
Oi! Bertemu lagi dengan Fanicia Quiz Ruar Binasa.
Kawan-kawan fasti sudah tahu kan kalau Quiz Ruar Binasa jilid 1 sudah sejak dahulu kala ditutuf. Baju-baju hadiahnya sudah fasti sudah difakai fara femenangnya. Atau malah sudah belel. Atau malah sudah bolong-bolong. Ya semoga jangan bolong belakangnya saja. Nanti dikira Sundel Bolong.
Berhubung dengan borojolnya buku Begundal Militia, dengan ini kami mengadakan Quiz kembali bagi siafa-siafa yang mau saja. Yang tidak mau tidak kami faksa. Quiznya mirif dengan quiz Ruar Binasa yang jilid 1. Kawan-kawan seantero dunia yang membaca quiz bombastis ini tinggal membubuhkan itu fendapatnya bila suatu saat ternyata bertemu dengan Bencong yang fakai kaos bergambar Osama Bin Laden. Fendafatnya langsung diisi di Grup Quiz Ruar Binasa. Masih dalam jejaring FB. Silakan di klik link ini (http://www.facebook.com/pages/Jakarta/Quiz-Ruar-Binasa/173398324294). Hanya di link ini saja. Soalnya misah-misah link bikin Fanicia cafek bacanya. Harus muter2 buka-bukaan.
Untuk hadiahnya, kami berikan 3 buku Begundal Militia untuk yang memberikan komen faling asoy menurut kami. Sedangkan untuk 10 koment yang faling asoy akan mendafatkan ajakan berwisata ngalun bersama Be4Man crew. Selaku sfonsor utama. Waktu dan temfat menyusul. Suka tidak suka diterima saja ya. Namanya juga rezeki. Ya kalau tidak menganggap itu rezeki, maka maklumi saja. Namanya juga sfonsor.
Dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Segalanya, insyallah, quiz ini dibuka sejak kamu baca tulisan ini hingga tanggal 14 Februari 2011. Sengaja kami filih tanggal tersebut. Jangan disangkutfautkan dengan hari Fucklentine.Tapi kalau diinterpretasikan berbeda ya terserah lah. Otak-otak kamu. Kalau ada afa2, urusannya langsung ke Allah saja. Kami tetaf keukeuh bahwa fambatasan quiz tanfa disangkutfautkan dengan hari yang sebagian orang anggaf keramat itu. Intinya suka-suka kami tanfa sebab musabab. Tuh tangan-tangan kami. Ya terserah kami mo ketik afa.
Femenang atas quiz ini sefenuhnya merupakan pilihan mutlak tim juri. yang tidak bisa diganggu gugat. Hanya komen yang asoy geboy indehoy binti eflok cendol lah yang akan dijadikan 10 femenang (3 orang dafat buku). Selain dari itu, kami haturkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesediaan mencurhatkan isi hatinya di ruang yang sudah kami sediakan. Nantikan quiz selanjutnya.
NB:
Fengumuman juaranya 1 minggu setelah kelahiran anak kedua PYTM. Sekalian aqiqah. Yang mau makan sate, datang saja nanti ke rumah. Insyallah
Quiz Ruar Binasa#2
Diposting oleh Begundal Militia di 10.54 3 komentar
Anjing! Goblog!

Abdi asli ti sunda mangga di baca tiheula
Kecap ANJING jeung GOBLOG .
Lamun aya nu nyarios yang ”Maneh jiga ucing” jigana moal ngambek atawa kasinggung, tapi lamun aya nu nyarios ”Maneh jiga ANJING ” pasti urang-urang bakal ngamuk. Naha basa disebut ucing teu ngambek tapi basa disebut ANJING ngarasa kasinggung? Salah naon si-ANJING tepi ngaran-na sering jadi hiji umpatan jang nyarekan atawa jeung ungkapan rasa ambek jelema. Naha pedah ANJING dianggap mahluk nu najis.
Lain didieu lain di kulon. Di negara dengen nu di kulon (Barat) atawa di negeri nu ngarasa kakulon-kulonan (kabarat-baratan) kecap ANJING sanes kecap nu dipake kanggo nyarekan. Dog (ANJING ) malah jadi ungkapan nu sering dipake kanggo ngamaknai nu positip. Misalna kecap "dog-fight" dipake jang istilah duel pasawat tempur, bahkan aya istilah nu paling terkenal nyaeta "dog-style" nu artina ngadamel orok.
Balik ka topik nu awal. Tapi syukur, kecap ANJING akhirna ngalami parobahan makna khususna dikalangan barudak ngora, utamina di kota angeung sepertos dikalangan anak muda Kota Bandung.
Jang anak muda Kota Bandung nu funky jeung gaul kecap ANJING jeung kecap GOBLOG ngan sakedar hiji tanda baca atawa panegas kalimat. Di ESD (Ejaaan Sunda yang belum Disempurnakan) kecap ANJING hanya berarti hiji tanda KOMA (pamisah kalimat), sedangkan kata GOBLOG hartina TITIK. (Nutup hiji kalimat). Jadi ulah ngambek atawa ngarasa kasinggung lamun keur jalan-jalan di KOTA BANDUNG bakal sering ngadangu kata ANJING jeung GOBLOG dina obrolan barudak ngora.
Ameh jelas urang tingali hiji contoh dihandap ieu: "Tadi urang dahar ANJING ayeuna rek ngaroko heula GOBLOG ". Tah kalimat eta lamun ditarjamahkeun ka bahasa indonesia nu alus jeung hade hartina jadi: "Tadi saya makan, sekarang mau merokok dulu."
Tapi jang jalmi nu tingkat TOEFL ESD masih rendah pasti bakal kasulitan jang ngartikeun kalimat jiga kieu: ”ANJING AING DIGEGEL ANJING GOBLOG ”. Jigana kedah naroskeun ka Kang Ibing ameh tiasa ngajelaskeun arti kalimat eta.
Sajalan jeung kamajuan basa sunda jadi bahasa internasional kecap ANJING mimiti ngalami peluluhan atawa panghalusan, kecap ANJING diubah jadi leuwih sopan jadi kecap anjrit, anjis atau anjroy. Malah di daerah Bronk jiga di Water Rock (Cicadas) ngalemeskeun kecap ANJING cukup ditambahkeun kecap PUNTEN. Jadi tong heran lamun aya jalma nu liwat ngomong permisina make kata nu lemes nyaeta: ”PUNTEN ANJING ”. Cukup dijawab make tutur kata nu teu eleh lemesna oge ”MANGGA GOBLOG ”.
Di tahun 1994 sayah pernah ngalakukan hiji panalitian leuleutikan (hanya ngitung wungkul) di babaturan SMA sayah di Bandung. Dina obrolan sakitar 15 menit, rata-rata kecap ANJING jeung GOBLOG kaluar leuwih ti 10 kali. Malah sayah sempet ngalakukan hiji tantangan ka babaturan lamun manehna sanggup tahan teun ngomong kecap ANJING ANJING GOBLOG salama 1 jam, sayah rek mere duit 20 rebu. Babaturan sayah eta nga mampu tahan sakitar 30 menit, saeunggeus eta manehna ngobrol kaluar kecap ANJING jeung GOBLOG tanpa disadari ku manehna.
Tah sakitu heula ANJING engke lamun aya waktu dilanjutkeun GOBLOG
(Artinya : Nih segitu dulu, nanti kalo ada waktu dilanjutkan. )
Hehehehehe.. ... padahal mah sayah hoyong nyarekan nu.
(copas... poho deui timana. geus lila)
Diposting oleh Begundal Militia di 10.49 8 komentar
Diatas Sungai, Ditepi Jendela

Iman adalah mutiara
Di dalam hati manusia
Tiap kuputar lagu sendu dari Raihan, perempuan itu selalu berdiri di tepi jendela. Matanya selalu menatap jauh lurus ke aliran sungai Citarum yang bergemuruh. Aku acapkali perhatikannya. Kadang terbersit perasaan untuk mengenal. Bahkan lebih dari sekedar "mengenal". Namun, jarak kamarku dengan kamarnya terlalu jauh. Terpisah oleh bentangan sungai yang membelah kota Bandung ini.
Di sepanjang sungai yang airnya mirip bajigur, disekitar Tamansari Bandung, rumah-rumah berjajar, kamar-kamar bertingkat didirikan dan disewakan. Ada yang permanen. Ada pula yang sekadarnya. Semua laku bak kacang goreng. Mulai mahasiswa tingkat pertama hingga akhir, pegawai toko, waitress, pemandu lagu, scoring girl, WTS kelas teri, banci yang sering berkeliaran di sekitar Dago, semuanya mencari kost di sekitar sini.
Aku salah satu dari mereka. Sudah sekitar 3 bulan aku menjadi SSG sekaligus pegawai di supermarket Daarut Tauhid. Meski gaji tidak seberapa, aku coba sisihkan sebagian buat menyewa kamar 2x3 m. Sisanya aku kirim ke Ambu di Banjaran. Aku pilih kamar yang berbatasan langsung dengan sungai agar aku bisa melihat air yang beriak-riak dengan latarbelakang gunung Tangkuban Perahu yang tersembul dibalik pepohonan. Sejak kecil aku memang terbiasa dengan suasana alam. Rumahku sendiri di Banjaran tepat di sebuah kaki bukit dengan sungai yang mengalir di bawahnya.
Bisa saja aku tinggal di Gegerkalong, Pesantren DT. Tapi aku memilih tidak bergantung pada fasilitas yang DT berikan. Aku ingin belajar mandiri dan mencoba bertahan hidup dengan caraku. Biar di sela-sela waktu kerja, sepulang kerja, sekitar Isya, sebelum mandi aku bisa duduk-duduk di pinggir jendela sambil minum teh manis hangat. Tape butut yang aku beli di Cihapit hampir selalu memutar lagu yang itu-itu saja. Saat itulah, ketika diputar lagu Iman Mutiara, aku selalu melihat perempuan berkerudung itu berdiri di tepi jendela.
***
Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Mungkin ini lagu kenangannya. Lagu yang selalu dia dendangkan bersama teman-temannya sepulang pengajian. Atau lagu yang selalu menyemangati dia ketika kondisi futur menghinggapi dirinya. Bukankah tidak ada yang lebih menggetarkan di dunia ini ketika hati dan otak kita terkenang pada suatu hal yang pernah singgah? Atau malah dia seorang jamaah DT juga yang sedang menghapalkan lagu. Atau semuanya hanya kebetulan saja. Kebetulan saja dia ingin berdiri di tepi jendela setiap aku putar lagu ini. Tidak mustahil kan?
Dugaan seperti itu sebenarnya bukan masalah yang harus dimasukan ke otakku. Hidupku sudah penuh dengan hal-hal yang tak terduga. Sampai sekali waktu, ketika aku sedang memandangnya, perempuan itu tersenyum. Sontak aku terhenyak. Kupalingkan mata agar tidak ketahuan kalau aku memandangi dia sejak tadi. Sambil melirik kanan kiri kalau-kalau dia tersenyum ke arah penghuni kamar yang lainnya. Tapi tidak ada satu kamar pun yang terbuka malam itu. Berarti dia tersenyum kepadaku. Aku coba balas senyumnya sambil perlahan aku tundukan pandanganku darinya. Sekilas aku melihat dia tersenyum kembali. Kikuknya aku.
***
Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertakwa
Sejak saat itu, aku terbius oleh senyum perempuan berkerudung di seberang kamarku. Ada perasaan tak biasa tentang pandanganku kepadanya. Entah itu perasaan apa. Yang jelas setiap pulang kerja, aku jadi selalu memutar lagu itu. Berharap dia melihat dan tersenyum kembali. Akupun berjanji pada diriku sendiri tentang dirinya. Pernah suatu kali aku mata-matai penghuni rumah kostan itu, tapi perempuan itu tidak sekali pun keluar dari rumah. Padahal aku menunggunya selepas shalat shubuh di masjid hingga pukul 8 pagi. Kebetulan hari itu aku tidak ada kerja. Suatu ketika sepulang kerja, aku menemukan secarik kertas berwarna merah muda tepat di bawah pintu kamarku.
Assalamu’alaykum, akhi syukran ya selalu memutarkan lagu favorit ana.
Seorang hamba yang dhaif: Fitri.
Apa berlebihan kalau dibilang aku sudah jatuh cinta padanya? Tapi namanya juga manusia yang memiliki naluri pasti ada kecenderungan kesana. Terlebih dihadapkan kepada sosok yang seperti dia. Wajahnya yang lembut, senyumnya yang menawan, kerudungnya yang lebar, mengingatkan aku pada cerita ustadz yang dulu mengajarku di rumah kala Abah masih ada. Ustadz berkata kalau surga itu indah sekali. Disana, taman dialiri telaga susu hingga harum bunganya pun belum pernah seorang manusia menciumnya. Subhanallah… andai akhirat adalah sebuah kertas, akan kupotong saat bunga-bunga surga bermekaran dan air telaga susu mengalir dengan lembut. Aku akan membawanya kemana-mana. Aku akan menciumnya dalam-dalam dan tak sedikit pun aku lepaskan.
