
“Alasannya?”
“Lagu itu kan lagunya anak laki-laki. Nah klo si Eneng diajarkan lagu itu. Nanti dia malah main pedang-pedangan. Bukan boneka atau masak-masakan. Tomboy lah sudah dirinya. Beruntung kalau cuma tomboy saja. Kalau jadi aktivis kesetaraan gender yang feminis bagaimana coba?”
“Hehehe… Terus…terus???”
“Lagu ini juga tidak konsisten. Kalau misal ingin cerita tentang sepatunya seharusnya menyanyi begini…Aku seorang kapiten… mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalau berjalan prok..prok.. prok.. Tapi kalau ingin cerita tentang pedangnya, harusnya menyanyinya seperti begini …mempunyai pedang panjang… kalo berjalan srek.. srek.. srek… Benar tidak???”
“Iya… hehehe…”
“Kalau yang menjadi penjajahnya gimana?” Um-Um Surum Um membuat dirinya bagai investigator polisi.
“Ah itu mah gampang. Kapiten kan khas istilah jaman Kompeni begitu. Benar tidak? Pertanyaanya sekarang, kenapa harus Kapiten? Kenapa tidak mujahid atau mujahidah? Coba dengarkan kalau lagunya digubah menjadi seperti ini …Aku seorang Mujahidah… mempunyai pedang panjang… kalau berjalan sret…sret…sret…. Aku Seorang Mujahidah! Lebih pas dan syar’i kan?”
“Hehehe... Bener-bener” Um-Um Surum Um mengiyakan saja. Soalnya kalau tidak mengiyakan percuma baginya. Biasanya kalau tidak mengiyakan selalu akan saya arahkan agar menjadi iya dengan apa kata saya. Jawab iya atau tidak iya menjadi sekedar formalitas baginya sebab jawabannya sudah ada; Iya. Begitulah saya yang telah menjadikan saya bagai penjajah baginya. Tapi tentunya saya bukan penjajah yang semena-mena seperti Tuan Daendels.
“Terus lagu apa atuh kalau begitu yang cocok buat Eneng?” tanya Um-Um Surum Um.
“Sudah dengarkan saja ini!” saya perlihatkan CD Murrotal yang kemudian saya santapkan ke mulut DVD player. Lalu saya seolah-olah menjadi Tuhan dengan menghidupkannya. Murotal pun mulai mengalun dengan indahnya.
“ Aohhhhhhh………” Revo mengangkat kedua tangannya lalu melipatkannya di perut. Hampir mirip dengan orang yang sedang takbiratul ikhram. Setelah itu lalu dia sujud dengan pantat yang ditunggingkan dengan lebaynya. Begitu berulang-ulang. Berulang-ulang. Dan berulang-ulang.
Diposting oleh Begundal Militia di 09.19 2 komentar
Duduklah disini
Duduklah disini bersamaku
Kan kuberikan secarik kertas berisi puisi
yang kau baca sekarang ini
Jakarta, 2009
Tengah malam sambil membungkus kado buat Um-Um Surum-um yang kembali ulang tahun ketika hari sudah menjadi 26 November 2009
Diposting oleh Begundal Militia di 08.47 0 komentar
Upacara Hari Pahlawan

Hari itu sudah menjadi Selasa. Saya tidak lagi upacara bendera. Sengaja saya begitu. Bukan karena tidak ada sebab. Sebab kalau disebab-sebabkan maka akan banyak sebab. Dan saya kira itu memang tidak perlu. Kalau masih dianggap perlu, baca saja buku-buku di Palasari. Itu pasar buku yang ada di Bandung. Naik angkot Buahbatu-Sederhana kalau dari rumah saya. Turun di Jalan Gajah. Jalan sedikit ketemulah dengan banyak penjual buku. Nanti pilih salah satu dari mereka. Lalu tanya sama pedagangnya, ada buku yang bilang nasionalisme ibarat menggigit kemaluan sendiri tidak. Kalau ada beli. Kalau tidak ada, naik lagi angkot Buahbatu-Sederhana ke rumah saya, insyallah nanti saya bajakkan bukunya.