Itulah kedahsyatan perempuan berkerudung tadi. Apalagi saat matanya memandang arus sungai, saat senyum tercerah menjadi satu-satunya fenomena terindah yang muncul di tengah kekumuhan rumah-rumah tepi sungai. Saat kerudungnya tergerai tertiup angin, aku mendapatkan cekaman-cekaman yang mempesona seolah aku begitu dekat dan tahu segala sesuatu tentang dirinya. Padahal pengetahuanku tentang dirinya hanya sebatas menduga-duga dari mata, senyum dan kerudung saja.
Esoknya aku menemukan lagi secarik kertas merah muda di bawah pintu. Isinya seperti sebuah pertanyaan; Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita tidak beriman oleh orang yang kita cintai? Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita beriman oleh orang yang tidak kita cintai? Jagalah imanmu sebab besok atau lusa siapa yang tahu dia masih ada.
Aku jelas-jelas tidak mengerti apa maksudnya. Mengapa harus keluar kata-kata yang berbelit-belit begitu. Kenapa harus memusingkan kata cinta kalau memang ada yang mencintai. Agh! Otakku ternyata terlalu bebal untuk mengerti apa yang dia maksud. Aku bermaksud bertanya kepada perempuan di tepi jendela yang aku kira si pengirim kertas-kertas ini. Namun, sejak pesan terakhir yang aku terima, tak sekalipun ia perhatikan aku lagi. Berkali-kali aku sengaja memainkan volume lagu kesukaannya. Tapi hasilnya nihil! Dia tetap saja memandang arus sungai Citarum. Sampai aku sendiri menjadi capek melihatnya. Disatu sisi perasaan di hati ini semakin tak tertahan.
Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api namun tak jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah
Mungkin pernyataan itu ada kaitanya dengan lagu ini. Tapi aku tetap saja tak mengerti. Apalagi sejak perempuan berkerudung itu enggan perhatikan aku. Dia makin asyik dengan dunianya yang sepi, dingin, hampa dalam kesenyapan malam, deru air sungai, bulan purnama, siluet Tangkuban Perahu, suara kendaraan, bunyi suara tukang nasi goreng dan lainnya.
Seketika itu juga janjiku tentang dia seakan terhempas angin topan yang datang secara tiba-tiba. Niatan untuk mengenalnya lebih jauh menjadi haru biru. Walaupun tidak selayaknya seorang muslim berputus asa. Sejak itu aku tidak bersemangat lagi pulang begitu kerja selesai. Ritual menyalakan tape butut pun seolah jadi sesuatu yang tabu. Malam itu tepat pukul 22.00, sepulang kajian di DT, aku menemukan beberapa carik kertas yang sudah sedikit lecek dan menguning. Aku tatap lebih dalam. Bentuk hurufnya sama seperti yang selalu aku terima sebelumnya. Dengan perasaan ingin tahu yang menggebu aku segera bersandar di kursi lantas membacanya:
Namaku Nur Fitri. Saat ini usiaku 22 tahun. Saya lulusan pesantren di Tasikmalaya. Bapakku adalah pemilik pesantren itu. Keluarga saya termasuk keluarga terpandang. Saya sendiri anak ke sebelas dari dua belas bersaudara. Dulu saya adalah seorang santriwati teladan di pesantren. Dari ilmu-ilmu alat hingga bernasyid selalu saya yang dikedepankan. Lagu Iman Mutiara selalu saya nyanyikan setiap pulang dari masjid bareng sahabat-sahabatku. Keistimewaan saya bukan berarti membuat saya semakin betah. Saya justru pergi dari pesantren. Ini saya lakukan sebagai protes kepada bapak yang menjodohkan saya dengan pilihan yang bapak mau. Padahal saya sudah punya pilihan dan ingin sekolah yang lebih tinggi lagi di Bandung.
Dengan bantuan seorang teman, saya tiba di Bandung. Demi menghidupi diri sendiri dan biaya sekolah, saya bekerja menjadi pelayan part time sambil memberi privat anak-anak SD hingga suatu malam di kamar kost, saya diperkosa oleh pacar teman saya itu. Kesucian dan keyakinan hidup yang saya bangun selama ini seakan hancur berkeping-keping. Seketika itu saya hancur. Akhirnya dengan bersusah payah saya mencoba membangun dunia saya kembali dengan air mata dan kesakitan. Segala apa yang saya punya, apa yang Allah berikan, saya jual sebagai bentuk kesakitan dan frustasi.
Suatu ketika ada seorang akhwat menghampiri saya. Ketika itu saya menangis sendirian di pojokan mushola sambil membaca Al-Qur’an kenang-kenangan juara MTQ antar pesantren. Padahal sejam sebelumnya saya baru memuaskan seorang babah pemilik perusahaan kayu dari Semarang. Sungguh menggelikan ketika akhwat tadi mengatakan terpesona dengan suaraku. Dia tak sadar kalau mulut ini memang mendayu-dayu dan indah. Tapi sebenarnya hati saya berdarah. Saya hanya bisa tersenyum getir. Tapi kedekatan dia, cara dia memberikan perhatian, sungguh merupakan bahasa kalbu yang baru bagi saya. Saya terhenyak dan mengingat kembali segala sesuatu yang ada jauh sebelum saya datang ke kota ini. Setiap hari dia menemui saya. Setiap hari dia memberi tulisan-tulisan bernada nasihat. Setiap hari juga dia kirim sms untuk mengingatkan shalat tahajud. Padahal setiap malam itu dia kirim sms, saya sedang berada didekapan laki-laki yang selalu berganti-ganti. Setiap minggu juga dia selalu berikan selebaran berwarna putih biru dan ujung-ujungnya ajakan untuk ikut Qudwah. Begitu dia bilang.
Saya makin takjub ketika dengan tulus dia menawarkan kakak laki-lakinya kepada saya. Digenggamnya tangan saya erat dan meluncurkan kata-kata itu. Meski akhirnya dia tahu siapa sebenarnya saya tapi tidak menyurutkannya untuk berhenti berkata. Ah, diam-diam air mata saya mulai menetes melihat ketulusan sahabatku yang satu ini. Namun setiap pelanggan menjemput, saya diingatkan kembali bahwa iman saya telah hilang entah kemana. Karenanya, ucapan dan permintaan tulus sahabat saya itu seakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tapi di lubuk terdalam saya butuh semua yang dia katakan. Jujur saya butuh itu. Saya butuh kedamaian. Saya capek hidup di dunia yang kotor ini. Hidup saya yang sebenarnya bukan di alam nista ini. Dalam keadaan seperti itu, tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita tidak beriman oleh orang yang kita cintai? Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita beriman oleh orang yang tidak kita cintai? Saya memang sudah terbiasa menangis dalam hati. Tapi tidak meratap seperti halnya saat itu. Ketika akhwat tadi mencegah saya dijemput oleh mucikari pengelola night club tempat saya bekerja. Ia malah diperkosa oleh kaki tangan si mucikari sebagai balasan penolakan saya untuk bekerja lagi. Ratapan saya semakin menyanyat ketika kakak sahabat saya -yang akan dijodohkan kepada saya- meninggal ketika mencoba menolong adiknya yang sedang diperkosa. Tiga buah tusukan sangkur tepat menusuk jantung kiri dan lambungnya. Sungguh saya tidak tahan.
Selembar lainnya hanya berisi sebuah kalimat: Terima kasih Pras, kau telah mengingatkan saya tentang iman. Sesuatu yang bertahun-tahun saya coba kubur tapi tak pernah sedikit pun dia mati.
Hah?! Bagaimana dia tahu namaku? Sontak aku terkejut ketika di kertas tersebut jelas sekali tertulis namaku. Apakah selama ini dia mencari tahu tentang aku juga. Kalau begitu perasaan aku dan dia ternyata sama. Kami saling merindukan masing-masing. Aku segera bergegas menuju jendela kamar untuk menyapa perempuan di tepi jendela itu. Belum sempat aku menggerakan tangan, perempuan itu tersenyum lantas melambaikan tangan dan masuk ke dalam. Benarkah ini kisah perempuan yang suka lagu Iman Mutiara itu?
Esoknya aku datangi rumah bertingkat di seberang sungai. Niatku saat itu untuk mengungkapkan segalanya dan meminta penjelasan dia. Tapi tak ada seorang pun yang tahu tentang Fitri. Penghuni kamar yang jendelanya menghadap sungai sekarang bernama Irma, seorang scoring girl yang terlalu liar di mataku. Aku merasa seisi rumah kost itu menyembunyikan Fitri. Karenanya setiap pagi aku menunggu di depan rumah itu. Sampai seorang tetangga memanggil aku.
"Pras, Saya dengar kamu mencari seseorang ya?" katanya.
"Ya" jawabku singkat.
"Kamar itu memang pernah ditinggali Fitri. Tapi itu enam bulan yang lalu."
"Enam bulan yang lalu?" aku keheranan.
"Benar enam bulan yang lalu. Entah kenapa dia melompat ke sungai dan meninggal. Sengaja cerita itu disembunyikan biar yang kost tidak takut. Masalahnya kematian dia sedikit janggal. Kayaknya dia bukan bunuh diri tapi dibunuh. Kamu kenal Fitri darimana?"
"Innalillahi," Saat itu juga aku bergegas pulang. Tak tahu harus melakukan apa. Tapi aku sempat menuliskan sebuah kalimat di agenda harianku: Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita tidak beriman oleh orang yang kita cintai? Tahukah kamu bagaimana menyakitkan dicintai ketika kita beriman oleh orang yang tidak kita cintai? Jagalah imanmu sebab besok atau lusa siapa yang tahu dia masih ada. Ya….semoga begitu Fit!
Untuk Aku, Kamu, dan Mereka
September 2005
Keterangan:
Abah = bapak (Sunda)
Ambu = ibu (Sunda)
Babah = Panggilan utk bapak-bapak beretnis Cina
Bajigur = minuman khas Jawa Barat
Banjaran = Kecamatan kecil di selatan Bandung
Butut = Jelek (Sunda)
Cihapit = Nama jalan tempat jualan barang loak di Bandung
Scoring Girl = Perempuan penghitung angka di meja bilyar
Waitress = pelayan
Diposting oleh Begundal Militia di 10.23 12 komentar
Ini Air Mata Hujan Terakhir, Gi

Sore ini sebenarnya cerah tapi entah kenapa aku ingin sekali ke sini, tempat kita dulu selalu duduk sehabis latihan fotografi. Di bawah angka 1 yang terbuat dari stainless steel itu. Aku ingin, benar-benar ingin, kesini. Untuk melihat kamu, walau hanya bayang samarmu. Heran, setelah adzan Isya tiba-tiba udara berubah. Gerimis kembali turun. Tak lama hujan kian melebat. Bandung saat ini memang sedang musim hujan.
“Pantas tadi panas sekali,” kata seorang laki-laki kurus pada temannya. Mungkin mereka anak-anak Akutansi semester 1. Beberapa memegang Accounting Principles-nya Kieso, beberapa bercerita tentang balance sheet. Arah datangnya tepat dari kelas Pengantar Akutansi.
Panas? Ah cerah kok siang tadi, pikirku. Mungkin mereka saja yang kepanasan otaknya memikirkan angka-angka kredit dan debit.
Hujan ini ternyata membantuku melihat bayangmu. Di sini, di bawah angka 1. Dulu, kau pernah memberi kehangatan padaku. Ya persis disaat hujan-hujan seperti ini. Saat itu, kita pacaran sudah delapan bulan. Sejauh itu kau baru “bisa pegang tanganku”. Untuk mengelus pipi atau bahkan mencium kening saja kau belum pernah melakukannya. Kontras sekali dengan pembawaanmu yang terkesan berandal.
Suatu sore, hari selasa juga seperti hari ini, atau tepatnya malam, kita pulang latihan. Kita selalu sengaja memutar. Melewati FE dan Ruang Seni.
“Biar lebih lama bisa pegang tanganmu, Lin!” katamu dengan wajah yang tak berani menatap mataku. Aku tahu kamu pemalu. Karenanya aku tertawa. Ternyata kamu berani juga. Aku setuju saja. Kita selalu diam-diam menyelinap pulang. Hanya Fauzi, Siska, dan Agung yang tahu kita pacaran. Siska dan Agung malah tahu sejak pertama kali aku kenal kamu.
He…he…, lucu juga mengingatnya! Aku ingat, saat itu aku sedang mengambil angle masjid dengan Pentax K-1000. Aku berteriak-teriak pada Siska agar menjawab hasil hitungan lightmeter untuk pilar masjid yang terakhir. Saat itu, kamu yang kala itu memakai baju Bad Religion berkata “Pakai F30, 1/125 detik.!”. Aku terheran, seraya mengernyitkan hidungku. Tak lama, “F30, 1/125 detik!” teriak Siska diseberang sana. Kamu tertawa. Astaga……, taring kananmu gingsul, Gi!
Sejak saat itu aku menyebutmu Gigi. Itu karena taringmu yang gingsul. Habis, namamu susah sih. Eh, sekarang aku ingat: Sancyaki. Sancay, katamu sambil tersenyum. Aku terkekeh. Memangnya ini Meteor Garden. Aku bilang pada Siska cuma naksir karena pribadi kamu. Kalau dari fisik jelas masih banyak teman lain yang jauh lebih tampan. Tapi kamu punya sesuatu yang lain. Dibalik kesan kamu yang nerd juga nge-punk, aku tahu hati kamu justru lebih halus dari Pram yang menjadi idola mahasiswi-mahasiswi. Aku bilang pada Siska paling cuma sebulan aku naksir kamu. Setelah 6 bulan ternyata aku tetap naksir kamu, Siska mentertawakan aku. Rasain, begitu dia bilang. Aku sudah bilang bingung, tadinya aku tak mau berpacaran denganmu. Sebab banyak yang mengejar aku. Tapi tidak tahu kenapa tahunya mentok juga. Sudah bingung, sebab aku pikir, aku ge-er saja terhadap sikapmu yang kok aneh (he…he…!). Buat seorang yang pemalu seperti kamu, aku menilai itu sesuatu hal yang berani. Biasanya kamu selalu membuat puisi-puisi manis seperti yang aku minta. Tapi saat itu, di dalam mobil Starlet merahmu, kamu mengatakan………, begitu deh! Malu ih mengingatnya!
Meski memang tidak seperti yang banyak orang lakukan, aku tahu kalau maksud kamu adalah menjalin hubungan yang lebih. Kamu tidak berkata “Maukah kau jadi pacarku?!” Tapi kau dengan caramu. Dengan hatimu.
Gaya pacaran kita umumnya adalah hunting foto. Disana kita melihat berbagai objek, atau kamu berikan jaket lusuhmu untuk menutupi kamera dan badanku dari hujan. Sampai suatu saat, ketua jurusanku tiba-tiba berada di depan kita. “Linda, kenapa kamu biarin teman kamu basah? Kamu kan pakai dua jaket,” tanya ketua jurusanku. Lantas kamu menjawab dengan seenaknya, “Tidak apa-apa kok Pak. Saya lagi cari inspirasi. Lagian gerah.” Aku tersenyum sekaligus terheran-heran. Masa Bandung lagi hujan dan dingin begini disebut gerah. Dasar gokil!
Hujannya kian deras Gi! Gi inget tidak Senin dulu itu? Kita lari-lari sambil menenteng kamera dari samping Gedung Sate bagian Barat, terus menumpang berteduh di kanopi gedung yang tadi kita ambil gambarnya.
Kita sedikit basah karena angin menyebabkan air hujan tiris. Tiba-tiba kamu selipkan tasmu di antara badan kita. Lalu kamu raih aku dengan lembut, ketika kau melihat aku terkantuk-kantuk bersandar kedinginan.
“Ngantuk, Lin?”
Sial, sudah tahu begitu kok malah bertanya. Aku pindahkan tasmu ke bawah kaki. Aku sandarkan kepala di pundakmu tanpa penghalang tadi. Pertama setelah delapan bulan berpacaran! Ah! Aku menikmatinya. Meskipun aku ragu dengan kamu. Sekilas aku lihat wajahmu kikuk dan degup jantungmu keras memacu. Kamu salah tingkah. Tapi aku menikmatinya. Aku nyaman berada disamping kamu yang begitu terjaga. Aku yakin bersamamu akan aman. Kemudian aku tertidur sejenak dalam sandaranmu. Terbangun ketika tiba-tiba aku merasakan hembusan hangat berada di depan mukaku. Aku memandangmu.
Kau terpaku. Kelopak mataku sayu. Syahdu. Kau bilang, “Tidur ya!” Aku hanya mengangguk. Berharap kamu meneruskan apa yang tadi kamu mau. Jantungku mulai berdetak keras. Berharap sesuatu yang lembut dan indah mengisi hari ini. Kamu diam lama. Lalu menyibakkan rambutku yang basah. Bibirmu meluncur tepat di keningku.
Gila, aku hampir kehilangan keseimbangan saking terkejutnya, Gi! Kamu yang begitu pemalu pada perempuan. Tenyata. Kamu memberlakukan aku dengan hormat. Berbeda dengan pacar-pacarku dulu. Disaat seperti ini mungkin mereka bisa berlaku lebih dari apa yang kamu buat. Kamu malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Mungkin itulah cara kamu mengungkapkan rasa padaku. Tidak mengedepankan nafsu. Tapi sungguh itu adalah kelembutan yang luar biasa, menurutku.
Kemudian kita berdiam diri dengan tetap pundakmu aku jadikan sandaran. Hujan reda dan kita saling berbimbingan berlari-lari kecil menuju jalanan Cimandiri. Dalam angkot kosong, kau berkata, “Maaf Lin.”
Aku heran, dan kau jawab pertanyaanku dengan “Aku tadi terbawa suasana. Bukan maksudku menggunakan kesempatan, Lin. Tadi aku benar-benar ingin melakukannya pada orang pertama yang benar-benar aku sayangi. Kamu kan tahu sendiri biasanya aku seperti apa.”
Aku tersenyum dan mengeratkan genggamanku. Kemudian kau menarik tanganku ke depan dadamu lantas sesaat mencium lembut jemariku. Rasa aneh yang nikmat lagi-lagi menyerang ulu hatiku. Ah!
Sebuah mobil tiba-tiba lewat di depanku. Kencang. Aku terkejut. Kesal karena bayangmu segera melenyap. Namun himpunan bayangmu datang lagi ketika aku menatap ke depan. Di situ, dulu ada lapangan bola. Entah sekarang, sepertinya sudah tidak ada lagi.
Dulu aku sering menunggumu ketika anak-anak Mapala sedang bermain bola, ya di sini ini. Melihat kau teriak-teriak, berlari kencang, dan tertawa terbahak. Sedangkan aku makan kwaci sambil tersenyum sendirian, sampai bibirku jontor. Biasa, gara-gara garam kwaci. Bagaimana tidak jontor melihatmu bermain sambil becanda terus di lapangan. Jelas tak matching dengan posisi kamu, penyerang yang larinya kencang sekaligus piawai menjebol gawang.
Wih! Terus agak tersembunyi di sana ada ruang himpunan mahasiswa jurusan IESP yang dulunya markas anak eksponen 66 Bandung. Aku ingat ketika kau, entah dalam rangka apa, diklatsar pecinta alam. Kau lari, bilang mau ke WC tapi malah ke telepon umum di pojok tembok itu. Kau bilang, kau ada dua puluhan uang receh, jadi bisa mengobrol lebih dari setengah jam. Bayangkan, itu sudah hampir jam sebelas malam. Bukan malam minggu pula. Malam jumat. Untung saja ibu dan ayah sedang pergi ke Padang. Kalau tidak, bisa-bisa diintrograsi. Tidak sampai “dinyanyiin” sih, tapi pasti nanyanya aneh.
Kamu lalu laporan, “Banyak nyamuk Lin, genit-genit seperti kamu.” Sial, aku disamakan dengan nyamuk. Aku tanya “Gatal tidak?” Jawaban kamu pasti jayus: “Tidak kok, cuma sedikit pedes!”
Beberapa hari kemudian kamu bercerita lagi. Katamu, sehabis menelpon aku, kamu “dikasih” norit dan pil kina dalam jumlah yang banyak oleh ketua diklatsarmu. Ha…ha…ha…, rasain! Sebab waktu ditanya ke WC lama benar, kamu jawab sakit perut. Ketua diklatsarmu memang baik. Dia kan harus bertanggungjawab ke rektor. Tapi kasihan juga pas sih dengar kamu mabuk gara-gara kelebihan dosis.
Wah… wah…! Banyak kenangan kita ya! Tapi yang paling aku ingat adalah ketika kita tiba-tiba bertemu di pameran buku. Begitu ketemu, aku langsung marah. Sebab sebelumnya kamu batalkan janji kita karena ada perlu katamu. Nyatanya kamu malah ada di pameran buku. Bertiga dengan teman-teman barumu yang berjenggot dan aktif di DKM Masjid Universitas. Tiga bulan sebelumnya, sikap kamu memang menjadi aneh. Kamu seperti orang asing di depanku. Bahkan kamu seakan-akan berusaha menjauh. Meski aku yakin sebenarnya bukan itu yang kamu mau.
Wah! Jengkel. Kamu bilang: “Maaf Lin. Tadi aku ada halqah, eh pengajian dulu. Kebetulan memang dekat pameran buku tempatnya.” Aku kesal tapi tidak bisa protes sebab alasan yang kamu bilang pengajian. Biar begini aku masih menghormati orang untuk belajar agama. Kebetulan ayahku memang muslim yang taat. Tiap beberapa bulan sekali dia selalu pergi ke luar kota bahkan luar negeri untuk pergi khuruj.
Tapi tetap perubahanmu membuat aku tidak mengerti. Penampilanmu yang nge-punk sekarang berubah menjadi lebih rapih. Sikapmu yang cuek tapi pemalu malah semakin pemalu dan tertutup terlebih kepada teman-teman perempuan. Siska malah pernah bilang kalau kamu sekarang malah hanya tersenyum saja bila disapa. Lantas pergi tanpa berkomentar apa-apa. Begitu juga padaku. Telepon-telepon jenaka dan hangatmu mulai jarang aku dengar. Biasanya kamu nongkrong di tempat jualan gorengan bareng teman-teman mapalamu, sekarang mereka bilang juga tidak tahu keberadaanmu. Padahal aku berharap masih bisa menyusuri jalanan Bandung sambil mencari objek-objek menarik buat kita ambil gambarnya.
Bayang-bayangmu lenyap lagi sejenak, saat aku sadar hujan telah habis. Kulangkahkan kakiku meninggalkan angka 1 seraya berbisik, “Kutinggalkan sepotong cinta kita disini, Gi.”
Lalu ingatanku melayang pada beberapa hari berselang. Kau yang tadinya menjauhi aku tiba-tiba menghubungiku. Lantas mengajakku untuk mau menerima khitbah kamu. Itu yang kamu bilang tentang melamar dalam bahasa baru kamu. Aku terhenyak. Gila pikirku. Baru sebelas bulan pacaran. Kau bilang kau serius. Sebab Islam mengatur seperti demikian. Kamu tidak ingin aku terjebak dosa yang disebabkan rasa sayangmu kepadaku. “Ini sesungguhnya yang aku mau. Yang sesuai dengan aturan-Nya,” pinta kamu. Aku tahu kamu takut kehilangan aku. Aku terpaku dan tak terasa butiran air mata jatuh membasahi pipiku, “Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita, Gi. Asal kamu kembali menjadi Gigi-ku yang dulu!”
“Ada. Ada yang dapat memisahkan kita,” jawabmu, “Ada, Lin! Maut dan keimanan kita!”
Dadaku bergegup keras.
“Ya, maut…..,” sahutku berbisik. “Tapi bukankah keimanan kita sama, Gi? Aku muslim, kamu pun muslim.”
“Ya benar. Tapi muslim yang seperti apa?” jawabmu.
Lalu kau berikan sebuah buku berwarna putih dengan tulisan merah menyala. Bertulisankan “Sistem Pergaulan Pria-Wanita dalam Islam”. Aku menatap dalam buku tersebut. Biasanya aku kesal apabila kau sudah berbicara tentang pergaulan pria-wanita dalam Islam. Tapi saat itu rasanya nilai buku itu terlalu sakral. Dalam hati aku berjanji akan membaca buku itu dan mengikuti saranmu untuk mendiskusikannya dengan Mbak Novi. Kakak angkatanku yang aktif di DKM Masjid Universitas. Seperti kau saat ini.
Tanpa membiarkan aku berbicara lagi, kau lantas pergi meninggalkanku. Di tengah hujan rintik-rintik. Kau hanya berkata, “Tolong pikirkan permintaanku, Lin!”. Kau lantas pergi menuju serombongan mahasiswa yang membawa spanduk & bendera.
Esoknya. Tak sengaja kita berjalan bersama. Lalu kita berpisah di unit lima gedung fakultasku. Sebelumnya kau sempat berkata, “Hari Ahad aku akan pergi ke Aceh menjadi relawan disana. Bersama teman-teman. Mungkin sekitar dua mingguan aku disana. Afwan, kalau kemarin aku terlalu memaksa. Aku tunggu jawabanmu sepulangku dari sana.”
Aku menggangguk, tak terasa aku menggegam keras buku pemberianmu. Kembali air mataku menetes. Aku ingin mengucap sepatah dua patah kata sebelum kau pergi. Tapi kau mungkin tidak mau kalau aku berkata berduaan. Siska tiba-tiba sudah mengamit lenganku sementara aku masih menatap punggungmu.
Rupanya angkot malam ini sudah habis. Kelas fotografi malam ini memang menyita waktuku. Teknik kamar gelap butuh waktu yang banyak. Kuhentikan sebuah taksi. Sopirnya memandangku heran. Biarlah! Terserah apa yang mau dipandangnya melihat seorang cewek sendirian di malam hari. Yang jelas ini hari pertamaku menggunakan kerudung meski belum seperti apa yang dijelaskan dalam buku yang seminggu lalu kau berikan padaku.
“Ah Gi, kenapa harus kau,” bisikku. Air mataku menetes. Lagi-lagi menetes. Sekali lagi kugenggam buku putih pemberianmu dan kuraih sebuah koran hari ini dari dalam tasku. Sekali lagi kubaca sebuah berita di kolom kiri atas. Mengenai meninggalnya dua orang relawan Aceh akibat terjatuh ke jurang ketika sedang membawa obat-obatan. Salah seorang dari kedua orang itu adalah kamu, Sancyaki kekasihku. Disudut hatiku, kulihat kau. Lengkap dengan senyum gingsulmu.