Tapi sumpah, saya sudah sejak SMA dulu paling malas untuk upacara bendera. Makanya setiap pergantian KM (baca; Ketua Murid), setiap itu pula saya melakukan lobby-lobby tingkat tinggi pada pejabat KM baru. Bukan untuk menjilat (ket: sebab saya tahu kalau menjilat mereka rasanya asam. ABG begitu loh!) tapi itu saya sengaja agar saya ditempatkan piket kelas di hari Senin. Hari dimana upacara bendera selalu diselenggarakan, hari dimana yang datang telat dipajang di lapangan upacara, hari dimana anak-anak berlomba berbaris untuk menjadi yang paling belakang, hari dimana pembacaan Pancasila oleh Kepala Sekolah selalu dijadikan gurauan, hari dimana saya selalu datang lebih pagi dari biasanya.
Begitu setiap tahunnya. Selama di kalender masih ada hari Senin, saya konspirasikan agar sayalah mendapatkan kursi empuk petugas piket kelas hari itu. Pokoknya selama Teori Konspirasi masih bisa dijalankan, saya usahakan tidak berupacara. Hingga kemarin akhirnya saya ditanya oleh seorang ibu-ibu di tempat kerja.
“Kok kamu tidak upacara sih?”
“Sudah hobi, Bu” jawab saya sambil cengengesan.
“Hobi kok aneh gitu?”
“Hobi orang kan beda-beda Bu. Namanya juga manusia. Tidak ada yang sama di seluruh dunia ini. Maka wajar saja kan kalau hobinya berbeda-beda”
“Begundal, kamu tidak cinta Indonesia ya?”
“Ya cinta dong, Bu. Jelek-jelek bobrok juga Indonesia tempat saya lahir”
“Cinta apanya? Disuruh upacara saja tidak pernah. Padahal ini kan upacara buat mengenang pahlawan-pahlawan kita”. Kebetulan kemarin tanggal 10 November. Itu hari Pahlawan Indonesia.
‘Yeee… si Ibu mah”
“Yee gimana? Itu tanda kamu tuh gak menghormati pahlawan kita yang berjuang dulu”
“Buat saya mencintai tanah air dan menghormati pahlawan itu tidak perlu hari khusus, Bu”
“Kok begitu?”
“Soalnya cinta dan pahlawan saya luas serta banyak”
“Luas dan banyak gimana?”
“Iya saya tuh cinta Indonesia. Tapi cinta juga Malaysia, cinta Brunei, cinta Thailand, cinta Sudan, cinta Palestina, cinta Sudan, cinta Afghanistan, cinta Chechnya, Cinta Filipina, cinta Spanyol, cinta Arab Saudi” begitu kata saya, “Pahlawan saya tersebar di negeri-negeri tadi. Makanya saya mah cinta semua”
“Banyak amat”
“Harus banyak dong, Bu”
“Lha kok malah harus?”
“Buat saya, yang namanya pahlawan itu ya para mujahidin. Tidak adil dong kalau saya cinta Indonesia dan pahlawan Indonesia saja. Kan mujahidinnya tersebar dimana-mana. Jadi mau tidak mau cinta saya harus luas. Tersebar. Menembus sekat-sekat territorial”
“Agrh… kamu ini ada-ada aja. Cari-cari alasan”
“Ibu ini bagaimana. Justru harusnya Ibu bangga pada saya. Sebab cinta saya begitu luas. Saya berani diadu besar mana cinta mereka yang tadi upacara dengan saya. Mau sebanyak apapun orang upacara, cintanya tidak bisa mengalahkan luasnya cinta saya”
“Luas dari Hongkong!”
“Tidak usah jauh-jauh ke Hongkong, Bu. Disini saja kalau mau mendengarkan saya. Toh, meskipun saya cinta Hongkong, saya belum tentu bisa pergi ke Hongkong. Tidak ada uangnya, Bu”
“Hehehe…” si Ibu tertawa.