Diposting oleh Begundal Militia di 10.17 2 komentar
Asoy Geboy Magazine (Download)

Satu lagi majalah yang kayaknya harus didownload. Isinya macam-macam. Lebih baik dibaca daripada dijelaskan disini. Yang jelas isinya antara lain;
1. Tausiyah Abu Atta (Jangan Bersedih, Saudaraku di Shahab Mujahidin)
2. Surat dari Dr. Ayman Al Zawahiri (Pesan untuk Penduduk Yaman)
3. Surat dari Syekh Usamah bin Ladin (Jalan Untuk Menyelamatkan Planet Bumi)
4. Surat Syekh Anwar Al Maliki (Pesan untuk rakyat Amerika dan Kaum Muslimin di Barat)
5. Pengalaman Jihad Abu Musáb Al Suri
6. Teknik encrypted pesan
7. Kartun-kartun tentang Perang salib
8. Puisi dari Umar al Faruq
9. dll
Untuk mengunduh langsung saja klik ini Asoy Geboy Magazine atau disindang Asoy Geboy Magazine atau bisa juga disindang Asoy Geboy Magazine
Diposting oleh Begundal Militia di 10.15 4 komentar
Menipu Penipu

Lihatlah itu saya sudah ada di Bandung. Ibukota Priangan. Yang sudah lama beta tidak berjumpa dengannya. Juga dengan pohon Jambu Bol Jamaica yang di depan rumah. Juga dengan Mang Gozali si penjual baso tahu. Juga dengan Jindow, Akmal & Altaf balita tetangga sebelah. Juga para petani yang sibuk mencangkul di belakang rumah. Juga dengan para pengemudi ojeg dan becak yang biasa mangkal. Juga dengan kucing belang yang pernah kepergok lagi kawin di halaman rumah. Ah tapi rasanya tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut tentang keadaan rumah saya. Kalau dijelaskan pun pasti tidak akan ada yang tahu di negara apakah itu rumah orang tua saya gerangan. Kecuali, kalau mau membeli rumah orang tua saya, nanti tentunya akan saya beri tahu. Soalnya itu rumah memang sedang mau dijual.
Sekarang di depan rumah saya sudah tidak boleh parkir mobil. Tanah kosong yang dulu biasanya buat kumpul bocah dan menikmati buah kersen, sekarang sudah dipagari. Otomatis romantis sudah jarang terdengar keributan lagi disana. Begitu juga dengan mobil-mobil Bapak saya. Selaku jutawan yang tidak punya tempat parkir, Bapak saya akhirnya memilih tanah kosong yang lebih jauh untuk menyimpan mobil-mobilnya. Maklumlah, namanya pedagang jual beli mobil. Dia butuh selalu tempat yang lumayan luas untuk mengkandangkan asetnya itu.
Sekonyong-konyong itu Bapak saya menyuruh saya pergi. Saya terkaget-kaget. Berjuta-juta pertanyaan berkumpul-kumpul di kepala saya. Anak durhaka kah saya? Perasaan tadi itu Jambu bol yang saya lempar ke bawah tidak mengenai kepala dia. Tidak juga saya menolak mengakuinya sebagai bapak. Lantas apakah salah saya? Begitu pikir saya diatas pohon jambu.
Ibu saya, Adek saya, Um-Um Surum Um, dan Revo pun terdiam. Mereka yang tadinya tertawa-tawa menangkapi jambu akhirnya terdiam bagaikan arca Batara Kala di candi-candi.
Oh ternyata yang menyebabkan Bapak saya begitu bukanlah karena saya durhaka. Dia hanya meminta saya untuk pergi ke ATM BCA. Katanya ada orang yang mau membeli mobil jualannya tapi uangnya ditransfer via bank.
Tidak sampai setahun semalam Bapak menunggu saya turun dari pohon jambu lantas pergi ke ATM BCA. Cukup hanya 15 menit itu saya sekarang sudah ada di dalam mobil bersama Revo, Adek, dan Um-Um Surum Um. Tidak lupa dengan ATM BCA milik Bapak juga selembar kertas berisi nomer pin.
Berulang kali si pembeli menelepon saya. Menanyakan posisi dan kesiapan melakukan transfer. Saya jawab saja sedang di jalan. Namun itu tidak menyurutkan si pembeli untuk tidak menelpon saya. Hingga terakhir menelpon ketika saya mengatakan bahwa transferannya yang sebesar 5.000.000 sebagai uang DP ternyata belum masuk.
Itu saya sudah berada didalam ATM. Dan si Bapak yang mengaku bernama Hendra Sujarwo akhirnya menjadi kalut. Lantas menanyakan saldo rekening ATM Bapak saya. Saya jawab posisi saldo masih seperti awal (baca: 150.000 rupaih). Jumlahnya adalah lah kata saya kepada itu si Bapak. Pokoknya transfer dia belum masuk. Tapi si Bapak Hendra ini terus menanyakan. Saya bilang lagi saja seperti yang saya katakan tadi. Mendengar itu si Bapak Hendra semakin mengeluh dan memberikan solusi akan mencoba mengkontak pihak BCA. Sekaligus meminta saya mencari pengganti ATM lain selain BCA. Kebetulan kata saya. Ada ATM Bank Jabar milik Bapak saya tapi kartunya ada di rumah. Sontak si Bapak Hendra meminta saya untuk segera mengambilnya ke rumah
Ya sudahlah saya memutar balik mobil menuju rumah. Di sepanjang perjalanan si Bapak Hendra terus mencoba mengkontak saya. Tapi sengaja tidak saya angkat. Males. Mana si Revo mengamuk ingin es krim lagi.
Karena bosan mendengar HP berbunyi terus, saya berikan HP ke adik saya. Biarlah dia yang berbicara. Saya mau mencari es krim dulu buat Revo. Samar-samar terdengar kalau adik saya diminta untuk membawa Bapaknya, Bapak saya juga, ke ATM. Entah kenapa alasannya. Nada bicaranya terkesan gelisah dan galau. Mungkin karena uangnya yang gagal transfer itu tadi.
Melihat kenyataan itu, mobil dan orang-orangan didalamnya saya cepat bawa lagi ke rumah yang memang tidak terlalu jauh dari tempat tadi belanja. Sampai di depan rumah, nampak Bapak saya beserta sopir sedang bersiap untuk pergi menggunakan mobil jualannya yang lain. Tergesa-gesa kelihatannya.
“Bade kamana, Pak? (Mau kemana, Pak?)” itu saya bertanya.
“Ieu ka Bank. Itu nu bade meser ceunah artosna teu lebet ka BCA nya?! (Ini mau ke Bank. Itu yang mau beli katanya uang dia tidak masuk ke BCA)” jawab Bapak saya, “Sok geura parkirkeun! Urang ka ATM ayeuna! (Ayo parkirkan. Kita ke ATM sekarang)”
“Ke…ke….ke…. aya nu aneh yeuh (ada yang aneh nih)” kata saya ke Bapak, “Kalebet heula mending Pak. Sapertosna aya nu teu beres (Ke dalam dulu mending, Pak. Kayaknya ada yang tidak beres)”
Saya lekas-lekas masuk. Lekas-lekas bawa itu orang-orangan yang ada di dalam mobil untuk bersaksi atas kejadian selama perjalanan. Lekas-lekas bercerita kenapa saya menjadi seperti Sherlock Holmes. Lekas-lekas saya bilang bahwa orang yang bernama Hendra Sujarwo ini sepertinya sejenis penipu.
Ini hanya sekedar asumsi saya belaka. Begitu saya bilang ke orang-orang di ruang tengah. Kenapa begitu? Pertama, masalah beli mobil tapi tanpa dilihat barang. Bagi orang yang mengaku hobbies & kolektor secara logika tidak mungkin membeli mobil tanpa memeriksa barangnya. Kedua, masih dugaan saya juga, sangat tidak mungkin Bapak Hendra dapat berkomunikasi dengan CS BCA sebab itu hari sudah Minggu dan itu jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Ketiga, seingat saya, BCA itu bank arogan. Ia tidak bisa melakukan transfer via ATM BCA ke bank lain kecuali k BCA lagi. Jadi mustahil si Bapak Hendra dapat melakukan apa itu yang ia mau. Sebab rekening dia BNI bukan BCA.
”Kringgggg.............kringgg...............” Hp tiba-tiba berbunyi. Meski sesungguhnya bunyinya tidak seperti itu. Tapi yang penting pokoknya berbunyi lah. Tak perlu saya bahas lebar-leba rmengenai bunyi HP.
”Iya” Saya sambut dengan suara yang dimanis-maniskan. Mirip bencong-bencong di Jalan Tera sana, ”Pak Hendra ya?”
”Dengan Dek Linda?” suara Pak Hendra memastikan dengan siapa dirinya berbicara. Linda itu ceritanya nama adek saya (sengaja saya samarkan nama Adek saya)
”Iya Pak. Ini Linda” balas saya.
”Kok jadi beda suara?” tanya si Bapak lagi.
”Lagi agak pilek. AC di ATM-nya dingin banget. Jadi agak meler hidung saya” jawab itu saya sambil senyum-senyum ke orang rumah yang lagi menonton akting aktor terkenal ibukota.
”Oh, sudah di ATM ya? Bapaknya mana?”
”Bapak tidak ikut. Linda saja yang urusin. Begitu kata Bapak” kata saya, ”Terus bagaimana nih Pak?”
”Sebentar saya hubungi CS BCA dulu”
”Bapak tadi transfer pakai ATM BNI kan ke rekening Bapak saya?” saya pancing dengan pertanyaan jebakan mau.
”Iya tadi saya kirim via ATM BNI saya’ jawab si Bapak,” Sebentar ya Dek Linda, saya coba hubungi CS BCA dahulu. Biar masalah transfer ini beres hari ini”
Lalu tiba-tiba bunyi telepon berubah. Suara nada memanggil terdengar nyaring. ”Halo, Selamat Sore. Costumer Service BCA. Dengan Hadi Purnomo disini. Ada yang bisa saya bantu?” Mendadak terdengar suara laki-laki lain selain suara Bapak Hendra.
”Begini Pak, Saya Hendra Gunawan. Saya tadi transfer ke rekening milik Bapaknya Dek Linda sebesar 5 juta rupiah. Tapi belum sampai hingga saat ini. Tolong dibantu ya Pak” itu suara Pak Hendra terdengar lagi. Tapi dengan nama yang bukan Hendra Sujarwo lagi.
”Oh begitu ya Pak. Baik nanti kami bantu untuk menyelesaikan masalah transfer ini. Bisa saya dihubungkan dengan pemilik rekening yang ditransferkan?” tanya CS BCA lagi.
”Oh iya Pak. Silakan. Ini sudah saya siapkan” jawab Hendra Gunawan atau Hendra Sujarwo.
”Halo selamat sore” CS BCA mengucapkan salam dengan ramah dan syahdu, ”Maaf dengan siapa saya bicara?”
”Saya Linda” segera saya rubah lagi suara sungai Barito saya menjadi suara Betty Bencong Slebor.
Itu CS BCA akhirnya menanyakan nomer rekening BCA milik Bapak saya. Beserta jumlah saldo yang ada. Lalu menanyakan apakah ada rekening lain selain itu. Saya katakan saja ada. Dan saya bilang juga kalau saya sedang di depan ATM Bank Jabar. Menunggu panduannya untuk transfer.
”Saldonya 57 juta, Pak” kata saya menjawab pertanyaan CS BCA yang memastikan agar selisih setelah transfer tidak salah.
”Tepatnya berapa Mbak?” tanya dia lagi.
”Jumlahnya 57.700.123 rupiah” kata saya sambil melihat nomer seri snacknya Revo.
”Baik. Mari saya pandu” kata CS BCA ramah.
”Sekarang masukan kartu ATM-nya terus pilih bahasa lalu masukan juga pinnya!” CS BCA menyuruh saya
Saya lantas masukan singkong rebus ke mulut. Lalu pencet-pencet jerawat di hidung sambil berdiri di depan cermin. ”Sudah Pak” kata saya.
”Ada apa sekarang ditampilannya?” tanya CS BCA.
”Disini ada Indormasi Saldo, Penarikan Tunai, Pemindahbukuan, Lain-lain”
”Ok. Tekan pemindahbukuan!” perintah CS BCA.
”Iya sudah” kata saya sambil senyum melihat orang-orang itu pada semuanya. Adik saya senyum, Um-Um Surum-Um senyum. Bapak saya senyum. Revo tidak senyum. Dia lagi main dengan boneka.
”Sekarang ada tampilan apa?”
”Mhmm...” saya kaget juga ditanya begitu. Tak disangka-sangka. Seketika itu juga saya tanya ma adik saya dengan bahasa isyarat. Kita semua menjadi panik tapi itu tidak lama berselang.
”Disini ada masukan nomer rekening yang akan ditransferkan” kata saya ke CS BCA tadi.
”Oh iya sudah benar. Sekarang masukan nomer rekening ini. XXXXXXXXXXXXXX” kata CS BCA,”Sudah?”
”Sudah” jawab saya.
”Coba diulang Mbak” pinta CS BCA.
Gubragsss.... Mati saya. Tapi tenang pikir saya. Saya belum mati. Dan beruntung Adik saya mencatat apa yang tadi dikatakan si CS BCA. Lalu saya sebut saja kembali nomer yang tadi disebutkan oleh sang CS BCA. Tentunya dengan PD.
”Iya benar Mbak. Sekarang masukan jumlah angka ini” pinta dia lagi,”4.994.873”
”Iyah sudah” saya bilang, ”4.994.873”
”Sekarang tekan kirim!”
”Ya sudah”
”Ada apa lagi tampilannya sekarang?”
”Masukan nomer referensi anda” jawab saya.
”Silakan masukan nomer rekening Mbak atau kalau tidak abaikan saja” kata si CS BCA, ”Sekarang ada tampilan apa?”
”Terkirim. Uangnya telah ditransfer” kata saya.
”Mhmm.... Tidak ada tampilan sebelumnya?” tanya CS BCA, ”Sudah keluar resinya?”
Saya baru ingat. Biasanya muncul nama pemilik rekening bank yang akan kita tuju. Berhubung saya tidak di depan ATM, jelas saya tidak tahu nama siapa gerangan disana. Saya bilang saja tadi langsung dipencet tanpa dilihat dulu. Ingin cepat beres kata saya. Tapi kemudian CS BCA bertanya tentang resi. Saya bilang saja belum keluar.
”Ya sudah diulang saja kalau begitu” kata CS BCA lagi.
Saya disuruh mengikuti perintah yang seperti tadi lagi. Dari mulai memasukan nomer hingga mengirim angka yang sama. Persis tidak ada bedanya. Setiap perubahan tampilan gambar di ATM pun selalu dia tanya.
”Sudah keluar resinya, Mbak?” tanya si CS BCA
”Sudah” saya jawab saja begitu sambil senyum penuh kemenangan. Begitu juga senyum Adek saya, Um-Um Surum Um, dan Bapak saya. Mereka punya senyum yang menang.
”Benar Mbak sudah keluar?”
”Sudah. Nih sudah di tangan” kata saya lagi
”Jadi berapa angka saldonya?”
Waduh (itu saya katakan dalam hati). Segera saya suruh itu Adik saya menghitung dengan kalkulator. Berhasil. Angka yang didapat adalah 52.705.250.
”Berapa Mbak?” tanya si CS BCA.
”52.705.250” jawab saya.
”Sudah keluar kan ya?” suara si CS BCA mendadak berubah. Ada kesan suara yang senang sekaligus menahan tertawa disana.
”Iya” jawab saya, ”Terus bagaimana lagi”
”Coba baca isi resinya dari atas perlahan-lahan!” lagi itu CS BCA tidak bosan-bosan menyuruh saya rajin membaca. Seaan-akan saya masih belajar membaca. Padahal saya sudah lulus SD.
Disuruh begitu jelas saya gelagapan. Saya tidak tahu tulisan apa yang selalu ada di resi ATM. Belum lagi kalau disuruh membaca nama pemilik rekening yang ditransfer. Itu saya, Adek, Um-Um Surum Um, dan Bapak saya terdiam membisu. Mati gaya.
”Ya begitu saja seperti biasa” kata saya mencoba menenangkan diri, ”Namanya juga resi ATM”
”Coba dibaca ulang saja Mbak!”
”.......” saya bingung. Jawab apalagi ya. Sepertinya sandiwara ini harus segera diakhiri. Sekonyong-konyong itu jam dinding yang ada diatas kepala berbunyi nyaring. Tepat pukul 5 sore. Berisik. Kata saya
”Loh, Mbak di rumah atau di ATM sih?” sekonyong-konyong juga muncul suara si Hendra Gunawan atau Sujarwo dibalik telepon.
”ATM dong!” sungut saya.
”Jangan boong lu. Ni bukan di ATM ya?! Ini di rumah” eh itu tiba-tiba suara Hendra Sujarwo binti Gunawan berubah logatnya menjadi seperti orang Batak. Tak lama disusul suara orang ketawa. Suara si CS BCA dengan logat Batak juga. ”Dasar pembohong!”
”Ih siapa yang bohong?” kata saya dengan genit.
”Alah sudah lu jangan bohong lagi. Katanya punya uang 57 juta. Padahal tidak punya. Tidak usah pura-pura gitu lah!” si Hendra Sujarwo aka Gunawan berlogat Batak lagi.
”Lah kalau saya bohong kenapa? Lebih pembohong mana saya atau kalian?” saya mulai membalikan keadaan.
”Hahaha... Sudahlah mending kita ketemuan di hotel saja, Mbak!” kata si Hendra
”Memangnya kamu mau apa dengan saya? Mau mesum sama saya? Kamu kelainan seksual ya” seketika itu saya rubah kembali suara saya ke suara gagah saya, ”Mau mesum ma saya?”
”Klik........” itu telepon akhirnya diputuskan dari sana. Entah kenapa tiba-tiba mereka memutuskan begitu saja. Yang jelas pembicaraan kami sudah lebih dari 45 menit. Dan sesingkat itu pula akhirnya kami harus berpisah.
Tertawalah kemudian itu kami yang berada di ruang tengah dengan lepas. Sampai-sampai si Revo datang menghampiri. Sambil membahas hasil perbincangan tadi, saya mengirimkan sms ke nomer orang yang mengaku Hendra tadi;
Selamat anda telah terlacak pihak kepolisian. Sebentar lagi bakal ada tim yang datang menangkap anda. Saya siap menjadi saksi nanti di pengadilan anda......... Lu mah salah Cuy. Bapak gua kan reserse. Nipu bapak gue itu namanya cari mati. Dasar tukang tipu. Liat-liat dong klo mo nipu. Tukang tipu lu tipu:p!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 17.58 6 komentar
Babaongan Made In Bandung
Diposting oleh Begundal Militia di 06.43 0 komentar
Membongkar Gurita Cikeas (Download)

Itu saya pusing-pusing mencari buku ini di toko buku. Ternyata itu buku tidak saya temukan. Akhirnya ketemu di internet. Terima kasih internet.
Sebagai balas jasanya, saya beritahukan juga pada semuanya yang membutuhkan buku ini. Biar tidak seperti itu saya waktu mencari-cari ke toko buku. Ini link Downloadnya Membongkar Gurita Cikeas dan Membongkar Gurita Cikeas (Full Version)
Diposting oleh Begundal Militia di 05.17 0 komentar
Pemenang QUIZ RUAR BINASA#1
“Kalau Kamu Fesbukan Dengan Obama, Apa yang Akan Kamu Tulis di Wall Dia?”
(Mohon maaf pengumumannya telat, maklum lah namanya juga Engdonesia)
Seandainya ketiga juri (Begundal Militia, Divan Semesta, dan Anggawedhaswara) ada tinggal dalam satu rumah mungkin enak. Semua akan beres dengan cepat. Tanpa harus berlarut-larut hingga seperti sekarang ini.
Tapi nyatanya semua mimpi indah itu tidaklah menjadi realitas di lapangan. Ketiga juri yang cantik jelita itu berada di negaranya masing-masing. Terpisah berkilo-kilo jauhnya. Sehingga akhirnya terpaksa komunikasi pun digalang melalui e-mail dan sms. Walhasil komen yang masuk pun mencapai angka 500 (dikurangi 430an). Sisanya itu yang benar2 mengetik komen. Sedangkan yang 430an, kami yakin sebenarnya mereka tergerak untuk memberi komentar, entah ada konspirasi apa yang jelas mereka tidak jadi membubuhkan kata hatinya. Dan untungnya kami khusnuzan saja.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, beberapa yang dipilih oleh Divan Semetsa ada sama dengan yang dipilih oleh Anggawedhaswara, juga ada sama dengan yang Begundal Militia pilih. Namun yang benar-benar dipilih oleh ketiga juri sebenarnya hanya 2 saja. Tidaklah usah mencari tahu siapa. Biar ini menjadi rahasia kami bertiga. Sedangkan yang terpilih oleh kebetulan dua jri adalah sebanyak 5 orang saja. Sehingga sebenarnya total yang terpilih juri itu adalah hanya 7 orang. Namun berhubung kami baik dan semua yang mengisi komen baik dan bercita-cita untuk menulis komen di wall-nya Obama, maka kami tambahkan 3 orang pemenang hiburan untuk menggenapkan menjadi 10 pemenang.
Sumpah padahal kami ingin semua menang. Tapi kami lantas berpikiran, klo semua menang, dana untuk hadiah tentunya diserahkan pada semuanya. Lantas bagaimana dengan dana untuk “memberi pelajaran” pada Obama??? So, berdasarkan dari sanalah maka dengan berat hati, mau tidak mau inilah mereka yang kami pilih:
1. Aditya Nugraha
("Goblog siah. gelut jeung aing!!!")
2. Herman PuraPura Sibuk
("Obama ??.. kayaknya saya salah add friend deh.. ")
3. Fajar Ar-Rocketrase
(obamaaaaaaaaaa!!!!! menta chip mafia war euy!!!!!)
4. Koko Corleone
(ntar sambil baca doa obama: "OBAMA atinna fidunyah khasanah wafil'a
hiroti khasanah wakina adhabanar,.." heheheee,..)
5. Muhammad Abduh Hirawan
("ada hubungan apa kamu sama Pytm ?')
6. Telaga Kautsarwoeey
(Pak Dhe Bam, ngartos boso jowo ora??? kula arep nembok marang FB kowe anggo boso'ne wong kapitalis, kula sing ora ngartos... djiakakak.....kula boten nggadha tembok, ananing Gedhek.... saka pring.... sumrriwiinggg...... ^^...)
7. Faathir Archza
(Om barry kok gk mirip org negro lbh mirip org jawa dnegara kami byk yg mìrip kayak om loh)
8. Ridwan Nuryaman
(Obama go tu hel we lah ..... lieur ningali polah silaing make jeung acara pidato di mesir sagala bari jeung punduk nyanghareup tapi ati mungkir .... sarua lah maneh mah teu beda sareng nu atos2 sarua balad yahudi2 keneh, montong api2 'bageur' ka Islam jeung Ummatna lamun aya kawani sok ulah siga jalma hipokrit waluh !! Sow me yor ril pes .... or day laik eun esol siah kehed ..... dasar presiden peot hulu euweuh kawani .... uing moal katipu ku raray ilaing, cing demi moal !!!)
9. Begundal Blacklist
(salam buat michelle, terima kasih atas segalanya " =))
10. Randa Atmaja Gusti
(om obama... dulu waktu di menteng sukanya jajan apa ??? kerak telor, cireng, ato bir kocok ??? hehehehehehe)
Sumpah nomor urutan tidak menentukan kualitas. Terimakasih, sudah ikutan Quiz Ruar Binasa. Tidak ada satu pun yang lebih menarikdhidup di dunia ini ketimbang hidup senang dan rame. Ekoy?!
Jakarta, 28 Desember 2009
Tim Juri
PS:
Kepada pemenang kirimkan alamatnya ke imel atau private message-nya Pengkhianatyangtelahmusnah. Setelah itu jangan lupa untuk mengirimkan foto diri yang telah berhasil menggunakan, memakai, memakan hadiah dari kami (Gaya terserah keinginan masing). Agar kami tidak dituduh sebagi pembohong yang menyebarkan sayembara palsu.
Kepada yang belum menang tunggulah quiz berikutnya. Makanya pantengin terus Quiz ini!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 19.57 0 komentar
Menyesatkan Lagu Anak Yang Sesat

Apa tanda-tandanya anak sudah bisa diajarkan menyanyi? Disini, di kontrakan Gandaria, Jagakarsa, tandanya adalah ketika itu anak mengoceh dan bersenandung sendiri. Itu versi kontrakan sini. Entah versi kontrakan Pak Haji Umar atau kontrakannya Bang Arif yang Ketua RT. Yang jelas anak sini (baca; Revo) mulai bisa bernyanyi ketika dia sudah mulai bersenandung sambil memanjat teralis jendela. Saya tidak tahu kenapa sejak itu dia mulai bisa diajarkan menyanyi. Apakah karena ia merasa dirinya Sir Edmund Hillary yang sedang berusaha memanjat Everest (yang butuh nyanyian agar bersemangat) ataukah dia merasa dirinya bagian dari Easy Company yang sedang latihan menaiki bukit? Agrh kenapa saya sampai sejauh itu memikirkannya. Toh saya yakin Revo belum pernah lihat Edmund Hillary atau Band of Brothers.
Lihatlah dia, itu Revo, memanjat naik terus ke atas. Bersemangat dengan nyanyian karangannya. Ke itu ujung horden. Sengaja saya tidak suruh dia turun. Biarkan saja pikir saya. Toh kalau jatuh ke bawah. Tidak bakal ke atas. Lagian kasihan nampaknya dia sedang begitu konsentrasi dengan lagu gubahan dan usaha mendakinya.
Satu lagu beres (nampaknya). Tak berselang 5 detik dia membuat nada-nada pentatonik yang tidak beraturan lagi. Beradu dengan suara hujan yang memang sedang lebatnya. Sekonyong-konyong, sebuah guntur yang tidak memakai M Romli belakangnya ikut memeriahkan suasana. Revo kelihatan kaget dibuatnya. Hampir saja dia free fall. Namun dengan sigap tangannya dia pegangkan lagi ke teralis besi. Mukanya memucat melihat kiri kanan seperti orang mau menyebrang. Saya lihat kiri kanan juga. Tidak ada mobil, tidak ada truk gandengan. Bebas untuk menyebrang. Saya bilang ke Revo supaya terus menyebrang tapi dia malah tetap celingak celinguk. Lantas memanggil itu nama alias saya sambil menangis keras. Ah, ada apakah gerangan? Kenapa dia tidak memanggil nama asli saya saja? Kan kita sudah saling kenal. Apa karena tidak sopan? Sebab budaya Timur melarang seperti begitu.