“Bu, mari kita berandai-andai. Kalaulah cinta Ibu dan saya dibandingkan, cinta Ibu itu hanyalah rahmatan lil Indonesia. Nah, sedangkan saya rahmatan lil alamin”
“Hehehe…”
“Di negeri apapun kita hidup, mau di Timbuktu atau di Etophia, yang terpenting adalah kita menjadikan diri kita sebagai makhluk yang paling bertaqwa sekaligus cantik (seperti saya, itu dalam hati saya). Makhluk yang berguna bagi dunia karena perbuatan baiknya. Yang semata-mata didasari atas nama Allah dan agamanya”
“Hehehe… iya Pak Ustadz” Si Ibu ketawa sambil menyindir (barangkali)
“Ibu sepakat tidak?”
“Ya sepakat aja sih tapi masa pahlawan di negara orang dihormati juga”
“Namanya juga Mujahidin, Bu. Mau di negeri mana pun ya harus dihormat. Mereka itu generasi terbaik setelah generasinya Rasulullah.”
“Ntar gimana kalau tentara negara kita perang dengan tentara negara lain atau mujahidin versi kamu? Mau kamu anggap mereka pahlawan juga?”
“Bu, yang namanya Mujahidin itu pantang perang dengan sesama muslim. Kan sesama Muslim itu saudara. Innamal mukminuna ikhwah. Lagian tentara atau pahlawan yang benar itu pasti perangnya karena didasari nama Allah semata. Selain itu hendaknya dipertanyakan lagi status ketentaraan dan kepahlawanan mereka. Kecuali kalau konteksnya seperti yang saya bilang tadi, tentara/pahlawan yang rahmatan lil Indonesia atau yang rahmatan lil alamin”
“Serem ah ngobrol ma kamu. Kayak teroris aja”
“Kok teroris sih, Bu? Memangnya kalau saya teroris bagaimana, Bu? Apa wajah imut-imut begini seperti teroris ya?”
“Hehehe…”
“Jadi tidak salah kan kalau saya punya pendapat begitu?”
“Nggak salah sih. Cuman serem aja”
“Biarin ah seram juga. Yang penting saya masih tetap imut. Benar kan, Bu?”
“Terserah kamu deh. Hehehe…”
Diposting oleh Begundal Militia di 06.28 0 komentar
QUIZ RUAR BINASA
Quiz “Kalau Kamu Fesbukan Dengan Obama, Apa yang Akan Kamu Tulis di Wall Dia?”
Sumpah ini quiz beneran. Bukan bohongan. Kalau bohongan, untuk apa saya membohongi ratusan orang yang ada di link saya ini. Bisa-bisa kalau ketahuan berbohong, saya sudah jadi matahari-mataharian di Pos Satpam. Sengaja saya tidak pakai kata “bulan”, sebab matahari lebih besar daripada bulan.
Seandainya saya Bakri, tentu saya akan hadiahi pemenang quiz ini dengan satu buah rumah di Bogor Nirwana Residence (ket: yang tidak tahu tanya Fajarullah). Sayang saya belum sempat seperti dia. Maka untuk ini saya berikan saja T-Shirt bagi pemenang 1, 2, dan 3. Sedangkan pemenang selanjutnya hingga yang ke-10 saya berikan kenang-kenangan dari sponsor saja. Suka tidak suka diterima saja ya. Namanya juga rezeki. Ya kalau tidak menganggap itu rezeki, maka maklumi saja. Namanya juga sponsor.
Aturan main quiz ini sederhana saja. Kawan-kawan seantero dunia yang membaca quiz bombastis ini tinggal membubuhkan itu pendapatnya bila suatu saat ternyata Obama meng-add-mu menjadi temannya. Kawan-kawan mengandaikan akan menulis sesuatu di wall si Obama. Tapi ditulisnya tidak perlu lah di FB Obama yang beneran. Cukup disini atau akan lebih baik kalau mengisi langsung di Grup Quiz Ruar Binasa. Masih dalam jejaring FB. Silakan di klik lnk ini (http://www.facebook.com/pages/Jakarta/Quiz-Ruar-Binasa/173398324294). Atau bisa juga mengisi langsung di blog; www.begundalmilitia88.blogspot.com
Kenapa di kedua link itu? Biar saya tidak capek harus copas ke tim juri (Kepada Fajarullah & M. Angawedhaswara ini penodongan yang tidak bisa ditolak yang menyebabkan kalian tidak terlibat didalamnya). Andai saja tim juri berada dalam satu alamat. Tentunya akan lebih enak. Bisa saling diskusi, protes hingga ngopi bareng. Atau mungkin menggerutu karena beda pendapat ketika memilih pemenang. Sayangnya ternyata tidak.
Dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Segalanya, insyallah, quiz ini tidak ada tujuan apapun. Ini hanya quiz untuk menyambut Tahun Baru Islam 1431 H (yang menurut kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009). Tapi kalau diinterpretasikan berbeda ya terserah lah. Itu urusannya langsung ke Allah. Oleh karenanya, quiz ini pun dibatasi masanya. Ia berakhir tepat tanggal 16 Desember 2009 yang bertepatan dengan hari dimana Sidang Umum PBB membatalkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa Zionisme adalah rasisme, hari dimana Soe Hok Gie wafat, hari dimana Kazakhstan merdeka, hari dimana saya patah hati. Agrhh… saya rasa tidak penting. Tapi tetap quiz berakhir 16 Desember 2009 tanpa ada sebab musabab.
NB: Pengumuman juaranya tanggal 18 Desember 2009. Tepat Tahun Baru Islam. Biar di tahun baru, baju pun baru.

PERINGATAN:
DILARANG MENYUAP JURI DIBAWAH 1 MILYAR!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 15.17 0 komentar
Ini Bukan Eny Arrow
Menjelang pulang, AA memberi Ra uang 300 dollar AS. AA lalu memeluk Ra dan mengajak bersetubuh. Namun, ajakan ditolak dengan mengatakan, “Lain kali aja Pak,” Tak berhenti sampai di situ, Aa lantas mencium pipi kiri dan pipi kanan.
Pertemuan itu lalu diceritakan Ra kepada Nas. Merasa mempunyai kepentingan, Nas lantas meminta Ra kembali menemui AA. Ia berharap Ra dapat menjadi penghubung dengan AA. Hal ini terkait dengan usaha Nas untuk menjadi direktur BUMN. “Setelah dihubungi, AA bersedia bertemu di tempat yang sama. Selanjutnya, dengan menggunakan taksi, Ra dan Nas menuju Hotel GM. Saat akan menuju kamar, Ra diminta Nas agar mengaktifkan HP supaya bisa mendengar pembicaraan.
Pada saat Ra masuk, AA sudah berada di dalam kamar dan mempersilakan Ra duduk di sofa. Ra kembali meminta AA menjadi member MG, dan juga menanyakan kemungkinan “kerabat”-nya (Nas) menjadi Direktur BUMN. Di sela pembicaraan, AA meminta Ra memijat punggungnya. Pada saat sedang dipijat, AA membalikkan tubuh lalu mencium pipi, bibir, membuka kancing baju dan menurunkan bra sebelah kiri sambil berkata ‘katanya pertemuan selanjutnya kamu mau kan’.
Ajakan tersebut kembali ditolak Ra. Karena takut terdengar korban, Ra kemudian mematikan telepon seluler. Meskipun ditolak, AA masih terus menjamah tubuh Ra dan meminta Ra memegang alat kelamin AA hingga mengeluarkan sperma. Sebelum pulang, AA memberikan uang sebesar 500 dollar AS.
Ketika akan keluar kamar, tiba-tiba Nas masuk dan marah sambil berkata kepada AA, “Mengapa Bapak bertemu dengan istri saya di sini dan apa yang Bapak lakukan terhadap istri saya? Kemudian Nas menampar pipi Ra. Mendengar kemarahan Nas, AA
memohon, “JANGAN PAK, SAYA MASIH INGIN MEMPERBAIKI NEGARA”
Ini bukan kutikan stensilan Eny Arrow. Bukan pula dukungan buat orang yang terlibat di dalam tulisan. Ini hanya saya ingin saja. Ingin pajang-pajang disini. Ingin biar rileks. Ingin tidak dianggap pornografi. Tapi intinya sih ingin menyebarkan bahwa memperbaiki negara tidak perlu capai-capai masuk parlemen. Cukup hanya dengan pintar menurunkan bra, maka anda sudah menjadi pahlawan di negeri ini. Asoyyyyy………………
Diposting oleh Begundal Militia di 06.55 0 komentar