Oh, ternyata dia hanya ingin turun dari teralis besi itu. Sebab ternyata dia tidak tahu cara turunnya. Aha! Ini saat yang tepat buat saya untuk ikut menyanyi meramaikan suasana. Tentu saja dengan nada-nada yang tidak beraturan juga.
“Ayo teu tiasa turunnnn…. Ayo teu tiasa turunnn… Ayo teu tiasa turunnn… (Ayo tidak bisa turun)” itu saya berkoceh sambil menepukkan tangan dengan tepuk yang jelas bukan tepuk Pramuka.
Tahu dibegitukan oleh saya, tangis Revo sekarang disertai jerit metalnya. Jerit yang bisa terdengar sampai ke mimbar masjid yang terhalang kebun sepanjang lima puluh meter itu. Suara dia memang keras begitu. Kalau sudah menjerit seperti itu tak kalah lah dengan Sammy Hagar-nya Van Hallen. Sumpah demi metal!
Demi mengakhiri konser metal dadakan yang makin memanas lengkingnya, saya akhirnya mendekati Revo. Saya pegang badannya dari belakang sambil berkata kalau mau jadi vokalis metal tidak usah naik-naik teralis segala. Naik teralis mah cocoknya jadi wallclimber. Mengerti tidak begitu saya bilang dan tanya padanya. Alhamdulillah dia tidak mengerti. Ya sudah akhirnya saya turunkan dia dari teralis yang menjadi neraka baginya.
“Sok ayeuna mah amengna dihandap we! (Ayo sekarang mainnya dibawah saja) ” kata saya.
Revo sesegukan. Tangisnya masih belum habis. Namun berangsur mereda seketika si Um-Um Surum Um yang pengusaha pabrik susu datang.
“Eneng, nyanyi Naek Kereta Api kumaha?” si Um-Um Surum Um membuka keramaian.
“Api…tutttt…. tutttt…. tuttttt” Revo menyanyi-nyanyi sambil kepalanya goyang kiri kanan mirip orang lagi dugem. Oh mungkin begini ya kalau bayi dugem. Pikir saya.
“Naik kereta api tut.. tut.. tut.. siapa hendak turut.. ke Bandung.. Surabaya.. bolehlah naik dengan percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama..” itu Um-Um Surum Um melanjutkan nada-nada Doel Sumbang nya.
“Eh Um-Um Surum Um, lagunya ganti ah!’ larang saya, “Jangan lagu itu!”
“Kok diganti?” Um-Um Surum Um bertanya-tanya.
“Itu mah lagu yang mengajarkan yang tidak benar”
“Tidak benar apanya?”
“Masa mengajarkan anak biar nanti naik kereta gratisan. Pantesan saja PT KAI suka berkeluh kesah rugi terus”
“Kok gratisan??? Oh iya. Hehehe…” Um-Um Surum Um tersadar tapi kemudian malah nyengir kuda.
“Yeee… malah nyengir deui” timpal saya, “Mau tidak nanti si Revo kalau besar naik keretanya ke atas gerbong terus?”
“Ya nggak lah” jawab dia, “Trus nyanyi apa atuh?”
“Seterah. Yang penting yang ararekoy (baca oke)”
“Neng, nyanyi balonku yu Neng!” Um-Um Surum Um mengajak Revo mengganti lagu. Dengan serta merta Revo lalu teriak “Dollllllllllllllllllll…” Mungkin maksudnya balonnya meletus.
“Eh, tapi lagu Balonku juga jangan” larang saya lagi.
“Kok jangan lagi?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak tidak pandai berhitung. Masa balonnya cuma 5? Kan seharusnya balonnya ada 6. Sok geura itung! (Coba saja hitung)… Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!”
“Dolllllllllllll……………” Revo ikut-ikutan ngedorrr.
“Coba hitung berapa warnanya tuh? Ada 6 kan?!"
“Eh iya ya. Kok baru tahu ya? Hehehe……” kata Um-Um Surum Umum, “Trus lagu apa lagi yang tidak boleh?”
“Sebentar mikir dulu nih” sengaja saya mengulur-ngulur waktu agar banyak lagu yang tidak boleh dinyanyikan. Bukan apa-apa, soalnya suara si Um-Um Surum Um fals. Hehehe… Tapi sebenarnya bukan itu kok alasannya. Saya sengaja saja mencari-cari alasan biar si Revo lebih pintar mengaji daripada menyanyi. Sepertinya alasannya tidak menyambung ya. Tapi biarlah.
Lalu saya katakan pada Um-Um Surum Um kalau lagu Bangun Tidur (Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..) pun tidak boleh. Sebab lagu ini mendidik anak tidak disiplin, selalu buru-buru, dan mengajarkan nudism. Masa setelah mandi lalu membereskan tempat tidur. Kan badannya masih basah. Bahkan telanjang pula. Harusnya yang benar kan pakai baju dulu.
“Lagu Burung Kutilang, Ibu Kita Kartini, dan Bintang Kecil juga tidak boleh!”
“Hah? Kok bisa?”
“Ya bisa dong. Kenapa juga tidak bisa?” jawab saya.
Lagu-lagu tadi mengajarkan anak untuk pintar berbohong dan memanipulasi realita. Begitu kata saya. Suatu hari nanti kalau mereka (baca: anak-anak) terus diajarkan lagu-lagu seperti ini dikhawatirkan ketika dewasa nanti dia menjadi koruptor. Coba saja resapi lagu Burung Kutilang (Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu.. mengangguk-ngangguk sambil bernyanyi tri li..li..li..li..li..li..). Sejak kapan suara Kutilang jadi tri li li li li. Bukannya yang benar adalah cuit…cuit…cit. Yang tri li li li li itu mungkin suara Agnes Monica yang sedang menyanyi di Tra la la tri li li (acaranya dia dulu).
Mendengar itu, Um-Um Surum Um cengengesan lagi. Sialan pikir saya. Kenapa dia cengengesan. Padahal saya sedang membahas dengan ilmiah begini. Demi membuktikan keilmiahan saya, saya buktikan lagi dengan lagu-lagu lainnya. Lagu Ibu Kita Kartini (Ibu kita Kartini…putri sejati.. putri Indonesia.. harum namanya…) adalah lagu pembodohan begitu saya bilang padanya kemudian. Masa sudah tahu namanya Harum eh masih dibilang Kartini. Bukannya itu pembohongan yang begitu jelas. Begitu juga dengan lagu Bintang Kecil (Bintang kecil dilangit yg biru…). Saya suruh saja Um-Um Surum Um melihat keluar jendela. Lantas bertanya apakah warna langit diatas itu biru. Saya ulang sampai tiga kali pertanyaan itu. Dan saya yakin semua orang termasuk Um-Um Surum Um akan menyangkal akan penyataan di lagu itu. Sebab langit diluar sana berwarna gelap aka hitam. Bukan biru.
“Hehehe…. Iya ya?”
“Iya.. Iya terus ah dari tadi” kata saya. (Padahal maksud saya ayo dong pikirkan lagi lagu apa lagi yang dilarang. Sudah cukup semaput nih mencari alasan-alasan biar masuk akal)
“Naik Delman juga tidak boleh” ujar saya lagi.
“Kenapa?”
“ Itu lagu mengajarkan anak tidak sopan kepada orang lain” jawab saya, ” …Pada hari minggu ku turut ayah ke kota.. naik delman istimewa ku duduk di muka.. Nah muka siapa tuh yang diduduki? Muka ayahnya atau kusir delman?”
“Hahaha……”
“Nina Bobo juga sama”
“Nina Bobo kenapa?”
“Nina Bobo mengajarkan anak hidup penuh ancaman. Hidup dalam naungan teror. Hidup untuk memusuhi ciptaan Allah”
“Hah?”
“Dengarkan nih! Nina bobo.. ooh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk” saya berdendang, “ Nyamuk dicap teroris setiap hari. Padahal Allah menciptakannya tentu ada gunanya. Bukan semata-mata menjadi teroris buat manusia setiap malamnya”
“Hehehe… Ah ada-ada aja”
“Ya harus diada-adain atuh!”
“Apalagi?”
“Lagu Cakul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
“Itu kenapa?”
“Itu lagu yang mengajarkan anak agar menjadi orang yang lebay, bodoh, dan tidak efektif & tidak efisien. Lha wong mau menanam jagung kok mencangkulnya dalam-dalam. Memangnya mau bikin sumur. Kuburan juga paling satu meter tidak perlu dalam-dalam sekali?”
“Hehehe… “
“Hehehe…” Revo ikutan ketawa melihat Um-Um Surum Um cengengesan dari tadi.
“Eh, si Eneng siga nu ngartos wae (Ih si Eneng seperti yang mengerti saja)” kata saya,”Eneng ngartos? (Eneng mengerti?)”
“Manyun…manyun… muachhh” Revo malah me-manyun-kan (memajukan) bibirnya lalu mencium si Cobo boneka beruang nya yang segede alaihim gambreng itu.
“Nih ada lagi!” kata saya, “Lagu Aku seorang kapiten!”
“Memangnya kenapa lagu itu?”
“Lagu ini mendidik anak menjadi penjajah yang tidak konsisten. Sekaligus mengajarkan Revo menjadi tomboy”
“Alasannya?”
“Lagu itu kan lagunya anak laki-laki. Nah klo si Eneng diajarkan lagu itu. Nanti dia malah main pedang-pedangan. Bukan boneka atau masak-masakan. Tomboy lah sudah dirinya. Beruntung kalau cuma tomboy saja. Kalau jadi aktivis kesetaraan gender yang feminis bagaimana coba?”
“Hehehe… Terus…terus???”
“Lagu ini juga tidak konsisten. Kalau misal ingin cerita tentang sepatunya seharusnya menyanyi begini…Aku seorang kapiten… mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang).. kalau berjalan prok..prok.. prok.. Tapi kalau ingin cerita tentang pedangnya, harusnya menyanyinya seperti begini …mempunyai pedang panjang… kalo berjalan srek.. srek.. srek… Benar tidak???”
“Iya… hehehe…”
“Kalau yang menjadi penjajahnya gimana?” Um-Um Surum Um membuat dirinya bagai investigator polisi.
“Ah itu mah gampang. Kapiten kan khas istilah jaman Kompeni begitu. Benar tidak? Pertanyaanya sekarang, kenapa harus Kapiten? Kenapa tidak mujahid atau mujahidah? Coba dengarkan kalau lagunya digubah menjadi seperti ini …Aku seorang Mujahidah… mempunyai pedang panjang… kalau berjalan sret…sret…sret…. Aku Seorang Mujahidah! Lebih pas dan syar’i kan?”
“Hehehe... Bener-bener” Um-Um Surum Um mengiyakan saja. Soalnya kalau tidak mengiyakan percuma baginya. Biasanya kalau tidak mengiyakan selalu akan saya arahkan agar menjadi iya dengan apa kata saya. Jawab iya atau tidak iya menjadi sekedar formalitas baginya sebab jawabannya sudah ada; Iya. Begitulah saya yang telah menjadikan saya bagai penjajah baginya. Tapi tentunya saya bukan penjajah yang semena-mena seperti Tuan Daendels.
“Terus lagu apa atuh kalau begitu yang cocok buat Eneng?” tanya Um-Um Surum Um.
“Sudah dengarkan saja ini!” saya perlihatkan CD Murrotal yang kemudian saya santapkan ke mulut DVD player. Lalu saya seolah-olah menjadi Tuhan dengan menghidupkannya. Murotal pun mulai mengalun dengan indahnya.
“ Aohhhhhhh………” Revo mengangkat kedua tangannya lalu melipatkannya di perut. Hampir mirip dengan orang yang sedang takbiratul ikhram. Setelah itu lalu dia sujud dengan pantat yang ditunggingkan dengan lebaynya. Begitu berulang-ulang. Berulang-ulang. Dan berulang-ulang.
Diposting oleh Begundal Militia di 09.19 2 komentar
Duduklah disini
Duduklah disini bersamaku
Kan kuberikan secarik kertas berisi puisi
yang kau baca sekarang ini
Jakarta, 2009
Tengah malam sambil membungkus kado buat Um-Um Surum-um yang kembali ulang tahun ketika hari sudah menjadi 26 November 2009
Diposting oleh Begundal Militia di 08.47 0 komentar
Upacara Hari Pahlawan

Hari itu sudah menjadi Selasa. Saya tidak lagi upacara bendera. Sengaja saya begitu. Bukan karena tidak ada sebab. Sebab kalau disebab-sebabkan maka akan banyak sebab. Dan saya kira itu memang tidak perlu. Kalau masih dianggap perlu, baca saja buku-buku di Palasari. Itu pasar buku yang ada di Bandung. Naik angkot Buahbatu-Sederhana kalau dari rumah saya. Turun di Jalan Gajah. Jalan sedikit ketemulah dengan banyak penjual buku. Nanti pilih salah satu dari mereka. Lalu tanya sama pedagangnya, ada buku yang bilang nasionalisme ibarat menggigit kemaluan sendiri tidak. Kalau ada beli. Kalau tidak ada, naik lagi angkot Buahbatu-Sederhana ke rumah saya, insyallah nanti saya bajakkan bukunya.
Tapi sumpah, saya sudah sejak SMA dulu paling malas untuk upacara bendera. Makanya setiap pergantian KM (baca; Ketua Murid), setiap itu pula saya melakukan lobby-lobby tingkat tinggi pada pejabat KM baru. Bukan untuk menjilat (ket: sebab saya tahu kalau menjilat mereka rasanya asam. ABG begitu loh!) tapi itu saya sengaja agar saya ditempatkan piket kelas di hari Senin. Hari dimana upacara bendera selalu diselenggarakan, hari dimana yang datang telat dipajang di lapangan upacara, hari dimana anak-anak berlomba berbaris untuk menjadi yang paling belakang, hari dimana pembacaan Pancasila oleh Kepala Sekolah selalu dijadikan gurauan, hari dimana saya selalu datang lebih pagi dari biasanya.
Begitu setiap tahunnya. Selama di kalender masih ada hari Senin, saya konspirasikan agar sayalah mendapatkan kursi empuk petugas piket kelas hari itu. Pokoknya selama Teori Konspirasi masih bisa dijalankan, saya usahakan tidak berupacara. Hingga kemarin akhirnya saya ditanya oleh seorang ibu-ibu di tempat kerja.
“Kok kamu tidak upacara sih?”
“Sudah hobi, Bu” jawab saya sambil cengengesan.
“Hobi kok aneh gitu?”
“Hobi orang kan beda-beda Bu. Namanya juga manusia. Tidak ada yang sama di seluruh dunia ini. Maka wajar saja kan kalau hobinya berbeda-beda”
“Begundal, kamu tidak cinta Indonesia ya?”
“Ya cinta dong, Bu. Jelek-jelek bobrok juga Indonesia tempat saya lahir”
“Cinta apanya? Disuruh upacara saja tidak pernah. Padahal ini kan upacara buat mengenang pahlawan-pahlawan kita”. Kebetulan kemarin tanggal 10 November. Itu hari Pahlawan Indonesia.
‘Yeee… si Ibu mah”
“Yee gimana? Itu tanda kamu tuh gak menghormati pahlawan kita yang berjuang dulu”
“Buat saya mencintai tanah air dan menghormati pahlawan itu tidak perlu hari khusus, Bu”
“Kok begitu?”
“Soalnya cinta dan pahlawan saya luas serta banyak”
“Luas dan banyak gimana?”
“Iya saya tuh cinta Indonesia. Tapi cinta juga Malaysia, cinta Brunei, cinta Thailand, cinta Sudan, cinta Palestina, cinta Sudan, cinta Afghanistan, cinta Chechnya, Cinta Filipina, cinta Spanyol, cinta Arab Saudi” begitu kata saya, “Pahlawan saya tersebar di negeri-negeri tadi. Makanya saya mah cinta semua”
“Banyak amat”
“Harus banyak dong, Bu”
“Lha kok malah harus?”
“Buat saya, yang namanya pahlawan itu ya para mujahidin. Tidak adil dong kalau saya cinta Indonesia dan pahlawan Indonesia saja. Kan mujahidinnya tersebar dimana-mana. Jadi mau tidak mau cinta saya harus luas. Tersebar. Menembus sekat-sekat territorial”
“Agrh… kamu ini ada-ada aja. Cari-cari alasan”
“Ibu ini bagaimana. Justru harusnya Ibu bangga pada saya. Sebab cinta saya begitu luas. Saya berani diadu besar mana cinta mereka yang tadi upacara dengan saya. Mau sebanyak apapun orang upacara, cintanya tidak bisa mengalahkan luasnya cinta saya”
“Luas dari Hongkong!”
“Tidak usah jauh-jauh ke Hongkong, Bu. Disini saja kalau mau mendengarkan saya. Toh, meskipun saya cinta Hongkong, saya belum tentu bisa pergi ke Hongkong. Tidak ada uangnya, Bu”
“Hehehe…” si Ibu tertawa.
“Bu, mari kita berandai-andai. Kalaulah cinta Ibu dan saya dibandingkan, cinta Ibu itu hanyalah rahmatan lil Indonesia. Nah, sedangkan saya rahmatan lil alamin”
“Hehehe…”
“Di negeri apapun kita hidup, mau di Timbuktu atau di Etophia, yang terpenting adalah kita menjadikan diri kita sebagai makhluk yang paling bertaqwa sekaligus cantik (seperti saya, itu dalam hati saya). Makhluk yang berguna bagi dunia karena perbuatan baiknya. Yang semata-mata didasari atas nama Allah dan agamanya”
“Hehehe… iya Pak Ustadz” Si Ibu ketawa sambil menyindir (barangkali)
“Ibu sepakat tidak?”
“Ya sepakat aja sih tapi masa pahlawan di negara orang dihormati juga”
“Namanya juga Mujahidin, Bu. Mau di negeri mana pun ya harus dihormat. Mereka itu generasi terbaik setelah generasinya Rasulullah.”
“Ntar gimana kalau tentara negara kita perang dengan tentara negara lain atau mujahidin versi kamu? Mau kamu anggap mereka pahlawan juga?”
“Bu, yang namanya Mujahidin itu pantang perang dengan sesama muslim. Kan sesama Muslim itu saudara. Innamal mukminuna ikhwah. Lagian tentara atau pahlawan yang benar itu pasti perangnya karena didasari nama Allah semata. Selain itu hendaknya dipertanyakan lagi status ketentaraan dan kepahlawanan mereka. Kecuali kalau konteksnya seperti yang saya bilang tadi, tentara/pahlawan yang rahmatan lil Indonesia atau yang rahmatan lil alamin”
“Serem ah ngobrol ma kamu. Kayak teroris aja”
“Kok teroris sih, Bu? Memangnya kalau saya teroris bagaimana, Bu? Apa wajah imut-imut begini seperti teroris ya?”
“Hehehe…”
“Jadi tidak salah kan kalau saya punya pendapat begitu?”
“Nggak salah sih. Cuman serem aja”
“Biarin ah seram juga. Yang penting saya masih tetap imut. Benar kan, Bu?”
“Terserah kamu deh. Hehehe…”
Diposting oleh Begundal Militia di 06.28 0 komentar
QUIZ RUAR BINASA
Quiz “Kalau Kamu Fesbukan Dengan Obama, Apa yang Akan Kamu Tulis di Wall Dia?”
Sumpah ini quiz beneran. Bukan bohongan. Kalau bohongan, untuk apa saya membohongi ratusan orang yang ada di link saya ini. Bisa-bisa kalau ketahuan berbohong, saya sudah jadi matahari-mataharian di Pos Satpam. Sengaja saya tidak pakai kata “bulan”, sebab matahari lebih besar daripada bulan.
Seandainya saya Bakri, tentu saya akan hadiahi pemenang quiz ini dengan satu buah rumah di Bogor Nirwana Residence (ket: yang tidak tahu tanya Fajarullah). Sayang saya belum sempat seperti dia. Maka untuk ini saya berikan saja T-Shirt bagi pemenang 1, 2, dan 3. Sedangkan pemenang selanjutnya hingga yang ke-10 saya berikan kenang-kenangan dari sponsor saja. Suka tidak suka diterima saja ya. Namanya juga rezeki. Ya kalau tidak menganggap itu rezeki, maka maklumi saja. Namanya juga sponsor.
Aturan main quiz ini sederhana saja. Kawan-kawan seantero dunia yang membaca quiz bombastis ini tinggal membubuhkan itu pendapatnya bila suatu saat ternyata Obama meng-add-mu menjadi temannya. Kawan-kawan mengandaikan akan menulis sesuatu di wall si Obama. Tapi ditulisnya tidak perlu lah di FB Obama yang beneran. Cukup disini atau akan lebih baik kalau mengisi langsung di Grup Quiz Ruar Binasa. Masih dalam jejaring FB. Silakan di klik lnk ini (http://www.facebook.com/pages/Jakarta/Quiz-Ruar-Binasa/173398324294). Atau bisa juga mengisi langsung di blog; www.begundalmilitia88.blogspot.com
Kenapa di kedua link itu? Biar saya tidak capek harus copas ke tim juri (Kepada Fajarullah & M. Angawedhaswara ini penodongan yang tidak bisa ditolak yang menyebabkan kalian tidak terlibat didalamnya). Andai saja tim juri berada dalam satu alamat. Tentunya akan lebih enak. Bisa saling diskusi, protes hingga ngopi bareng. Atau mungkin menggerutu karena beda pendapat ketika memilih pemenang. Sayangnya ternyata tidak.
Dengan berkat rahmat Allah Yang Maha Segalanya, insyallah, quiz ini tidak ada tujuan apapun. Ini hanya quiz untuk menyambut Tahun Baru Islam 1431 H (yang menurut kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009). Tapi kalau diinterpretasikan berbeda ya terserah lah. Itu urusannya langsung ke Allah. Oleh karenanya, quiz ini pun dibatasi masanya. Ia berakhir tepat tanggal 16 Desember 2009 yang bertepatan dengan hari dimana Sidang Umum PBB membatalkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa Zionisme adalah rasisme, hari dimana Soe Hok Gie wafat, hari dimana Kazakhstan merdeka, hari dimana saya patah hati. Agrhh… saya rasa tidak penting. Tapi tetap quiz berakhir 16 Desember 2009 tanpa ada sebab musabab.
NB: Pengumuman juaranya tanggal 18 Desember 2009. Tepat Tahun Baru Islam. Biar di tahun baru, baju pun baru.

PERINGATAN:
DILARANG MENYUAP JURI DIBAWAH 1 MILYAR!!!
Diposting oleh Begundal Militia di 15.17 0 komentar
Ini Bukan Eny Arrow
Menjelang pulang, AA memberi Ra uang 300 dollar AS. AA lalu memeluk Ra dan mengajak bersetubuh. Namun, ajakan ditolak dengan mengatakan, “Lain kali aja Pak,” Tak berhenti sampai di situ, Aa lantas mencium pipi kiri dan pipi kanan.
Pertemuan itu lalu diceritakan Ra kepada Nas. Merasa mempunyai kepentingan, Nas lantas meminta Ra kembali menemui AA. Ia berharap Ra dapat menjadi penghubung dengan AA. Hal ini terkait dengan usaha Nas untuk menjadi direktur BUMN. “Setelah dihubungi, AA bersedia bertemu di tempat yang sama. Selanjutnya, dengan menggunakan taksi, Ra dan Nas menuju Hotel GM. Saat akan menuju kamar, Ra diminta Nas agar mengaktifkan HP supaya bisa mendengar pembicaraan.
Pada saat Ra masuk, AA sudah berada di dalam kamar dan mempersilakan Ra duduk di sofa. Ra kembali meminta AA menjadi member MG, dan juga menanyakan kemungkinan “kerabat”-nya (Nas) menjadi Direktur BUMN. Di sela pembicaraan, AA meminta Ra memijat punggungnya. Pada saat sedang dipijat, AA membalikkan tubuh lalu mencium pipi, bibir, membuka kancing baju dan menurunkan bra sebelah kiri sambil berkata ‘katanya pertemuan selanjutnya kamu mau kan’.
Ajakan tersebut kembali ditolak Ra. Karena takut terdengar korban, Ra kemudian mematikan telepon seluler. Meskipun ditolak, AA masih terus menjamah tubuh Ra dan meminta Ra memegang alat kelamin AA hingga mengeluarkan sperma. Sebelum pulang, AA memberikan uang sebesar 500 dollar AS.
Ketika akan keluar kamar, tiba-tiba Nas masuk dan marah sambil berkata kepada AA, “Mengapa Bapak bertemu dengan istri saya di sini dan apa yang Bapak lakukan terhadap istri saya? Kemudian Nas menampar pipi Ra. Mendengar kemarahan Nas, AA
memohon, “JANGAN PAK, SAYA MASIH INGIN MEMPERBAIKI NEGARA”
Ini bukan kutikan stensilan Eny Arrow. Bukan pula dukungan buat orang yang terlibat di dalam tulisan. Ini hanya saya ingin saja. Ingin pajang-pajang disini. Ingin biar rileks. Ingin tidak dianggap pornografi. Tapi intinya sih ingin menyebarkan bahwa memperbaiki negara tidak perlu capai-capai masuk parlemen. Cukup hanya dengan pintar menurunkan bra, maka anda sudah menjadi pahlawan di negeri ini. Asoyyyyy………………
Diposting oleh Begundal Militia di 06.55 0 komentar
Fatamorgana Pulihnya Ekonomi Global

Pendahuluan
Pada peringatan 60 tahun Great Depression, Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan Amerika Serikat mempublikasikan perhitungan bahwa PDB ekonomi AS mulai tumbuh setelah selama empat catur wulan mengalami penurunan. Jika ini benar, maka ini adalah pertumbuhan pertama perekonomian AS selama satu tahun ini. Amerika Serikat bergabung dengan ekonomi terkemuka lain seperti Jepang, Cina, Jerman, dan Perancis yang tampaknya mulai bangkit dari resesi dan terhindar dari kolaps. Beberapa pihak berpendapat bahwa ini merupakan pertanda berakhirnya ‘resesi besar’ dan kembalinya era pertumbuhan ekonomi.
Untuk menilai kebenaran pendapat ini, kita perlu melihat kembali faktor-faktor penyebab resesi dan menganalisanya, apakah faktor-faktor tersebut masih ada atau apakah faktor-faktor tersebut telah digantikan oleh kondisi-kondisi ekonomi yang akan membawa pertumbuhan baru yang lebih dapat dipertahankan dan berkelanjutan.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara Barat pada dekade terakhir ini digerakkan oleh gelembung ekonomi sektor (pembiayaan) properti/real-estate yang menstimulasi perekonomian negara Barat lainnya. Gelembung tersebut mencapai proporsi yang sangat luar biasa besar, karena bank-bank berhasil menciptakan beragam produk keuangan yang dimunculkan dari utang properti (KPR) untuk kemudian dijaminkan dan dijual kepada bank-bank lain. Rupanya, laku kerasnya jualan baru itu dikarenakan adanya asumsi bahwa gelembung ekonomi sektor properti dan pembiayaannya akan terus berkembang.
Kenyataannya, pada bulan April 2007 perusahaan hipotek kategori sub prima (KPR bagi kalangan tak mampu) – New Century Inc – kolaps. Diikuti dengan jatuhnya Northern Rock pada bulan Februari 2008, lalu AIG, Lehman Brothers, dan bank-bank besar lainnya. Jatuhnya berbagai bank dan hedge fund properti menunjukkan kepada kita bahwa pertumbuhan/boom ekonomi pada dekade terakhir bukanlah boom ekonomi yang sustainable. Ia juga menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut dibangun berdasarkan asumsi liar bahwa harga properti akan terus menerus naik. Asumsi tersebut saat ini terbukti salah, harga properti justru semakin jatuh, karena banyak rumah yang terpaksa harus dilelang bank akibat pemilik hipoteknya gagal bayar. Terungkap sudah adanya lubang besar dalam praktek bank-bank besar dunia dalam menyalurkan utang.
Banyak bank yang seenaknya saja mengucurkan utang demi mengejar target dan bonus tahunan. Praktek tidak bertanggung jawab ini menyebabkan mereka ‘terpaksa’ melakukan write-off (pembatalan utang) terhadap puluhan trilyun utang, karena banyak yang wanprestasi (default/ Non Performing Loan). Hal ini mengakibatkan penghentian tiba-tiba kegiatan inti (sekaligus cashflow) perbankan, yakni mencari dana pihak ketiga dari nasabah dan meminjamkannya kepada beragam permohonan pembiayaan bisnis dan proyek. Oleh sebab itulah krisis yang sejatinya berada di ranah keuangan / moneter dapat berpengaruh kepada ranah ekonomi riil, di mana produksi turun, perusahaan bangkrut, dan pengangguran meningkat. Seperti itulah bangunan perekonomian Barat yang pada dekade terakhir digerakkan oleh sektor properti (utang hipotek).
Demi mencegah kehancuran perekonomian mereka lebih lanjut, pemerintahan negara-negara Barat melakukan intervensi dalam skala yang luar biasa besar. Gagasan tersebut muncul dari prediksi bahwa jika ada banyak orang yang tidak dapat melakukan konsumsi yang dapat merangsang kegiatan ekonomi, maka negara dipandang perlu untuk menyediakan uang yang dibutuhkan untuk merangsang ekonomi itu sendiri dan pada akhirnya akan mengembalikan kepercayaan diri serta mulai nmenggerakkan roda ekonomi. Dalam hal krisis yang sedang terjadi saat ini, pemerintahan negara-negara Barat mengambil tiga pendekatan penyelamatan, yakni nasionalisasi, paket stimulus, dan pencetakan uang baru.
Menganalisis Aksi Pemulihan Ekonomi
Banyak ekonom dan pembuat kebijakan yang berpendapat bahwa perekonomian negara-negara besar telah menunjukkan pertumbuhannya antara bulan April dan Juni 2009, dan hal ini menandai berakhirnya ‘resesi besar’.
Selama resesi, Jerman kehilangan 6,7% pendapatan nasionalnya. Jerman adalah jantung industri manufaktur di Eropa. Dalam menumbuhkan ekonominya, ia sangat bergantung kepada ekspor. Jadi, masalah terbesar baginya adalah jatuhnya tingkat perdagangan global, yang tahun ini oleh WTO diprediksikan menurun 10%. Meski demikian, kebijakan populis Kanselir Angela Merkel dan kesepakatannya dengan Russia untuk memasok kendaraan pabrikan Jerman menunjukkan bahwa pulihnya ekonomi Jerman didasarkan kepada adanya faktor-faktor temporer dan bukan perbaikan fundamental ekonomi mereka. Pada bulan Februari 2009, pemerintah Jerman menyetujui rencana paket stimulus senilai Euro 50 milyar. Mereka juga menerapkan Program Pembuangan Mobil pada bulan Februari 2009, di mana para pemiliknya akan menerima insentif tunai untuk pembelian mobil baru sehingga dapat memulihkan industri mobil yang sedang sekarat. Program ini dianggap berhasil, dengan peserta mencapai lebih dari 1,7 juta orang
Semenjak masa puncak resesi hingga saat ini, penurunan pendapatan Perancis adalah 3,5%. Pemerintah Perancis mengumumkan prakarsa senilai Euro 26 milyar yang didesain untuk merevitalisasi ekonomi. Perancis dan Jerman telah keluar dari resesi karena sektor keuangan hanya sebagian kecil komponen dalam perekonomian mereka.
Penurunan total yang cukup telak menimpa Jepang dengan angka 8,4%. Kebijakan stimulus pemerintah yang mencapai USD 260 milyar telah membantu penggelembungan kembali ekonomi. Termasuk dalam paket stimulus tersebut adalah pemberian uang tunai dan subsidi untuk membeli peralatan rumah tangga dan kendaraan yang hemat energi.
Jika benar bahwa AS telah keluar dari resesi, maka total penurunan pendapatannya adalah 3,7%. Data PDB tiga perempat tahun 2009 menunjukkan bahwa memang ada kenaikan penjualatan ritel bulanan sebesar 2,2% selama bulan Agustus lalu, yang merupakan kenaikan prosentase terbesar semenjak bulan Januari 2006. Tapi sesungguhnya kenaikan tersebut digerakkan terutama oleh kenaikan 11,6% kenaikan penjualan mobil, yang merupakan dampak langsung dari Program Cash for Clunker (sama seperti Program Pembuangan Mobil di Jerman). Ketika program tersebut selesai, penjualan ritel justru jatuh 1,5% pada bulan September.
Paket Stimulus = Menyelesaikan Masalah?
Pada puncak krisis ekonomi banyak negara Barat yang mengembangkan paket stimulus dalam rangka menyelamatkan ekonomi mereka dari kejatuhan. Stimulus paling terkenal adalah paket USD 1,2 Trilyun pada tahun 2008. Tapi harus disadari bahwa stimulus adalah semacam minuman penambah energi atau doping yang berdampak sementara. Ia didesain untuk menstarter ekonomi yang mogok, bukan menjadi bahan bakar yang dapat menumbuhkan ekonomi secara berkelanjutan.
Oleh karena itu, pertumbuhan yang saat ini terjadi di beberapa negara sesungguhnya adalah hasil yang diinflasi. Disebut diinflasi karena ia muncul sebagai dampak dari aksi stimulus yang bersifat sementara. Prakarsa pemerintah seperti Program Pembuangan Mobil yang banyak ditemui di negara-negara Barat, pengurangan PPN di Inggris dan pajak pembelian rumah pertama di AS dan Perancis berkontribusi masing-masing sekitar 1% dan 0,5% terhadap porsi total kenaikan PDB yang terkait penjualan kendaraan bermotor dan investasi perumahan. Manakala program-program tersebut berakhir, maka berakhir pula kontribusinya terhadap ekonomi.
Terkait ‘berakhirnya’ resesi ini, ekonom dari IHS Global Insight, Brian Bethune berpendapat: “Mendapati perekonomian tumbuh kembali adalah hal baik, tapi kami tidak berpandangna bahwa tingkat pertumbuhan ini dapat berkelanjutan karena ia telah didistorsi oleh segala macam stimulus pemerintah. Tantangannya di sini adalah mendapatkan pertumbuhan organis, pertumbuhan yang tidak dibantu oleh steroid/doping fiskal.”
Salah satu bukti dari betapa tidak fundamentalnya pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pengangguran yang masih 9,8% di AS sendiri, atau sekitar 15 juta pengangguran.
Saat melihat pertumbuhan dari segi kualitas, banyak sekali faktor-faktor ekonomi yang sesungguhnya temporer dan tidak dikendalikan oleh faktor-faktor yang dipandang sustainable. Dana Saporta, ekonom dari Stone&McCarthy Research di Skillman, New Jersey menguatkan hal ini: “Kebanyakan kekuatan ekonomi AS dibangun oleh faktor-faktor temporer seperti prakarsa stimulus fiskal seperti kredit pembelian rumah tinggal.” Justru pada kenyataannya bantuan yang disediakan pemerintah di seluruh muka bumi menunjukkan pentingnya bantuan pemerintah dalam pemulihan ekonomi tahap awal, yang jika ia dihilangkan maka sangat mungkin ekonomi Barat akan jatuh menuju resesi lagi. Dan ini sepertinya kemungkinan yang akan terjadi, jika tidak boleh dikatakan akhirnya pasti terjadi, karena pemerintah tidak akan mampu terus menerus memberikan paket bantuan stimulus yang mahal.
Paket stimulus telah mendorong pertumbuhan yang artifisial/palsu. Sekali saja negara-negara Barat melepaskan dirinya dari upaya bantuan pemulihan ekonomi yang telah mereka sediakan, maka kita perlu melihat kembali apakah pasar bebas benar-benar dapat berfungsi secara mandiri. Dengan semakin dekatnya musim belanja yang datang (Haji, Kurban, Natal, Libur akhir tahun), kuartal akhir tahun ini akan menunjukkan angka yang baik terhadap aktivitas konsumsi yang tidak distimulasi. Namun, dengan tingkat pengangguran yang sedang memuncak, produksi nasional yang masih prematur dan utang yang masih tinggi, tumbuhnya pendapatan pada kuartal akhir ini sangat banyak dipengaruhi oleh aksi stimulus pemerintah, dan oleh karenanya ia sangat mungkin merupakan pertumbuhan yang diinflasi dan tidak berkelanjutan.
Simpulan
Sementara AS sebagai ekonomi terbesar dunia sepertinya mulai keluar dari resesi, ekonominya tetap bergantung kepada belanja konsumen (tingkat konsumsi). Ini dapat diketahui dari porsinya yang sekitar 70% dari PDB. Sementara ekspor hanya memperoleh porsi 11% dalam konstruksi ekonomi AS. Maka tingkat belanja konsumsi yang berkelanjutan adalah hal yang esensial bagi AS. Sayangnya, saat ini tingkat konsumsi di AS masih belum menunjukkan adanya sinyal perbaikan.
Bantuan yang diberikan oleh Dunia Kapitalis tidak akan pernah benar-benar menyentuh permasalahan ekonomi yang mendasar, yakni pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, tingkat konsumsi yang digerakkan oleh utang, sektor keuangan model kasino/judi, dan pertumbuhan ekonomi balon (bubble economies). Yang dapat dilakukan oleh paket-paket stimulus tersebut hanyalah untuk menjaga Ekonomi Kapitalis mengambang meski pengangguran, pengambilalihan aset, dan kebangkrutan tetap ‘meraja-lela.’
Jadi meski secara statistik Ekonomi Kapitalis ‘mungkin’ telah keluar dari resesi, kenyataannya yang membumi sangatlah berbeda. Intervensi a la Sosialisme oleh Pemerintahan Kapitalis telah berhasil menunda sementara kejatuhan ekonomi. Namun, sekali saja seluruh prakarsa temporer tersebut ditarik dari ‘pasar bebas,’ maka pasar sepertinya sangat tidak mungkin bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Oleh karenanya, ekonomi dunia secara riil masihlah sama kondisinya dengan posisi tahun lalu.
Sungguh malang. Pada saat mayoritas masyarakat Kapitalis menghadapi prospek pengangguran dan pengambil-alihan aset yang semakin muram, mereka tidak akan mendapatkan kembali sedekah pemerintah untuk memudahkan situasi yang sedang mereka hadapi. Berita akhir-akhir ini mengenai pemberian bonus besar-besaran oleh bank-bank besar dunia kepada pihak manajemen, menunjukkan kepada kita kemana saja sesungguhnya paket bail-out (dana talangan) tersebut disalurkan. Fakta di atas juga menegaskan bahwa sesungguhnya perjanjian yang dibuat di KTT G20 yang lalu hanyalah untuk konsumsi publik (katanya, demi mengembalikan kepercayaan ‘pasar’ terhadap kondisi masa depan). Kenyataannya, hingga saat ini pemerintah negara-negara Barat tidak ada yang membuat aturan /keputusan hukum tentang penghentian pemberian bonus.
Memang kondisi ekonomi dunia tidak menjadi semakin buruk, namun pengangguran tetap tinggi, dan tingkat konsumsi masih rendah dalam kaitannya untuk mempertahankan pemulihan ekonomi. Prediksi terbaik atas beberapa ekonomi besar dunia, dalam hal pertumbuhan kuartal akhir ini, adalah pertumbuhan yang prematur. Sementara fundamental ekonomi yang sangat mendasar masih tenggelam dan belum pula muncul ke permukaan. Oleh karenanya, bolehlah kita katakan bahwa pulihnya ekonomi saat ini hanyalah fatamorgana.
[disadur oleh Rizki S. Saputro dari tulisan Adnan Khan di www.khilafah.com]
Diposting oleh Begundal Militia di 06.52 0 komentar


